Rabu, 02 Juli 2014

Sambal Mangga Sore Hari

Sumber foto : http://tirakakakurukurukantapiasaurusya.wordpress.com/page/2/

Dia pikir siapa dia? Datang dan pergi seenaknya ke restoran ini tanpa membeli apapun seolah restoran ini milik nenek moyangnya. Heran, mengapa di era globalisasi seperti ini masih saja ada orang yang berpikiran picik seperti itu. Datang ke restoran dengan koneksi internet yang cepat demi wifi gratis. Huh kesal sekali aku dibuatnya. Aku tahu restoranku tidak terlalu ramai, dengan atau tanpa adanya dia pun tidak akan merugikanku. Tapi, apa dia tidak pernah tahu etika? Gemas jika membahasnya. Sudah tiga hari berturut-turut orang itu datang dan duduk dengan asik menatap layar laptopnya di restoranku tanpa membeli apapun. Hari ini aku tidak akan membiarkannya. Awas saja kau!

***

Jam makan siang berlalu. Jam dinding di restoranku menunjukkan jam 5 sore. Restoran kembali sepi. Restoranku biasanya memang hanya ramai saat jam makan siang dan makan malam. Maklum aku mendirikan restoran ini di wilayah perkantoran yang orang-orangnya kebanyakan hanya punya waktu makan saat siang dan malam. Namun, seperti yang telah aku bicarakan sebelumnya, akhir-akhir ini ada seseorang yang mulai mengusik ketenanganku di jam-jam sepi seperti ini. Yang ditunggu-tunggu datang.
"Selamat sore". Sapaku dengan ramah ketika membukakan pintu untuknya. Jika berdiri sejajae seperti ini tingginya tak jauh beda denganku, usianya juga sepertinya hampir sama. Pria muda dengan setelan kemeja ala pemuda. Hemm mungkin sekitar 23 tahun. 
"Pagi". Jawabnya singkat sambil sedikit senyum. Sedikit sekali.
Aku segera mengantarkannya ke meja di pojok ruangan dekat dengan piano.
"Silahkan duduk, mau pesan apa?". Tanyaku kemudian ketika ia duduk dan mengambil laptop dari tasnya. 
"Nanti saja". Pria itu menjawab tanpa melihat wajahku yang sudah semakin kesal dengan sikapnya.
"Oh baiklah". Jawabanku masih berusaha ramah. Belum jauh aku berjalan dari mejanya, pria itu memanggilku.
"Emm mbak, tunggu!". Ah dia pasti ingin memesan sesuatu. Kataku dalam hati dengan ekspresi gembira. Aku balik arah dan kembali menghampirinya.
"Sudah memutuskan untuk memesan?". Tanyaku dengan percaya diri dan senyum sumringah
"Emm tidak. Ini wifi-nya kok ga bisa yah?". Lagi-lagi ia bicara tanpa melihat wajah ceriaku yang seketika berubah muram kembali. Ia hanya fokus pada layar laptopnya sambil sesekali menekan tombol enter. Entah apa yang ia lakukan.
"Ooooo wifi, wifi ya Mas? Hemm wifi". Kataku dengan nada yang entah bagaimana aku menjelaskan nada bicara ini.
