Sabtu, 31 Agustus 2013

Mawar 30 Agustus 2013


29 Agustus 2013

‘Cukup sudah!! Sampai kapanpun kau tidak akan mengerti!”. Hera menutup pintu kamarnya dengan keras. Suami Hera, Radith hanya bisa terpaku di depan pintu kamar dan menangis. Ini pertengkaran kesekian kalinya sejak lima tahun usia pernikahan mereka. Pemicu masalah selalu sama, yaitu Radith hanya ingin Hera berhenti bekerja. Ini merupakan masalah yang sangat klise tapi mereka berdua tidak pernah dapat benar-benar menyelesaikannya. Radith masih berdiri di depan pintu tanpa berkata apapun. Jam menunjukkan pukul satu pagi dan Sarah anak mereka yang berusia tiga tahun sedang tertidur lelap.
“Hera, kau dengar aku?”. Kata Radith dari depan pintu kamar namun Hera tidak menjawab.
“Baiklah aku anggap kau mendengarku. Dengar, besok aku akan membawa sarah bersamaku ke rumah orang tuaku. Maaf bukannya aku tidak percaya lagi padamu tapi aku rasa Sarah akan merasa lebih baik jika ia ku titipkan di sana untuk sementara. Aku juga akan tinggal di sana. Dan untuk pekerjaanmu, lakukanlah sampai kapanpun kau mau. Aku sudah tidak peduli lagi”. Usai mengatakan hal itu Radith segera pergi. Dugaan Radith benar, Hera memang mendengar ucapannya. Kini Hera hanya bisa menangis.

***
30 Agustus 2013

Radith tengah mempersiapkan pakaian Sarah yang akan dibawa ke rumah Ibunya. Sarah yang masih berusia tiga tahun sedang asyik menonton acara televisi kesukaannya sambil meminum susu coklat.
“Jangan bawa Sarah pergi”. Tetiba Hera keluar dari kamar.
“Terlambat, ini sudah aku putuskan”. Radith tidak menatap Hera sedikitpun. Ia fokus merapikan barang-barang yang hendak ia bawa. Persiapan selesai. Radith menghampiri Sarah dan segera menggendongnya. Dengan koper yang ia tarik dengan tangan kirinya, Radith berjalan keluar rumah.
“Aku akan berhenti kerja”. Hera berteriak dan berhasil menghentikan langkah Radith.
Namun Radith lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Hera. Ia tetap berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
“Radith, kumohon. Jangan pisahkan aku dengan Sarah. Jika kau ingin aku berhenti kerja, baiklah aku akan berhenti. Asalkan Sarah tetap bersamaku. Kumohon jangan pergi”. Hera menangis di depan pintu mobil Radith. Sedangkan Radith hanya menatap Hera dengan tatapan sinis seolah mengatakan semuanya sudah terlambat. Tanpa berkata sedikitpun, Radith menyalakan mesin mobil dan segera melaju dengan cepat. Melihat hal itu Hera hanya terduduk di tepi jalan sambil menangis.
Hera kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah yang gontai. Seharian ia tidak bernafsu untuk makan. Bahkan hari ini ia pun tidak berangkat kerja seperti biasanya. Hera adalah seorang wanita karir yang sangat sukses. Sebelum menikah karirnya pun sudah sukses. Bahkan melebihi kesuksesan Radith. Setelah menikah orientasi Hera tetap pada karir. Di awal pernikahan, Hera meminta pada Radith untuk menunda memiliki anak. Radith pun menuruti keinginan istrinya tersebut hingga akhirnya selama dua tahun mereka tidak memiliki anak. Setelah dua tahun Radith merasa merindukan adanya sang buah hati. Akhirnya lahirlah Sarah ke dunia ini. Namun kehadiran Sarah sepertinya tidak membuat keluarga ini bahagia. Lebih tepatnya hanya Radith yang bahagia. Tapi Hera?? Ia merasa tersiksa. Bagi Hera, Sarah hanya mempersempit ruang geraknya. Hera menjadi tidak bisa fokus pada karir. Itulah sebabnya Hera menjadi lebih sering meninggalkan Sarah dengan pembantu di rumah demi pekerjaannya. Demi karirnya yang cemerlang. Hera tidak pernah menyadari bahwa tingkahnya itu membuat Radith sangat kecewa. Hari ini kekecewaan Radith pada Hera sudah sampai pada puncaknya. Tidak ada pilihan lain selain berpisah dan membawa Sarah pergi bersamanya. Untuk saat ini, itulah jalan terbaik bagi Radith.

