Sabtu, 29 Agustus 2015

Salam Merdeka dari Langit Nangerang, Lebak, Banten

"Satu minggu lagi foto-fotonya akan ada di blog Kak Astri!".
Kalimat nyeleneh yang membuat tersenyum haru sekaligus malu-malu.
Maaf telat dari deadline, terlalu banyak kisah yang harus dituliskan sampai bingung harus mulai dari mana :')

Satu minggu lebih beberapa hari setelah kepulangan kami (Nangerang Fighters) dari sebuah tempat yang saya sebut "Semeru". Sebuah tempat yang tiga tahun terakhir selalu meninggalkan kenangan ketika semua kebahagiaan di sana harus berakhir hanya dengan satu kata ajaib, yaitu 'pulang'. Satu minggu berlalu, setiap kenangan yang sempat tercipta itu sesekali muncul dalam ingatan. Mengapa begitu membekas??

Tahun ini semua persiapan menuju ke Nangerang tidak serumit tahun lalu. Walau sempat timbul banyak gagasan tentang hal apa yang akan kami lakukan di Nangerang, semuanya bisa mengerucut pada satu suara yang disepakati. Diskusi manja yang terjadwal mulai terlaksana. Persiapan terutama dalam hal dana pun mulai diperhitungkan. Sedikit demi sedikit persiapan rampung walau hanya berupa anggaran dana dan konsep acara yang masih mengawang. Kami terlena sejenak dengan suasana lebaran dan liburan panjang. Waktu kami tersita sedikit dengan kesibukan yang perlu diatasi di sana sini. Terpecah. Hilang arah (lebay tri haha).
Hingga pada suatu hari ada sebuah komentar di blog saya dan seketika memercikan api semangat yang selama ini sempat meredup akibat kesibukan tak tentu.

Alhamdulillah Bantuan yg diberikan oleh Ka astri dkk, sangat berguna dan bermanfaat sekali bagi kami di Mi nangerang
Jika ada waktu dan kesempatan main lah ke sini, ke kampung yang jauh dari keramaiyan kota......


Kalimat sederhana yang membuat saya merasa "terundang" kembali. Kalimat sederhana yang seketika membuat saya mengetikan jari-jemari untuk mengabari Nangerang Fighters bahwa kita ditunggu!
Satu lagi kalimat yang membuat saya semakin semangat, "Anak-anak mendengar kabar ini sangatlah senang....".
Anak-anak. Ya, anak-anak. Sebuah kekuatan dari Nangerang. Magnet terkuat yang seolah menarik untuk kembali. Saya harus kembali. Tidak, kami harus kembali!


Mungkin pesan tersebut yang membuat saya berkata : "Bye Malang, I have to go to Nangerang!". Dilema pribadi di minggu-minggu terakhir menuju hari keberangkatan. Ketika dihadapkan pada dua pilihan dengan kondisi butuh pengertian. Dua pilihan yang meributkan antara pemenuhan tanggung jawab dan............keluarga. Namun, akhirnya dua pilihan itu melebur jadi satu dan tentunya dengan tujuan yang satu. Bukan hanya karena ini sebuah tanggung jawab, tapi juga sebuah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa saya beli di toko manapun. Bukan berarti pilihan satunya tidak membahagiakan, hanya saja kondisinya masih bisa dikendalikan. But still, I'm sorry, Mah, Pah. :')


***


Persiapan

Kamis, 13 Agustus 2015

Awalnya kami merencanakan keberangkatan pada tanggal 13 Agustus 2015. Namun karena satu dan lain hal, kami menunda keberangkatan hingga tanggal 14 Agustus 2015. Hari ini kami gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang memang harus dipersiapkan. Entah karena acara kami tahun ini tidak terlalu rumit atau bagaimana, saya merasa segalanya bisa dipersiapkan dengan santai dan lancar. Alhamdulillah.

Namun ada kesedihan yang terasa ketika salah satu teman kami (Ica) tidak bisa ikut dengan kami dikarenakan kakeknya Ica sedang dirawat di rumah sakit. Kami bisa apa? Sangat disayangkan, tapi kami hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga kakek Ica lekas sembuh. Aamiin. Walau dapat dipastikan tahun ini akan sepi dari canda gurau Ica, tapi kami yakin Ica selalu mendoakan kami dari Karawang tercinta :)

Selain itu, Zee pun tidak bisa beragkat bersama-sama karena harus menyelesaikan KP-nya dahulu di LIPI. Syukurlah Zee masih bisa menyempatkan datang pada hari kedua dengan mengorbankan Tes Toefl-nya. I can't say anything about this. But, I hope we'll make it worth! :)



Jumat, 14 Agustus 2015

Teng-----Teng-----Teng-----Teng!!

Inilah harinya! Kami (Septy, Zee, Anggari, Aji, Rachmat) berjanji untuk bertemu di Stasiun Kampungbandan pukul 8 pagi. Oh my bad, ternyata saya salah info mengenai kereta yang akan berangkat ke Rangkas. Untunglah suasana masih dapat terkendali dan kami masih punya waktu untuk beralih ke Stasiun Duri, tempat kereta ke Rangkas yang akan membawa kami ke Nangerang. Alhamdulillah sejauh ini perjalanan kami lancar. Kereta yang kami tumpangi terasa sangat nyaman.



Hingga akhirnya kami tiba di stasiun Rangkas tepat waktu (sebelum masuk waktu sholat Jumat). Maklum lah ya kami membawa dua orang calon imam masa depan yang harus sholat jumat saat itu. Setelah sampai Rangkas kami segera mencari sebuah masjid terdekat. Sebelum itu kami narsis dahulu di Stasiun Rangkas karena pemandangannya terlihat epic. wkwk


Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami tiba di sebuah masjid yang ternyata tahun lalu kami (kecuali saya dan Anggari) pernah ke sana juga. Berbekal ingatan dan diantar seorang anak kecil berbaju pramuka, akhinya kami pun dapat menemukan tempat istirahat sementara untuk makan siang dan menunggu duo warlok (Aji dan Rachmat) sholat Jumat. Makan siang hari itu disponsori oleh abang tukang bakso yang kebetulan mangkal tak jauh dari masjid. Sebagai makanan tambahan, kami membeli makanan penuh Msg yang gurih-gurih gitu rasanya. Ya begitulah ya. Setelah selesai sholat dan istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Aweh untuk dapat naik PS (elf) ke Nangerang. Beruntung kami datang di saat yang tepat. Sudah ada PS yang akan segera berangkat di sana, jadi kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alhamdulillah perjalanan kami ke Nangerang hari itu terbilang lancar. 

Dua jam lebih perjalanan menggunakan PS, akhirnya kami menginjakkan kaki di Nangerang!
Seperti biasa kami menyusuri jalan di Nangerang dengan berjalan kaki. Beberapa hal di sekitar masih terlihat sama, namun ada juga yang sedikit berubah. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan warga-warga yang bersahaja. Mereka ternsenyum dan kemudian bertanya "Bade kamana?". Jawaban kami pun tetap sama "Ka Gejrog". "Rumah Kang Wawan". Mungkin ada satu kata aneh lain pada satu jawaban, "Ka gebrok". Ya maklumlah tahun ini kami mengajak personil baru yang belum pernah ke Gejrog. Wkwk
Beberapa orang kami kenal, beberapa lagi tidak. Namun mereka semua sama, tersenyum dengan sikap ramah yang sama. Pedesaan. Ini yang kami suka dari suasana pedesaan. 
Perjalanan panjang menuju langit biru masih panjang. Lelah mulai terasa namun kami tetap tidak lelah untuk mengisi perjalanan dengan canda tawa. (Kadang saya bersyukur karena kalian itu rada-rada hehe). Ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan background foto ala-ala kami, ya begitulah kami.



Perjalanan berakhir di Gejrog, tempat yang akan menjadi persinggahan kami selama 4 hari kedepan. Begitu tiba di sana, suasananya belum banyak berubah. Masih asri dan sejuk. Ada sebuah rumah yang satu tahun lalu jadi tempat kami menginap dan juga sebuah surau yang rajin kami sambangi untuk sholat berjamah. Hanya saja kali ini banyak bunga di sana. Bahkan tempat kami menginap ada semacam gerbang bunga di depan rumah tersebut. Cantik. 



Sambil bernostalgia dan bersenda gurau, kami menunggu sang empunya rumah alias Kang Wawan tiba. Katanya ia sedang memancing ikan di sungai. Jadi kami putuskan untuk bersitirahat. Tapi ya namanya juga anak kota yang tidak bisa diam, kami beralih ke belakang rumah. Di sana ada kandang kambing. Kami ikut memberi makan bersama Ibunya Kang Wawan dan juga ditemani oleh si kecil Rendi. Kambing di sana jumlahnya 5 ekor. Sempat iseng menamai mereka Aci, Aji, Septy, Rachmat, Gari karena jumlahnya pas dengan kami hehe maapkeun. Selain itu, kami juga "membantu" omnya Rendi memetik buah kelapa yang ada di sana. Semacam ada pertunjukkan menarik, satu tandan kelapa jatuh terhempas ke tanah lalu buyar semua. wuussshhh!!!





Magrib menjelang, akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang. Setelah bersalam-salam sapa, kami mengobrol mengenai maksud kedatangan kami ke Nangerang kepada Kang Wawan. Ya, tahun ini kami ingin mengajak anak-anak MI Mathlalul Anwar Nangerang untuk memperingati Hari Pramuka dan Hari Kemerdekaan. Untuk hari Pramuka kami hanya ingin mengajarkan anak-anak tentang sandi Smapore. Sedangkan untuk Hari Kemerdekaan, kami ingin mengajak anak-anak ikut beberapa perlombaan. Perlombaan yang akan kami adakan adalah :

1. Lomba Balap Kelereng
2. Lomba Makan Kerupuk
3. Lomba Memasukkan Paku ke Dalam Botol
4. Lomba Estafet Bendera
5. Lomba Tebak Gambar

Selain untuk anak-anak, kami juga mengadakan lomba untuk para remaja dan bapak-bapak Nangerang, yaitu kejuaraan futsal. Kami menyebutnya Nangerang Champion #Eaaaa

Setelah diskusi selesai kami segera beristirahat ke rumah masing-masing. Untuk wanita tidurnya tidak di "basecamp", melainkan di rumah Orang tua Kang Wawan yang terletak di samping "basecamp". Entah karena sudah sangat lelah karena perjalanan seharian atau apa, saya pribadi langsung terlelap ketika kepala menyentuh bantal. Hehehe

******

Sabtu, 15 Agustus 2015

Bulan berganti dengan matahari yang masih malu untuk menampakkan cahayanya di kala subuh. Suara alarm handphone berganti dengan suara Septy yang setengah parau "Gar, subuh gar". "Ci subuh Ci". Untuk beberapa detik setelah membuka mata, saya masih berharap terbangun dengan pemandangan utama sebuah poster bertuliskan "Jaga Hati Gapai Ridho Ilahi" di dinding kamar seperti biasanya. Tapi sedetik kemudian saya sadar ini bukan kamar saya. Bahkan kali ini dsertai dengan udara dingin yang cukup menusuk ke tulang. Setelah mengumpulkan kesadaran, kami segera bergantian untuk mengambil wudhu dan menuju surau untuk sholat berjamaah bersama dengan yang pria juga. Satu tahun lalu, saya sangat merindukan suasana subuh di tempat ini. Dan hari ini, suasana itu kembali. 

Matahari semakin meninggi, sinarnya sudah menerangi desa ini dengan segala kehangatannya. Badan masih terasa pegal dan sakit, tapi beranjak dengan cepat ketika dikabari untuk segera sarapan. Hehehe. Suasana sarapan yang lebih banyak ketawanya daripada makannya. Eh makannya juga banyak deng :p Walau makanan yang terhidang sederhana, tapi rasanya mewah. Kami semua selalu memakannya hingga habis, bahkan beberapa di antara kami sering ada yang nambah (siapa tuh?? hehehe).
Kegiatan kami hari ini tidak terlalu padat, karena hanya akan mengajak anak-anak MI untuk belajar sandi Smapore. Pukul 8 pagi kami berangkat ke MI dengan berjalan kaki (ya karena kami hanya bisa jalan kaki setiap harinya). Untunglah perjalanan melelahkan menuju MI tidak terlalu melelahkan karena ditemani orang-orang yang kotak tertawanya tidak pernah rusak. :p

Dan sebelum berangkat, kami berfoto dulu di depan rumah yang terlihat seperti pelaminan itu wkwk. Ya anggap saja ini foto ootd yaaa... Atau lebih tepatnya kami mah tidak pernah bosan untuk berfoto di manapun dan kapanpun.



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami akhirnya tiba di MI Mathlaul Anwar, Nangerang. Oiya kami mengambil jalan pintas berupa bukit menanjak. Hmm suasananya seperti mendaki semeru, ke atas sedikit ada pepohonan menyerupai hutan mati di Papandayan. Hahah coba tebak ada di mana kami? Sayangnya tempat itu tidak ada di foto, hanya ada di video. Ya bayangkan saja jalur pendakian semeru dan hutan mati papandayan :p

Saat kami tiba di sana, kegiatan belajar -mengajar masih berlangsung. Jadi kami duduk dulu di sebuah warung di dekat MI. Kami memesan kopi dan beberapa jajanan. Beberapa menit kemudian kami pun dipersilahkan masuk ke kelas. Anak-anak begitu antusias melihat kedatangan kami walaupun kami masuk dengan masih malu-malu. Tanpa basa basi terlalu lama, kami segera mulai mengajak anak-anak belajar Sandi Smapore dipimpin oleh Septy. Mereka terlihat antusias ketika melihat bendera smapore warna merah kuning yang kami tunjukkan. Saat belajar sandi smapore pun mereka senang dan mengikuti arahan Septy dengan cukup baik. Selain sandi smapore, kami pun mengajak anak-anak latihan bernyanyi lagu wajib nasional. Suara mereka masih sama seperti tahun lalu, tidak karuan. Tapi justru itulah yang membuat terharu. Bukan pentingnya suara bagus yang menjadikan sebuah lagu nasional terasa dijiwa, melainkan siapa subjek yang menyanyikannya. Ya, karena mereka yang menyanyikannya, lagu ini terdengar memiliki jiwa dari anak-anak yang tinggal jauh dari pusat ibukota, tapi masih berusaha untuk mengingat lagu wajib nasional Bangsa Indonesia. Akhirnya, acara hari ini pun berakhir setelah anak-anak puas membuat bendera smapore mereka sendiri. 





Hari masih siang, kami beristirahat sejenak di MI setelah puas bermain sambil belajar serta membersihkan MI. Lalu kami segera kembali ke "basecamp" di gejrog. Sebelum kembali, kami mampir terlebih dulu ke rumah Teh Mimin. Tahun 2013 silam, saya beserta teman Desa Inspiratif MIPA yang lain menginap di rumah Teh Mimin. Dulu kami sangat nyaman di sana. Rasanya bukan seperti dengan orang lain, tapi seperti dengan keluarga sendiri. Keluarga Teh Mimin selalu menyambut kami dengan baik di sana. Hari itu kami masuk lagi ke rumah yang kondisinya tidak banyak berubah. Satu sisi yang membuat tersenyum terharu. Foto-foto kami ketika Desa Inspiratif MIPA 2013 terpajang rapi di dinding rumah Teh Mimin. Ya Allah tak terasa foto itu sudah dua tahun terpajang di sana. Wajah-wajah unyu berhiaskan jaket kuning yang terpasang pas di badan. Bangga, terharu bercampur menjadi satu. Alhamdulillah kehadiran kami membawa kenangan sedalam itu untuk keluarga Teh Mimin. Terima kasih :)

Seperti biasa selama di perjalanan kami selalu bersenda gurau. Walau terlihat lelah, sebenarnya baterai kami tidak pernah habis. Buktinya setelah sampai di "basecamp", kami tidak langsung istirahat, melainkan malah bermain kelereng. Padahal di perjalanan kami sudah merencanakan siang ini adalah gabut day. Tapi ya mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Kelereng sudah menggelinding di tanah. Aji dan Rachmat sudah seru saling sentil. wkwk. Jadilah kami main dengan bermodal ingatan zaman kecil. Sebut saja Aji yang sering kalah dengan alasan udah gak seluwes dulu. Atau Rachmat yang selalu menang karena dulunya jagoan kelereng. Ya kami mah apa atuh para wanita cantik yang kalah mulu dari dulu sampe sekarang. heheheu. Sayangnya momen ini tidak sempat diabadikan oleh kamera. Ya jika ada fotonya saya juga males upload kali ya karena saya tidak pernah menang :p

Sedang asyik bermain kelereng, tiba-tiba Kang Wawan dan Kang Rusdi datang. Mereka mengajak kami untuk pergi ke Rahong katanya. Hmm sebut saja itu sebuah sungai. Satu dua tiga, kami pun tidak menolak. Kami segera merapikan kelereng-kelereng unyu itu. JJS alias Jalan-Jalan Sore pun dimulai, masih dengan senda gurau di sepanjang perjalanan. Dalam perjalanan ke Rahong, kami melewati pemukiman Baduy Luar. And you know what siapa orang yang paling bahagia ketika tiba di tempat ini?? Yap Septy Maudy Ayunda. hehehe Akhirnya setelah sekin lama, cita-citamu terwujud juga nak. Mama bangga :')

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang diselingi dengan makan buah jagoan neon, akhirnya kami tiba di Rahong. Hmm bak anak kucing keluar dari kandang, kami segera "berhamburan" menuju sungai. Lepas sepatu, naik-naik batu, foto-foto. Ya begitulah. Norak-norak unyu gitu. 






Sudah empat kali ke Nangerang, baru kali ini saya bisa menyempatkan diri untuk ke Rahong. Senang sekali rasanya bisa menemukan sungai. Puas bermain dan berfoto, akhirnya kami pulang karena kami juga teringat dengan Zee yang sedang dalam perjalanan menuju Nangerang dari Depok menyusul kami. Niat awalnya ingin menjemput Zee, tapi Allah berkata lain. Zee sudah sampai di depan pintu "basecamp" ketika kami sedang membicarakan bagaimana cara menjemputnya. Alhamdulillah. Saya pernah menonton sebuah film, di sana dikatakan "Orang baik selalu datang saat kita sedang membicarakan atau mengkhawatirkan keadaannya". (Btw itu di film Elif :p). Alhamdulillah Zee memang orang baik. Insya Allah. Buktinya hujan pun menunggumu untuk masuk ke rumah sebelum ia turun dengan derasnya, Zee :')
Saat Zee sampai, rasanya Zee seperti masuk dunia yang asing. Karena kami berlima sudah membuat dua kubu yang saling "bersiteru". Sebut saja kubu Aji dan kubu Anggari. Jangan tanya siapa saja anggota kubu Aji, karena kami semua kompak lebih sering menggoda (baca: bully) Aji daripada membela Aji. Tapi perlahan Zee mulai mengerti kegilaan apa yang sedang terjadi di sini, akhirnya Zee memilih kubu Anggari heheheheu. Maafkan kami Aji. :p Tapi percayalah. Justru kegilaan itu yang kini membuat saya semakin merindukan kalian. Merindukan segala suasana bercanda yang tercipta di sana. Saya dan kalian membuat setiap kata penuh makna dan menciptakan senyum. 

Usai makan malam, kami segera membereskan segala keperluan untuk acara perlombaan hari kemerdekaan besok. Kado-kado yang sejak pagi menunggu untuk dibungkus, akhirnya dibungkus juga. Omong-omong, ada cerita lucu dibalik bungkus kado ini. Jadi, kurang lebih ceritanya begini. Maaf kalau redaksinya ada yang salah. Lupa percakapan persisnya bagaimana. 
Suatu pagi yang cerah seorang pria masuk ke "basecamp". Dengan santainya ia bertanya, "Bungkus kado kapan?". Sontak seisi ruangan hening (seperti biasa). Tapi seorang wanita marah "Ih kan ntar malem bungkusnya. Gimana si? Kan semalem udah dirapatin? Ga dengerin ya?". Hahaha sudahlah. Momen itu tidak cocok untuk ditulis. Ada sih videonya? Tapi yakin mau di share? Saya sih ga mau wkwkwk Duh senyum-senyum sendiri deh kalau ingat bagian yang itu. Baiklah saya share kondisi bungkus kado aja yah.




Dear Septy, saya percaya kok itu piala. Jangan sedih lagi yah :)


Minggu, 16 Agustus 2015

Akhirnya! Acara utama pun datang! Lomba dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia! Yeay!
Kami berangkat pukul 8 pagi dan kali ini diawali dengan doa bersama agar acara kami lancar dan bisa membuat anak-anak senang. Bawaan kami hari ini cukup banyak sehingga kami memutuskan untuk membawanya dengan carrier. Ya you know lah siapa yang menjadi korban untuk membawa tas super berat berisi Re*l good itu :p 
Ketika kami tiba di sana, kami langsung disambut oleh anak-anak yang sudah tidak sabar mengikuti lomba. Daaaaaan tanpa perlu berpanjang lebar, lomba pun dimulai.

Suasana briefing lomba oleh Septy

Suasana pendaftaran lomba

Wajah-wajah unyu kita :p

Narsis dulu yuk kakaaak

Ayo makan kerupuknya dek.... Kalo ga, nanti diculik sama kakak baju ijo putih itu :p

Eaa eaaa eaaaaaa

Dan yang di bawah ini, wajah-wajah jagoan Nangerang yang sempat tertangkap kamera. Hmm sungguh wajah yang kami rindukan.





Dan yang ini nih yang seru. Pemuda Nangerang yang bersemangat mengikuti kejuaraan futsal Nangerang Champion. Saking semangatnya, udah berapa bola yang dirusakin Kang? Heheheu








Bukan lomba namanya jika tidak ada yang menang dan kalah. Buat yang menang, selamat yah. Buat yang kalah, semangat terus. Dan terima kasih sudah turut berpartisipasi. Acara kami bukan apa-apa tanpa kalian :)


Selamat Vilar FC sebagai pemenang Nangerang Champion. Yeay!!! Buat akang-akang yang belum menang, tetep semangat yaah. Makasih udah ikut meramaikan. Seru seru seruuu :)


Acara berakhir larut siang sekali. Lelah, bahagia, kucel, puas, semua rasa itu campur aduk menjadi satu. Saya senang acara ini bisa berjalan lancar walau dengan segala kekurangan di sana-sini, tapi semuanya alhamdulillah bisa diatasi. Terima kasih kepada semua peserta, semoga apa yang kami berikan walaupun tidak seberapa, bisa membuat hati senang dan gembira. Aamiin


Hari ini belum berakhir kawan! Malam harinya kami diajak ikut upacara Api Unggun oleh Kang Wawan. Jadi, ternyata setiap tahunnya anak-anak MI Mathlaul Anwar selalu melakukan upacara Api Unggun setiap malam hari kemerdekaan. Seru yah :) Upacara malam ini berlangsung cukup lancar walau sempat disambut gerimis sebentar. Dari awal hingga akhir, anak-anak begitu bersemangat. Setelah upacara selesai, mereka bergegas tidur di MI. Ya, malam ini anak-anak menginap di MI untuk kemudian besok pagi akan melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 70.


*********
Senin, 17 Agustus 2015

Sebenarnya sedikit sedih ketika menulis bagian ini. Karena itu artinya ini adalah hari terakhir kami di Nangerang. Ingin rasanya menambah satu hari lagi, tapi kami tidak boleh lupa dengan segala urusan yang telah menanti kami di Depok. Segala urusan yang selama ini sempat terlupakan. Dan hanya sedikit baper ketika mendapat asupan signal dan ratusan chat Whatsapp seketika masuk meramaikan kasana perhapean (loh?). Entahlah, dilema itu mudah sekali muncul di saat-saat seperti ini. Di satu sisi belum mau pulang, tapi di sisi lain harus segera pulang karena banyak hal menanti di Depok. Huft baiklah. Mengapa jadi melow drama begini?

Baiklah, kembali ke hari yang paling menyenangkan sepanjang sejarah. Yak Upacara Bendera! Lalalala sudah tiga tahun saya tidak pernah upacara bendera lagi. Saat sekolah selalu mengeluh jika hari senin harus upacara, tapi ketika kuliah rasa rindu itu menerjang bak ombak di lautan. Dan hari ini, kerinduan itu terbayar sudah. Upacara Bendera Merah Putih di Langit Nangerang!!! :)

Pagi ini kami merapikan "basecamp" agar kembali rapi dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Tak apalah jika kenangan yang tertinggal, tapi jika barang kami yang tertinggal akan sangat merepotkan. :p
Sebelum berangkat ke MI, kami berpamitan dengan ayah dan ibunya Kang Wawan yang selama 4 hari ini sudah sangat ramah menyambut kehadiran kami. Ibunya Kang Wawan selalu siap dengan makanannya di saat pagi, siang, dan malam. Makanan yang sederhana tapi mewah lezatnya. Membuat jiwa yang lapar menjadi kenyang hehehe. Terima kasih ibu :)





Dan inilah momen yang paling membanggakan. Berdiri di tengah barisan menyaksikan Bendera Merah Putih berkibar di Langit Nangerang :)






Dear Indonesia,
Usiamu semakin tua, yakni menginjak kepala 7. Harusnya dirimu lebih dewasa dari usia sebelumnya. Dirimu memang tumbuh menjadi bangsa yang kuat dengan segala aspek pembangunan yang semakin ditingkatkan. Aku berbangga. Tapi ketidakmerataan ini membuatku sedih.
Anak-anak di pelosok negeri ini masih gigih menyebutkan namamu. Mereka masih mau mengingat lagu kebangsaanmu.

"Kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia"
"Kita tetap setia, tetap sedia membela negara kita"

Mungkin nyanyian mereka itu takkan terdengar sampai ke pusat kota sana karena mereka berada berkilo-kilometer jauhnya dari hingar bingar perkotaan. Tapi percayalah, kesetiaan mereka bukan untuk diabaikan.

Indonesia, dirimu mendapat salam dari Langit Nangerang, Lebak, Banten!






**********

Ending.......

Pernah ada suatu permainan dalam sebuah acara keagamaan di kampus. Dalam permainan itu, setiap orang harus membayangkan bahwa dirinya akan meninggal esok hari, lalu pikirkan apa saja yang akan kita katakan jika hal itu benar-benar terjadi. Mau main sebentar? Mulai dari saya ya. Salah satu kalimat yang akan terselip di kata-kata terakhir saya, mungkin ini:

"Jika saya meninggal esok hari, tolong sampaikan kepada semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini bahwa saya bahagia pernah menjadi bagian dari kisah mereka"

Masih berharap tahun depan bisa kembali lagi di sini dengan cerita baru yang lebih menyenangkan. 
Masih berharap kebahagiaan ini bisa terulang dengan format yang berbeda.
Masih berharap bisa kembali ke sini untuk mengambil segala kenangan yang tertinggal.

Pada akhirnya, 
Terima kasih kepada Allah SWT. yang telah melancarkan segala kegiatan kami selama di Nangerang.
Terima kasih Nangerang Fighters yang telah berjuang menuju satu tujuan yang sama-sama kita rindukan. Jangan pernah bosan untuk berbagi. Semoga kita bisa menjadi suatu keluarga yang dipersatukan oleh Allah untuk selalu berbagi terhadap sesama.
Terima kasih kepada warga Nangerang yang telah membantu lancarnya kegiatan ini. Kang Wawan dan rekan-rekan, terima kasih sudah bersedia kami repotkan. Ibunya kang wawan terima kasih atas makanannya. Ibu Sekdes yang memberikan kami pencerahan untuk tumpangan pulang, terima kasih banyak. Dan seluruhnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu namun insya Allah tidak mengurani rasa terima kasih saya.
Saya selaku ketua pelaksana (#eaaaa) memohon maaf jika ada salah-salah kata dan tindakan. 
Maafkan aku~~~~~~~~~


"Terima kasih untuk kenangannya"
-Redrose-

Watching on Youtube!