Sabtu, 21 Desember 2013

Secarik Surat dari Ibu di Hari Ibu

Just imagine that................

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku mendengar tangisan pertamamu di dalam gendonganku. Tapi sekarang, jangankan untuk menggendong, tinggi tubuhmu pun melebihi aku. Mungkin cinta yang membuat semuanya berlalu begitu saja. Atau mungkin ada yang aku lewatkan? Entahlah
Hari ini, aku melihatmu pergi untuk melakukan aktifitasmu seperti biasa. Sebelum pergi kau cium tangan dan kedua pipiku. sambil tersenyum kau berbisik pelan di telingaku "Doakan aku". Ah lagi-lagi aku berpikir rasanya baru kemarin ayahmu mengumandangkan adzan di telingamu.
Tunggu, tadi kau bilang apa? Doakan aku?
Anakku, hari ini kau tersenyum tidak seriang biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang kau takutkan. Ada apa? Apa yang harus aku doakan untukmu?

Aku tahu kau bukan lagi anak berusia 1 tahun yang bisa menangis sepuasmu di depanku. Tapi, tidak bisakah kau percaya padaku untuk menjadi tempat curahan hatimu? Jujur saja, sepertinya aku merasa kehilangan dirimu. Tidakkah kau ingat kata-kata pertamamu di dunia ini adalah "Mama"?? Tidakkah kau ingat betapa bahagianya aku ketika mendengar sebutan itu dari bibir mungilmu? Dulu, jika kau menangis, aku tahu bahwa kau sedang lapar. Aku tahu apa yang kau inginkan meskipun tidak kau katakan. Aku selalu tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi itu dulu. Ketika komunikasi andalanmu hanya berupa tangisan dan senyuman.
Sekarang?? Aku tidak bisa memahami apa arti senyumanmu ketika matamu terpaku di depan layar laptop atau handphone. Aku tidak mengerti apa yang kau tangisi sendirian di kamarmu. Aku hanya bisa mengintipmu menangis dari balik pintu kamarmu berharap kau melihat kehadiranku dan datang memelukku lalu menceritakan semua masalahmu padaku. Tapi, sepertinya itu tidak pernah terjadi.

Annakku, apa yang terjadi? Sepertinya kesibukkanmu mengalahkan kesibukanku. Aku benarkan? Aku merasa kau tidak lagi punya waktu untukku. Setidaknya hanya untuk bercengkrama di rumah, menonton televisi bersama, masak makanan kesukaanmu bersama-sama, dan masih banyak hal lainnya yang dulu sering kita lakukan bersama. Aku heran, sepertinya aku telah mendesain kamarmu menjadi ruangan yang begitu nyaman sehingga kau lebih betah di sana daripada ke ruang tamu duduk bersamaku. Hmmm ini salahku, bukan salahmu. Harusnya kubuat kamarmu tidak senyaman itu. Atau bolehkah aku sedikit menyalahkanmu?? Ah tidak, aku tidak mau. Kau pasti punya alasan melakukan itu semua. Tugas kuliahmu banyak kan? Kau sibuk belajar kan? Dan kamar adalah tempat yang bisa membuat konsentrasimu penuh, iya kan? Aku memaklumi itu. Tidak apa-apa anakku, belajarlah di kamarmu selama apapun yang kau mau agar konsentrasimu tidak terganggu. Tapi.... kadang aku juga merasa kau terlalu betah di kampus daripada di rumah. Ada apa? Oohh jadwal kuliahmu pasti padat yah? Kau sibuk organisasi kan agar dirimu terlatih menjadi orang yang pandai dalam berbicara dan memiliki pengalaman yang banyak, kau pasti jadi orang penting di kampus, teman-temanmu pasti banyak ya sehingga kau harus membagi-bagi waktu untuk berdiskusi dengan mereka dan akhirnya kau selalu pulang ke rumah larut malam. Begitu rutinitasmu, pergi pagi pulang malam. Ah aku sangat sangat memaklumi itu anakku. Kau sedang membangun kehidupanmu sendiri menuju hidup yang lebih baik, mana boleh aku melarangmu. Iya kan? Aku benarkan?

Annaku, kesabaranku ini memang ada batasnya. Namun khusus untukmu aku hapus hingga bersih batas itu. Apapun yang kau lakukan selama itu baik untuk masa depanmu, aku akan mendukungmu.
Aku hanya minta satu hal padamu, jika hari-hari biasa kau tidak bisa selalu bersamaku, bisakah satu hari saja dalam satu tahun yang orang-orang sebut "Hari Ibu" ini kau ada bersamaku?? Sekali saja dalam setahun, bisakah kau lupakan sejenak tugas-tugas kuliahmu, organisasimu dan teman-temanmu hanya untuk menghabiskan waktu bersamaku? Sekali saja, Nak..... Aku tidak akan meminta lebih.

Dari Ibu yang selalu menyayangimu
"Jika bagimu Hari Ibu hanya datang pada 22 Desember, bagiku Hari Anak datang setiap hari"
Ah tidak, tapi setiap detik.