Hera merasa bodoh jika hanya terdiam di rumah meratapi kepergian suami dan anaknya. Sore ini Hera akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Radith. Tujuannya hanya satu, meminta keluarganya itu untuk kembali. Dengan cepat Hera melajukan mobilnya. Pandangan Hera terhenti pada sebuah toko bunga di tepi jalan. Hera melambatkan laju mobilnya kemudian berhenti tepat di depan toko bunga itu. Hera keluar dari mobil menghampiri deretan bunga mawar yang dipajang pada bagian depan toko.
“Ingin membeli mawar yang mana mbak?”. Tanya seorang wanita penjual bunga kira-kira seusia dengan Hera.
“Ehmm aku mau yang ini”. Hera menunjuk pada buket yang berisi mawar merah.
“Mawar merah? Pilihan yang bagus”. Kata wanita penjual bunga sambil tersenyum.
“Memang bagus. Itu adalah mawar kesukaan suamiku”. Hera mengambil dompet dari dalam tasnya.
“Wah suami anda sedang ulang tahun ya? Romantis sekali dibelikan mawar”. Wanita penjual bunga tersenyum lebar.
“Ah tidak, ada sesuatu yang harus kuselesaikan”. Hera berusaha tersenyum meskipun kini ekspresi wajahnya terlihat sedih.
“Maaf mba jika saya lancang”. Wanita penjual bunga menyadari ucapannya salah.
“Tidak apa-apa. Oiya jika boleh tahu, mengapa anda hanya menjual mawar? Sejak tadi kulihat tidak ada bunga lain di toko ini”. Hera melihat ke sekeliling.
“Oh itu… Membuka toko mawar adalah impian aku dengan suamiku. Tidak boleh ada bunga lain yang dijual di sini selain mawar”.
“Impian yang sangat menarik. Aku dan suamiku juga mempunyai mimpi tentang mawar. Setelah menikah akan membuat taman mawar yang luas di halaman rumah. Dan tentunya didominasi dengan mawar merah kesukaannya itu. Sayangnya hingga hari ini impian itu belum juga terwujud. Dan kurasa ini salahku”. Hera bercerita.
“Setidaknya anda masih punya waktu untuk mewujudkannya bersama suami anda”. Wanita penjual bunga itu tertunduk.
“Maksudnya?”. Hera merasa heran
“Toko bunga mawar ini baru bisa aku buka setelah suamiku meninggal. Kami tidak sempat mewujudkannya bersama-sama”.
 “Ma..maaf harusnya aku tidak membahas ini”.
“Tidak apa-apa. Oiya ini mawar merah yang anda mau”. Wanita penjual bunga itu menyerahkan mawar pada Hera sambil tersenyum. Hera membayar mawar itu dan segera menuju mobilnya.
Wanita penjual bunga menghampiri Hera.
“Semoga impian anda dan suami anda terwujud”. Mendengar hal itu Hera hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan.
“Aku tidak yakin masih punya waktu untuk mewujudkannya bersama suamiku”. Kata Hera dalam hati.

***
“Hallo selamat sore, benar ini dengan Pak Radith?”. Ucap seorang pria dari seberang telepon.
“Iya benar, siapa ini?”.
“Kami dari kepolisian. Istri anda yang bernama Hera Ferdiana mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal di TKP.


Setibanya di kantor polisi…….
“Pak Radith, kami menemukan ini di mobil istri anda. Kelihatannya ini memang untuk anda”. Polisi berkumis menyerahkan buket bunga mawar merah pada Radith. Di dalam buket itu terdapat secarik surat.

“Radith, maafkan aku. Mungkin kau bosan mendengar ucapan maaf dariku. Tapi, aku bisa pastikan ini adalah ucapan maaf terakhir dariku. Jika kau memaafkanku, aku kan berusaha menjadi istri yang baik bagimu. Dan yang terpenting aku akan menjadi ibu yang baik bagi Sarah. Oiya, anggap saja mawar merah ini sebagai ucapan maaf dariku. Aku baru sadar sudah hampir lima tahun aku tidak pernah memberimu mawar merah. Bahkan keegoisanku membuat mimpi kita tentang membuat taman mawar terbengkalai. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu bersamamu dan juga Sarah. Maafkan aku”.
                                                                                                Dari istri yang selalu mencintaimu, Hera.