"Iya, kenapa yah? Kok ga bisa?". Kali ini ia menatapku. Dengan cepat aku memperbaiki posisi berdiri dan ekspresi wajahku yang penuh dengan senyuman licik.
"Emm itu mas, dari pagi tadi wifi di restoran ini emang lagi rusak alatnya. Lagi berusaha diperbaiki kok". Aku berusaha menjelaskan dengan wajah ramah. Wifi rusak? ahaha itu hanya akal-akalanku saja. Biar tahu rasa dia! Aku sudah merencanakan hal ini sejak kemarin. Tanpa sadar senyuman licik muncul lagi dari bibirku. Namun suara pria itu tiba-tiba memaksaku untuk senyum natural kembali.
"Hemm gitu yah". Ia menutup layar laptopnya.
"Iya gitu. Mendingan mas ke restoran lain aja deh yang wifi-nya lebih kenceng dan bebas dateng kapan aja tanpa harus pesen makanan. Eh.. maksud saya...". Tanpa sadar kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Tapi aku tidak melanjutkannya. Aku menutup mulut dengan map menu yang ku bawa.
"Eng itu mas maksud saya di restoran lain pelayanan wifi-nya pasti lebih bagus". Aku tertawa meringis, sedangkan pria itu hanya menatapku dengan ekspresi datar. Untuk beberapa saat ia mempertahankan ekspresinya sambil terus menatapku. Aku semakin merasa takut. Map menu yang awalanya hanya menutupi mulutku, kini naik ke atas hingga sekarang hanya mataku yang terlihat.
"Ke....kenapa kau menatapku seperti itu?". Kuberanikan bertanya walau dengan nada yang gagap.
"Tidak ada apa-apa". Singkat dan datar. Haft orang itu manusia bukan sih? Kataku dalam hati.
"Oiya!". Katanya kemudian mengagetkanku yang baru saja hendak menghela napas.
"Ya, ada apa?"
"Aku mau pesan steak ayam saus sambal mangga". Ia bicara sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. Ya Tuhan, akhirnya dia memesan sesuatu. Kataku sumringah dalam hati.
"Oke, minumnya apa?". Aku mencatat pesanannya di buku kecil yang kubawa.
"Orange juice aja". 
"Oke baik, silahkan ditunggu". Tanpa banyak aiueo lagi, aku segera berjalan menuju dapur. Samar-samar terdengar ia mengucapkan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.
"Terima kasih".
"Untuk?". Tanyaku dengan heran sambil balik badan ke arahnya
"Ya untuk pelayanannya lah, itu wajar kan etika kepada pelayan?". Kini ia yang heran
"Hoooo iya kau benar! benar sekali". Aku tersenyum miris padanya dan langsung kembali balik badan berjalan menuju dapur. Ah aku bodoh sekali. Dia benar juga, memang wajar untuk mengucapkan terima kasih kepada pelayan. Memangnya aku berharap ia mengucapkan terima kasih untuk apa? Aaaahh Ara bodoh!


