Sabtu, 31 Agustus 2013

Mawar 30 Agustus 2013


29 Agustus 2013

‘Cukup sudah!! Sampai kapanpun kau tidak akan mengerti!”. Hera menutup pintu kamarnya dengan keras. Suami Hera, Radith hanya bisa terpaku di depan pintu kamar dan menangis. Ini pertengkaran kesekian kalinya sejak lima tahun usia pernikahan mereka. Pemicu masalah selalu sama, yaitu Radith hanya ingin Hera berhenti bekerja. Ini merupakan masalah yang sangat klise tapi mereka berdua tidak pernah dapat benar-benar menyelesaikannya. Radith masih berdiri di depan pintu tanpa berkata apapun. Jam menunjukkan pukul satu pagi dan Sarah anak mereka yang berusia tiga tahun sedang tertidur lelap.
“Hera, kau dengar aku?”. Kata Radith dari depan pintu kamar namun Hera tidak menjawab.
“Baiklah aku anggap kau mendengarku. Dengar, besok aku akan membawa sarah bersamaku ke rumah orang tuaku. Maaf bukannya aku tidak percaya lagi padamu tapi aku rasa Sarah akan merasa lebih baik jika ia ku titipkan di sana untuk sementara. Aku juga akan tinggal di sana. Dan untuk pekerjaanmu, lakukanlah sampai kapanpun kau mau. Aku sudah tidak peduli lagi”. Usai mengatakan hal itu Radith segera pergi. Dugaan Radith benar, Hera memang mendengar ucapannya. Kini Hera hanya bisa menangis.

***
30 Agustus 2013

Radith tengah mempersiapkan pakaian Sarah yang akan dibawa ke rumah Ibunya. Sarah yang masih berusia tiga tahun sedang asyik menonton acara televisi kesukaannya sambil meminum susu coklat.
“Jangan bawa Sarah pergi”. Tetiba Hera keluar dari kamar.
“Terlambat, ini sudah aku putuskan”. Radith tidak menatap Hera sedikitpun. Ia fokus merapikan barang-barang yang hendak ia bawa. Persiapan selesai. Radith menghampiri Sarah dan segera menggendongnya. Dengan koper yang ia tarik dengan tangan kirinya, Radith berjalan keluar rumah.
“Aku akan berhenti kerja”. Hera berteriak dan berhasil menghentikan langkah Radith.
Namun Radith lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Hera. Ia tetap berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
“Radith, kumohon. Jangan pisahkan aku dengan Sarah. Jika kau ingin aku berhenti kerja, baiklah aku akan berhenti. Asalkan Sarah tetap bersamaku. Kumohon jangan pergi”. Hera menangis di depan pintu mobil Radith. Sedangkan Radith hanya menatap Hera dengan tatapan sinis seolah mengatakan semuanya sudah terlambat. Tanpa berkata sedikitpun, Radith menyalakan mesin mobil dan segera melaju dengan cepat. Melihat hal itu Hera hanya terduduk di tepi jalan sambil menangis.
Hera kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah yang gontai. Seharian ia tidak bernafsu untuk makan. Bahkan hari ini ia pun tidak berangkat kerja seperti biasanya. Hera adalah seorang wanita karir yang sangat sukses. Sebelum menikah karirnya pun sudah sukses. Bahkan melebihi kesuksesan Radith. Setelah menikah orientasi Hera tetap pada karir. Di awal pernikahan, Hera meminta pada Radith untuk menunda memiliki anak. Radith pun menuruti keinginan istrinya tersebut hingga akhirnya selama dua tahun mereka tidak memiliki anak. Setelah dua tahun Radith merasa merindukan adanya sang buah hati. Akhirnya lahirlah Sarah ke dunia ini. Namun kehadiran Sarah sepertinya tidak membuat keluarga ini bahagia. Lebih tepatnya hanya Radith yang bahagia. Tapi Hera?? Ia merasa tersiksa. Bagi Hera, Sarah hanya mempersempit ruang geraknya. Hera menjadi tidak bisa fokus pada karir. Itulah sebabnya Hera menjadi lebih sering meninggalkan Sarah dengan pembantu di rumah demi pekerjaannya. Demi karirnya yang cemerlang. Hera tidak pernah menyadari bahwa tingkahnya itu membuat Radith sangat kecewa. Hari ini kekecewaan Radith pada Hera sudah sampai pada puncaknya. Tidak ada pilihan lain selain berpisah dan membawa Sarah pergi bersamanya. Untuk saat ini, itulah jalan terbaik bagi Radith.