Radith menangis sambil memeluk Sarah yang tengah berada dalam gendongannya.

The End

Aku akan memberikan kesempatan, namun nyatanya kau yang tidak memberikanku kesempatan. Bahkan kau tidak memberikanku kesempatan untuk berkata "iya aku maafkan" di detik-detik terakhirmu.
(Radith)


Selasa, 27 Agustus 2013

Sinopsis "Invisible"

Terkadang cinta membutuhkan sesuatu yang logis untuk mengerti sesuatu yang tidak logis. Membingungkan? Inilah yang dialami oleh Zahra. Cinta telah membuatnya mengikuti imajinasi seorang pria blasteran Indonesia-Korea bernama Seon Ho. Pria bermata coklat itu memiliki teman khayalan yang ia beri nama Sierra. Akibatnya Zahra merasa seperti orang gila yang berbicara pada sosok yang tidak bisa dilihat. Namun bagi Seon Ho, Sierra bukanlah makhluk fiktif. Baginya Sierra itu nyata. Zahra tidak memiliki pilihan lain selain semakin terjerumus masuk ke dunia Seon Ho. Hingga akhirnya cinta itu pun berhasil ia dapatkan. Dan ketika cinta itu diuji, kesetiaan dipertaruhkan di sini. 

***
"Kepada siapa kau akan menceritakan semua masalah hidupmu dan menanyakan solusinya? Pada ibumu? Ayahmu? Sahabatmu? Temanmu?. Bisa saja, tapi tak semua hal bisa kau ceritakan pada mereka. Sedekat apapun kau dekat dengan seorang sahabat di dunia ini, pasti ada hal yang enggan kau ceritakan padanya. Karena menurutmu masalah yang kau miliki terlalu pelik, terlalu memalukan, aib pribadi, dan semacamnya. Iya kan?. Hingga pada akhirnya kau menahan masalah itu sendirian dan sakit sendirian juga". (Sierra)

***
Mengapa hanya cintaku yang terlambat
Mengapa hanya cintaku yang sulit
Meskipun aku tepat berada di depanmu, meskipun aku tepat berada di sampingmu

Kau adalah seluruh duniaku
Aku hanya melihatmu
Tapi ketika ketika aku di depanmu, aku selalu berpaling 
(Seon Ho)

***
"Tak ada kisah cinta yang terlepas dari penantian. Meskipun aku sadar tak semua penantian dibalas dengan cinta".
(Zahra)

Minggu, 25 Agustus 2013

Bahagia Itu Sederhana #DesaInspiratifMIPA2013

Perjalanan ini tentang pengabdian, kebersamaan, persahabatan, kepedulian, keceriaan, kegigihan dan cinta antar sesama.


Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah sebuah guratan senyum dari bibir mungil anak-anak di Desa Kebun Cau. Mereka, kecil namun menginspirasi. Mereka bukan anak-anak dengan gadget mewah di tangannya, bukan juga anak-anak yang dikelilingi oleh kemewahan materi. Mereka hanyalah anak-anak kecil yang dengan kenakalan dan kepolosannya hidup di sebuah desa yang nun jauh di Lebak, Banten sana dengan sejuta cita-cita di hatinya. Itulah mereka. Sebut saja Iman, yang bercita-cita menjadi seorang presiden meskipun dengan kondisi sekolah yang jauh dari kata layak. Dengan lantang ia berkata "Panggil aku presiden". Entah ia terlalu polos atau apa, yang jelas kata-katanya membuat hati ini bergetar. Cita-cita sehebat itu berada di tempat seperti ini. Tempat seperti apa? Kalian  pasti pernah menonton film Laskar Pelangi kan? Kira-kira seperti itulah kondisinya. Sekolah di daerah Nangerang ini hanya berdinding bilik dan tidak berlantaikan keramik. Sekolah ini hanya memiliki dua kelas dengan kondisi bangku dan meja yang memprihatinkan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas sekarang. Itulah hanyalah sedikit gambaran mengenai seperti apa tempat mereka belajar. Terlepas dari semua keterbatasan yang ada, mereka tetap bangkit. Mereka tetap memiliki semangat sekolah yang tinggi meskipun harus menempuh jalan yang jauh menanjak serta berbatu untuk sampai ke sekolah. Kaki-kaki mungil mereka tetap melangkah sambil tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada kami yang menyapanya. Tidak terlihat rasa lelah di raut wajah mungil polos mereka. Anak-anak itu menyambut kami dengan baik. Menyambut kehadiran kami dengan gembira. Tak ragu untuk bermain, bercanda, tertawa, dan belajar bersama kami. Banyak hal yang kami ajarkan, namun banyak juga yang mereka ajarkan kepada kami. Dan ilmu yang mereka ajarkan tidak bisa dibeli di sekolah manapun apalagi di toko bagus dot com. Ilmu ini hanya bisa didapat dengan cara terjun langsung di masyarakat. Mengabdi ke suatu tempat yang jauh dari perhatian masyarakat luar. Bahkan ilmu ini tidak bisa dideskripsikan, mungkin juga ilmu ini hanya akan dimengerti bagi yang menjalankan. Rasanya seperti memiliki adik-adik baru. 

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah mentari pagi yang selalu mengintip dari balik bukit dan dengan cepat merayap naik memancarkan sinarnya. Keindahan ini tidak bisa kami nikmati setiap hari di kota. Tapi di sini, keindahan itu terasa nyata. Warna jingga dan kehangatan mentari pagi dilengkapi dengan udara nan sejuk membuat hati ini lebih bersyukur atas ciptaan-Nya. Di Desa yang bersahaja ini, kami masih diberikan kesempatan untuk melihat kerbau, sapi, dan kambing yang berkeliaran bebas. Mata kami dimanjakan dengan kambing-kambing yang berlarian kemudian asyik memakan rumput di tepi jalan. Telinga kami dihibur dengan suara jangkrik yang saling bersahutan setiap malam. Sesekali suara tokek berbunyi di salah satu rumah warga. Suasanya sepi nan asri dari desa ini membuat nyayian alam itu terdengar sangat jelas. Sungguh suara-suara yang jarang sekali kami dengar. Dan ini kami dapatkan di sini, di sebuah desa yang tidak banyak diperhatikan masyarakat luar.

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah sepiring sukun goreng dan sepiring keripik maupun pisang goreng yang disediakan oleh pemilik rumah tempat kami menginap setiap pagi dan malam. "Kami tidak bisa menyediakan makanan yang mewah". Itu yang mereka katakan. Tapi bagi kami ini semua sudah lebih dari cukup. Meskipun hanya telur, ikan, dan sayur mayur setiap hari, makanan itu selalu nikmat saat disantap. Pemilik rumah dengan kesederhanaannya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Bagi kami, makanan apapun yang disediakan tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah rasa kekeluargaan yang mereka bangun di sini. Ya, kekeluargaan. Rasanya seperti memiliki keluarga baru. Mengobrol saling bertukar cerita bersama mereka itu menyenangkan. Sesekali keterbatasan bahasa sunda kami dan keterbatasan bahasa Indonesia mereka membuat kami tertawa.  Rasanya tertawa itu menjadi bahasa universal. Berusaha mengerti atau istilahnya privat bahasa sunda dengan mereka sudah menjadi pekerjaan kami sehari-hari. Dan itu menyenangkan.

Bahagia itu sederhana ketika kesederhanaan dilihat sebagai kesehajaan yang bukan dijadikan sebagai pembatas, tapi justru menciptakan semangat tinggi untuk terus bangkit dan membangun Desa Kebun Cau menjadi lebih baik lagi. Selama sepekan kami belajar dan mengajarkan. Sudah cukup banyak kenangan yang tercipta di tempat ini. Setelah kepulangan ini mungkin kami akan merindukan suara salawatan Ajun yang merdu, merindukan senyuman Muhdin (Nail Junior), merindukan sikap ceplas ceplos dari Opik, merindukan kenakalan Atang, merindukan mata 5 watt yang dimiliki oleh Deden, merindukan wajah cantik Anita, merindukan wajah imut Nurbaeni, merindukan sapaan halo atau hai dari Hedi, Juhe, dan kawan-kawannya. Dan masih banyak lagi yang akan kami rindukan. Bagi kalian yang bertugas di tempat lain, pasti kalian memiliki kerinduan masing-masing. Iya kan? 
Secara pribadi saya berterimakasih kepada Allah karena memberika kesempatan kepada saya untuk mengikuti acara Desa Inspiratif ini. Semoga efek dari pelajaran hidup ini tidak seperti obat yang hilang dalam beberapa jam. Semoga pelajaran ini akan terus melekat di hati dan membangun rasa kepedulian yang tinggi antar sesama. Dan semoga ilmu yang kami terapkan di Desa Kebun Cau menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pembangungan desa tersebut. Semoga kehadiran kami tidak sekedar mejadi "iklan" yang hanya numpang lewat, tapi bermanfaat setiap waktu serta berkelanjutan. Aamiin

Desa Inspiratif Caring and Educating

Bahagia itu sederhana ketika penyebabnya adalah kelelahan yang dibayar dengan kenangan indah. #redrose

Jumat, 16 Agustus 2013

Commuter Line Pertama Jono

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. (Nah loh, di muka siapa tuh duduknya?) Okeh abaikan saja. Itu hanya untuk sedikit mengingatkan pada kita tentang lagu anak-anak yang sangat fenomenal. Kenyataannya saat ini kita tidak bisa pergi ke Kota dengan menggunakan delman. Kasian dong kudanya kecapean. Sekarang kita bisa naik kereta api.

Hemm mulai ya. Alkisah ada seorang pria muda yang tinggal di daerah citayam. Pada hari Senin ia mengeluarkan motor dari rumahnya. Tetiba ada si Narman lewat dengan jalan kaki. (Tak sengaja lewat depan rumahmu~~~). Eits, back to the Jono's story.
"Wah Jon, mau kemana kamu pagi-pagi begini?". Tanya Narman pada Jono.
"Mau ke Kota, Man. Ke rumah Pak Haji Jati pemilik rumah ini". Jawab Jono sambil menyalakan mesin motornya.
"Atuh bareng saya saja. Saya juga mau ke Kota". Narman bersemangat.
"Aduh gimana yah, bukannya gamau bareng. Tapi saya ga punya helm lagi buat kamu". Jono terlihat tidak enak dengan Narman.
"Siapa bilang kita bareng naik motor? Naik kereta saja. Kereta Commuter Line. Kan sekarang mah sudah murah. Sudah pakai tarif progresif. Jadi harga tiket sesuai dengan jumlah stasiun bla bla bla bla bla". Narman menjelaskan panjang lebar.
"Hoooo gitu..... Wah kabar bagus itu mah. Hayu atuh naik kereta saja. Daripada bawa motor, BBM kan udah naik. Mahal". Terlihat ekspresi kegirangan dari Jono.
Perbincangan selesai tanpa ada tanggapan dari Narman yang sebenarnya Narman bingung mengapa Jono baru tau akan hal ini. Padahal sistem tersebut sudah berjalan lebih dari sebulan.
Di loket stasiun Citayam..
Pagi ini adalah hari Senin. Bayangkan sendiri bagaimana padatnya antrian penumpang kereta. Di sana ada beberapa antrian. Awalnya Jono mengantri di belakang Narman, namun tetiba Jono pindah antrian ke sebelah kiri Narman ketika ia melihat tulisan di loket.
"loh kenapa pindah Jon?".
"oh aku memang harus di sini. Ini antrian untuk tiket single trip. Sedangkan kamu multi trip". Jono nyengir.
"kamu beli yang multi trip saja, lebih enak nantinya". Bujuk Narman.
"Tidak mau". Jawab Jono singkat kemudian fokus mengantri.
Antrian yang panjang sepanjang silet itu pun akhirnya berhasil dilalui oleh Jono dan Narman. Dengan sabar Narman mengajarkan Jono cara melewati gate yang ada di stasiun sehingga kini mereka sudah berada di peron stasiun dngan damai.
"Man, kok kita berdiri di sini? Di sini banyak sekali orangnya. Kita di sana saja yang kosong!" Ajak Jono sambil menunjuk ke peron di seberang.
"Dudul kamu Jon. Di sana itu kereta tujuan Bogor. Kan kita mau ke Kota, bukan ke Bogor". Narman mendesis.
"Gitu ya?? Baru tau saya". Jono menggaruk-garuk kepalanya.
"Nah tuh kereta datang!!" Narman mengejutkan Jono yang sedang asyik memandangi  tiket kereta miliknya. Dengan sedikit atau mungkin banyak perjuangan, Jono dan Narman berjuang memasuki kereta dengan penumpang lainnya. Saling sikut, teriakan kesakitan karena kaki terinjak, dan suara-suara lainnya mulai terdengar sekarang. Hap hap hap, akhirnya Jono dan Narman sudah berada di dalam kereta sekarang. Mereka tidak bisa bergerak sedikit pun. Badan mereka terjepit oleh orang lain yang kebetulan postur tubuhnya lebih tinggi dari mereka. Namun dalam kondisi terjepit bukan berarti tidak bisa mengobrol kan??
"Man, saya mau tanya". Jono memulai pembicaraan di dalam kereta yang penuh sesak namun hening ini.
"apa Jon?".
"Sejak kapan kamu punya pacar? Kok tidak cerita ke saya?". Tanya Jono heran.
"pacar? Belum, ah kamu meledek saja". Narman lebih heran.
"wah berarti kamu penipu ya?". Jono mengeraskan volume suaranya.
"penipu apanya!?". Narman tak mau kalah dengan suaranya.
"Lah itu tadi kamu beli tiket multi trip, harusnya kamu beli tiket single trip kaya saya". Jono dengan susah payah menunjukkan tiket miliknya.
Narman hanya bengong mendengar ucapan Jono. Orang-orang di kereta menoleh ke arah Jono. Jono kebingungan celingak celinguk tidak jelas. Terdengar seorang pria dengan kemeja biru tak jauh dari Jono berkata
"dasar jomblo".
Tetiba kereta berhenti karena ban-nya bocor.......