***

Sejak hari itu, ia selalu datang setiap jam 5 sore dan memesan makanan yang selalu sama, yaitu steak ayam saus sambal mangga dan Orange juice. Sempat aku merasa bersalah karena telah ceplas ceplos bicara padanya soal memesan makanan, tapi dengan cepat aku menepisnya. Bukannya ini yang aku inginkan? Aku tidak ingin pelangganku hanya memanfaatkan wifi restoranku saja. Dua minggu berlalu, ia masih setia datang ke restoranku setiap sore, sendirian. Hingga pada suatu malam ketika aku hendak menutup restoran, ia datang menghampiriku.

"Selamat malam, udah mau tutup yah?". Suaranya mengejutkanku.
"Eng.. iya mas. Baru aja saya kunci pintunya". Aku menunjukkan kunci bergantungkan gantungan bintang kecil di tangan kananku.
"Hemm baiklah. Kamu mau pulang?". Pria itu menghampiriku lebih dekat. Aku mundur selangkah.
"Iya".
"Naik mobil?"
"Iya. mobilku terpakir di garasi restoran". Aku menunjuk ke samping kiri tempat ia berdiri yang bersebelahan dengan garasi.
"Oke baik, hati-hati". Pria itu tersenyum manis sekali. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum lebar seperti itu.
"Terima kasih". Kataku kemudian langsung berjalan menuju garasi.
"Emm tunggu". Pria itu bicara lagi dan memaksaku untuk berhenti. Aku menoleh ke arahnya.
"Ya?".
"Kenalkan, namaku Hans". Ia mengulurkan tangannya mengajak bersamalaman.
"Oh, iya Hans. Saya Ara". Aku menjabat tangannya. 
"Sebenarnya..........". Hans tertunduk sebentar.
"Ya? Ada apa?" Tanyaku heran.
"Kau tahu mengapa aku selalu datang ke restoranmu?".
"Hooo itu? Ya pasti karena makanan di restoranku enak lah". Jawabku sambil tertawa.
"Kau yakin? Bahkan aku tidak suka makanan pedas. Restoranmu kan serba pedas makanannya. Kau tahu mengapa aku selalu memesan makanan yang sama? Karena menurutku sambal mangga di restoranmu yang paling tidak pedas diantara sambal yang lain".
"Hmm begitu. Jadi kalau bukan karena itu, karena apa?".
Hans terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya angkat bicara.
"Di awal kedatanganku ke restoranmu, aku sengaja tidak pernah memesan. Aku tahu kau pemilik restoran itu. Aku pikir lama-kelamaan kau akan jengkel dengan tingkahku. Dan ternyata aku benar. Kau mulai jengkel dan langsung turun tangan melayaniku secara pribadi beberapa hari kemudian". Hans terdiam lagi untuk beberapa saat. Aku masih tertegun dengan ceritanya tak bisa berkata apa-apa.
"Aku melakukan hal itu bukan tanpa alasan, aku hanya ingin mengobrol denganmu". Kini kata-kata Hans benar-benar membuatku makin tertegun. Tapi aku masih belum bisa bekata apa-apa, sementara Hans melanjutkan ceritanya.
"Entah mengapa sejak hari itu, setiap kali aku datang, pasti kau yang akan menghampiri mejaku. Ini benar-benar sesuai harapan. Aku.....".
"Cukup". Kataku menghentikan cerita Hans
"Hentikan, jangan dilanjutkan lagi. Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?". Aku menatap matanya dengan tajam. Wajah datarnya itu kini terlihat seperti orang yang menaruh harapan. Entah harapan apa dan kepada siapa.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di restoran ini". Hans menatapku dengan sungguh-sungguh. Sementara aku hanya bisa tertunduk. Kami terdiam untuk beberapa saat. Semilir angin malam terasa dingin menerpa wajahku sekarang.
"Maaf, saya sudah menikah". Ucapku kemudian sambil menunjukkan cincin perak yang melingkari jari manis tangan kananku. Tanpa berani melihat wajah Hans, aku segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan standar. Dari kaca spion mobil dapat kulihat Hans masih setia berdiri di depan restoran dengan wajah penuh kekecewaan. Melihat hal itu membuatku menambah kecepatan laju mobilku.

THE END 

"Terkadang cinta memang datang terlambat. Tunggu, atau aku yang datang terlambat? Atau Ara yang terlalu cepat memutuskan? Entahlah. Sambal mangga itu terasa sangat pedas sekarang". -Hans

Selasa, 01 Juli 2014

Pesawat Pertama



Pagi-pagi sekali aku bergegas menuju bandara dengan mobil sedan putihku. Aku fokus di balik kemudi sambil sesekali melirik jam di tangan kiriku. Kurasa ini hal yang salah, karena setiap kali aku melirik jam tangan, aku akan semakin menambah kecepatan mobilku.
“Dua puluh menit lagi, apa bisa?”. Gumamku sendirian ketika terjebak macet di lampu merah. Tetiba teringat pesan dari Iwan semalam. Aku segera meraih handphone yang kuletakkan di jok samping.

“Assalamu’alaikum, Aku pamit ya. Besok akan pulang ke Kalimantan. Aku naik pesawat penerbangan pertama besok pagi, pukul  7.30 WIB. Doakan semoga selamat sampai tujuan. Aamiin. Wassalamu’alaikum”

Berkali-kali aku baca pesan dari Iwan tersebut hingga akhirnya suara klakson mobil di belakangku menyadarkan lamunanku. Hmm sudah hijau rupanya. Aku kembali melaju dengan kecepatan kencang, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

***

Hal pertama yang kulakukan ketika menginjakkan kaki di bandara adalah melihat jam tangan.
“7. 25. Haft hanya tersisa 5 menit. Masih mungkinkah?”. Gumamku sendirian sambil berjalan cepat menuju gate in. Suasana bandara begitu ramai pagi ini. Terang saja begitu, 2 hari lagi masuk bulan Ramadhan. Pasti banyak orang yang ingin pergi ke kampung halaman, termasuk Iwan. Iwan adalah teman dekatku di kampus. Ya kami dekat. Namun, satu minggu yang lalu sesuatu terjadi di antara kami. Hal tersebut membuat kami tidak berkomunikasi hingga hari ini. Terakhir, pesan yang kemarin kubaca adalah pesan pamit darinya. Ini menyedihkan.
Aku msaih berlari dan terus berlari hingga akhirnya langkahku terhenti. Aku mengatur napasku yang terengah-engah sambil melihat ke sekeliling. Ramai. Ramai sekali. Banyak wajah-wajah asing di sini. Tak ada satupun wajah yang kukenal, lebih tepatnya yang kucari, Iwan.
7.35!
Aku semakin putus asa. Pesawatnya pasti sudah tinggal landas. Kurasakan lemas di sekujur tubuhku. Jika tidak sedang di tempat ramai, mungkin saat ini aku akan segera duduk tergeletak di lantai. Satu hal yang paling kusesali adalah mengapa semalam aku tidak langsung membalas pesannya? Bahkan untuk sekadar mengucapkan “Hati-hati di jalan” pun aku tak mampu.
Langkah kaki ini terasa semakin berat. Aku melangkah perlahan sambil berharap ada sesuatu yang membawaku pulang dengan cepat dari tempat memilukan ini. Dengan langkah gontai, tanpa sengaja tas kecil yang kubawa terjatuh ke lantai. Aku berusaha meraihnya dengan sisa tenaga yang kupunya. Namun seseorang telah mendahuluiku untuk mengambilnya.
“Kau?? Sedang apa kau di sini?”. Tanyaku heran ketika melihat pria berjaket coklat dengan sorotan mata yang kukenal berdiri di depanku sekarang.
“Aku? Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini? Mau pergi ke mana?”. Pria itu malah balik bertanya padaku dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya denganku.
“Jawab dulu pertanyaanku, Wan. Bukankah pesawatmu sudah tinggal landas sejak 10 menit yang lalu?”.
“Pesawatku?? Hooo iya memang sudah tinggal landas, tapi pesawatku bukan yang itu. Jadwalnya nanti jam 9.30 WIB”. Iwan menjelaskan sambil tertawa kecil.
“Tapi semalam kau bilang….. Pesawatmu itu jam… tapi semalam….”. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku dengan benar. Air mata mulai menggenang di mataku.
“Hmm maaf aku membohongimu tentang itu. Sebenarnya….. ini”. Katanya tidak meneruskan apa yang ingin ia ucapkan. Ia memberikan sebuah tiket penerbangan padaku.
“Tiket? Tiket siapa?”. Tanyaku heran sambil menerima tiket tersebut dari tangannya.
“Untukmu. Kita berdua akan ke Kalimantan hari ini”. Iwan tersenyum manis padaku.
“Apa-apaan ini? Kau ini lupa atau apa? Bukankah kita…….”. Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Iwan sudah berbicara kembali.
“Rilla, meskipun semalam kau tidak membalas pesanku, aku yakin pagi ini kau pasti akan ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Wah ternyata benar kan kau ke sini. Dan ide kebohongan itu sebenarnya adalah ide Ayah dan Ibumu. Mereka ingin memberikan kejutan padamu”. Kini senyum Iwan semakin melebar.
“Ayah dan Ibu? Kejutan? Jadi kita?”. Air mata yang sejak tadi menggenang sudah tak bisa tertahan lagi, kini aku berurai air mata sambil tersenyum bahagia.
“Hmm iya. Sesuai janjiku, aku akan kenalkan kau kepada orang tuaku di Kalimantan. Masalah keberangkatan sudah kuurus. Ayah dan Ibumu akan datang nanti ke sini membawakan pakaian untukmu. Jadi kau tidak usah khawatir. Cukup ikut saja denganku”.
“Wan, kau yakin dengan semua ini?”. Tanyaku sambil menunduk.
“Insya Allah yakin. Hingga hari ini, sejauh inilah usahaku untuk kita. Aku akan sisakan usahaku untuk menghadapi orang tuaku nanti. Kau juga terus berusaha ya, semangat Rilla”.

“Terima kasih, Wan. Insya Allah”. 


Kisah ini hanya imajinasi seorang redrose belaka yang terinspirasi dari kisah 'hampir' nyata seorang sahabat. Menulis itu kadang merangkai masa depan, bukan? Menulis itu harapan. -Redrose