Hera merasa bodoh jika hanya terdiam di rumah meratapi kepergian suami dan anaknya. Sore ini Hera akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Radith. Tujuannya hanya satu, meminta keluarganya itu untuk kembali. Dengan cepat Hera melajukan mobilnya. Pandangan Hera terhenti pada sebuah toko bunga di tepi jalan. Hera melambatkan laju mobilnya kemudian berhenti tepat di depan toko bunga itu. Hera keluar dari mobil menghampiri deretan bunga mawar yang dipajang pada bagian depan toko.
“Ingin membeli mawar yang mana mbak?”. Tanya seorang wanita penjual bunga kira-kira seusia dengan Hera.
“Ehmm aku mau yang ini”. Hera menunjuk pada buket yang berisi mawar merah.
“Mawar merah? Pilihan yang bagus”. Kata wanita penjual bunga sambil tersenyum.
“Memang bagus. Itu adalah mawar kesukaan suamiku”. Hera mengambil dompet dari dalam tasnya.
“Wah suami anda sedang ulang tahun ya? Romantis sekali dibelikan mawar”. Wanita penjual bunga tersenyum lebar.
“Ah tidak, ada sesuatu yang harus kuselesaikan”. Hera berusaha tersenyum meskipun kini ekspresi wajahnya terlihat sedih.
“Maaf mba jika saya lancang”. Wanita penjual bunga menyadari ucapannya salah.
“Tidak apa-apa. Oiya jika boleh tahu, mengapa anda hanya menjual mawar? Sejak tadi kulihat tidak ada bunga lain di toko ini”. Hera melihat ke sekeliling.
“Oh itu… Membuka toko mawar adalah impian aku dengan suamiku. Tidak boleh ada bunga lain yang dijual di sini selain mawar”.
“Impian yang sangat menarik. Aku dan suamiku juga mempunyai mimpi tentang mawar. Setelah menikah akan membuat taman mawar yang luas di halaman rumah. Dan tentunya didominasi dengan mawar merah kesukaannya itu. Sayangnya hingga hari ini impian itu belum juga terwujud. Dan kurasa ini salahku”. Hera bercerita.
“Setidaknya anda masih punya waktu untuk mewujudkannya bersama suami anda”. Wanita penjual bunga itu tertunduk.
“Maksudnya?”. Hera merasa heran
“Toko bunga mawar ini baru bisa aku buka setelah suamiku meninggal. Kami tidak sempat mewujudkannya bersama-sama”.
 “Ma..maaf harusnya aku tidak membahas ini”.
“Tidak apa-apa. Oiya ini mawar merah yang anda mau”. Wanita penjual bunga itu menyerahkan mawar pada Hera sambil tersenyum. Hera membayar mawar itu dan segera menuju mobilnya.
Wanita penjual bunga menghampiri Hera.
“Semoga impian anda dan suami anda terwujud”. Mendengar hal itu Hera hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan.
“Aku tidak yakin masih punya waktu untuk mewujudkannya bersama suamiku”. Kata Hera dalam hati.

***
“Hallo selamat sore, benar ini dengan Pak Radith?”. Ucap seorang pria dari seberang telepon.
“Iya benar, siapa ini?”.
“Kami dari kepolisian. Istri anda yang bernama Hera Ferdiana mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal di TKP.


Setibanya di kantor polisi…….
“Pak Radith, kami menemukan ini di mobil istri anda. Kelihatannya ini memang untuk anda”. Polisi berkumis menyerahkan buket bunga mawar merah pada Radith. Di dalam buket itu terdapat secarik surat.

“Radith, maafkan aku. Mungkin kau bosan mendengar ucapan maaf dariku. Tapi, aku bisa pastikan ini adalah ucapan maaf terakhir dariku. Jika kau memaafkanku, aku kan berusaha menjadi istri yang baik bagimu. Dan yang terpenting aku akan menjadi ibu yang baik bagi Sarah. Oiya, anggap saja mawar merah ini sebagai ucapan maaf dariku. Aku baru sadar sudah hampir lima tahun aku tidak pernah memberimu mawar merah. Bahkan keegoisanku membuat mimpi kita tentang membuat taman mawar terbengkalai. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu bersamamu dan juga Sarah. Maafkan aku”.
                                                                                                Dari istri yang selalu mencintaimu, Hera.

Radith menangis sambil memeluk Sarah yang tengah berada dalam gendongannya.

The End

Aku akan memberikan kesempatan, namun nyatanya kau yang tidak memberikanku kesempatan. Bahkan kau tidak memberikanku kesempatan untuk berkata "iya aku maafkan" di detik-detik terakhirmu.
(Radith)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar