Minggu, 25 Agustus 2013

Bahagia Itu Sederhana #DesaInspiratifMIPA2013

Perjalanan ini tentang pengabdian, kebersamaan, persahabatan, kepedulian, keceriaan, kegigihan dan cinta antar sesama.


Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah sebuah guratan senyum dari bibir mungil anak-anak di Desa Kebun Cau. Mereka, kecil namun menginspirasi. Mereka bukan anak-anak dengan gadget mewah di tangannya, bukan juga anak-anak yang dikelilingi oleh kemewahan materi. Mereka hanyalah anak-anak kecil yang dengan kenakalan dan kepolosannya hidup di sebuah desa yang nun jauh di Lebak, Banten sana dengan sejuta cita-cita di hatinya. Itulah mereka. Sebut saja Iman, yang bercita-cita menjadi seorang presiden meskipun dengan kondisi sekolah yang jauh dari kata layak. Dengan lantang ia berkata "Panggil aku presiden". Entah ia terlalu polos atau apa, yang jelas kata-katanya membuat hati ini bergetar. Cita-cita sehebat itu berada di tempat seperti ini. Tempat seperti apa? Kalian  pasti pernah menonton film Laskar Pelangi kan? Kira-kira seperti itulah kondisinya. Sekolah di daerah Nangerang ini hanya berdinding bilik dan tidak berlantaikan keramik. Sekolah ini hanya memiliki dua kelas dengan kondisi bangku dan meja yang memprihatinkan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas sekarang. Itulah hanyalah sedikit gambaran mengenai seperti apa tempat mereka belajar. Terlepas dari semua keterbatasan yang ada, mereka tetap bangkit. Mereka tetap memiliki semangat sekolah yang tinggi meskipun harus menempuh jalan yang jauh menanjak serta berbatu untuk sampai ke sekolah. Kaki-kaki mungil mereka tetap melangkah sambil tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada kami yang menyapanya. Tidak terlihat rasa lelah di raut wajah mungil polos mereka. Anak-anak itu menyambut kami dengan baik. Menyambut kehadiran kami dengan gembira. Tak ragu untuk bermain, bercanda, tertawa, dan belajar bersama kami. Banyak hal yang kami ajarkan, namun banyak juga yang mereka ajarkan kepada kami. Dan ilmu yang mereka ajarkan tidak bisa dibeli di sekolah manapun apalagi di toko bagus dot com. Ilmu ini hanya bisa didapat dengan cara terjun langsung di masyarakat. Mengabdi ke suatu tempat yang jauh dari perhatian masyarakat luar. Bahkan ilmu ini tidak bisa dideskripsikan, mungkin juga ilmu ini hanya akan dimengerti bagi yang menjalankan. Rasanya seperti memiliki adik-adik baru. 

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah mentari pagi yang selalu mengintip dari balik bukit dan dengan cepat merayap naik memancarkan sinarnya. Keindahan ini tidak bisa kami nikmati setiap hari di kota. Tapi di sini, keindahan itu terasa nyata. Warna jingga dan kehangatan mentari pagi dilengkapi dengan udara nan sejuk membuat hati ini lebih bersyukur atas ciptaan-Nya. Di Desa yang bersahaja ini, kami masih diberikan kesempatan untuk melihat kerbau, sapi, dan kambing yang berkeliaran bebas. Mata kami dimanjakan dengan kambing-kambing yang berlarian kemudian asyik memakan rumput di tepi jalan. Telinga kami dihibur dengan suara jangkrik yang saling bersahutan setiap malam. Sesekali suara tokek berbunyi di salah satu rumah warga. Suasanya sepi nan asri dari desa ini membuat nyayian alam itu terdengar sangat jelas. Sungguh suara-suara yang jarang sekali kami dengar. Dan ini kami dapatkan di sini, di sebuah desa yang tidak banyak diperhatikan masyarakat luar.

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah sepiring sukun goreng dan sepiring keripik maupun pisang goreng yang disediakan oleh pemilik rumah tempat kami menginap setiap pagi dan malam. "Kami tidak bisa menyediakan makanan yang mewah". Itu yang mereka katakan. Tapi bagi kami ini semua sudah lebih dari cukup. Meskipun hanya telur, ikan, dan sayur mayur setiap hari, makanan itu selalu nikmat saat disantap. Pemilik rumah dengan kesederhanaannya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Bagi kami, makanan apapun yang disediakan tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah rasa kekeluargaan yang mereka bangun di sini. Ya, kekeluargaan. Rasanya seperti memiliki keluarga baru. Mengobrol saling bertukar cerita bersama mereka itu menyenangkan. Sesekali keterbatasan bahasa sunda kami dan keterbatasan bahasa Indonesia mereka membuat kami tertawa.  Rasanya tertawa itu menjadi bahasa universal. Berusaha mengerti atau istilahnya privat bahasa sunda dengan mereka sudah menjadi pekerjaan kami sehari-hari. Dan itu menyenangkan.

Bahagia itu sederhana ketika kesederhanaan dilihat sebagai kesehajaan yang bukan dijadikan sebagai pembatas, tapi justru menciptakan semangat tinggi untuk terus bangkit dan membangun Desa Kebun Cau menjadi lebih baik lagi. Selama sepekan kami belajar dan mengajarkan. Sudah cukup banyak kenangan yang tercipta di tempat ini. Setelah kepulangan ini mungkin kami akan merindukan suara salawatan Ajun yang merdu, merindukan senyuman Muhdin (Nail Junior), merindukan sikap ceplas ceplos dari Opik, merindukan kenakalan Atang, merindukan mata 5 watt yang dimiliki oleh Deden, merindukan wajah cantik Anita, merindukan wajah imut Nurbaeni, merindukan sapaan halo atau hai dari Hedi, Juhe, dan kawan-kawannya. Dan masih banyak lagi yang akan kami rindukan. Bagi kalian yang bertugas di tempat lain, pasti kalian memiliki kerinduan masing-masing. Iya kan? 
Secara pribadi saya berterimakasih kepada Allah karena memberika kesempatan kepada saya untuk mengikuti acara Desa Inspiratif ini. Semoga efek dari pelajaran hidup ini tidak seperti obat yang hilang dalam beberapa jam. Semoga pelajaran ini akan terus melekat di hati dan membangun rasa kepedulian yang tinggi antar sesama. Dan semoga ilmu yang kami terapkan di Desa Kebun Cau menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pembangungan desa tersebut. Semoga kehadiran kami tidak sekedar mejadi "iklan" yang hanya numpang lewat, tapi bermanfaat setiap waktu serta berkelanjutan. Aamiin

Desa Inspiratif Caring and Educating

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah kelelahan yang dibayar dengan kenangan indah. #redrose

3 komentar:

  1. bahagia itu sederhana, ketika kita dapat merasakan indahnya berbagi :) I will never forget them ci :')

    BalasHapus
  2. Bahgia itu sederhana, kita aku terinspirsai isi blog yg di tulis aci kli ni

    BalasHapus