The End

Kamis, 15 Agustus 2013

Abang VS Eneng

Siang ini begitu terik. Matahari seolah tertawa dan berlari-larian dengan awan putih di langit nan biru. Di bawah sebuah pohon mangga di tepi jalan raya berteduhlah seorang pria dari ganasnya sinar matahari yang menyengat, sebut saja dia Ujang. Ujang duduk si bawah pohon sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan koran yang ia bawa. Sesekali Ujang mengelap keringat yang menetes di lehernya dengan handuk kecil. Di samping pohon mangga itu juga Ujang memakirkan gerobak bakso miliknya. Ujang memperhatikan mobil dan motor yang berlalu lalang dengan serius. Tetiba mata Ujang tertarik pada sebuah objek nan jauh di seberang jalan. Seorang wanita berambut coklat dan kulit putih. Wanita itu kemudian menyebrang jalan sambil menutupi kepalanya dengan map biru yang ia bawa. Sedangkan mata Ujang masih terus tertuju pada wanita yang ternyata dari jarak dekat baru disadari bahwa wanita itu adalah seorang artis ibukota yang sedang terkenal, sebut saja ia Mawar. Seperti mimpi di siang bolong Mawar terus berjalan ke arah Ujang dan kini berdiri tepat di samping Ujang. Melihat hal itu Ujang pun segera berdiri. Ujang melihat ke sekeliling, tidak ada orang lain di sana selain mobil dan motor yang berlalu lalang dengan cepat di depan mereka.
"Mau kemana neng panas-panas begini?". Ujang memberanikan dirinya untuk bertanya. Namun Mawar hanya tersenyum tidak menjawab.
"Oiya neng ini artis kan ya?". Tanya Ujang lagi. Mawar pun menoleh ke arah Ujang dan lagi-lagi hanya tersenyum.
"Ah si eneng ditanya teh malah senyum-senyum wae. Jawab atuh neng". Ujang senyum-senyum tak karuan. Kemudian Ujang tidak berani lagi bertanya. Ia kembali duduk di bawah pohon.
"Baksonya masih ada ga, Bang?". Tetiba Mawar bertanya. Mendengar hal itu Ujang terperanjat dan segera berdiri lagi.
"Ada neng ada. Eh tapi nama saya teh bukan Bambang. Nama saya mah Ujang. Panggil saja Mang Ujang". Ujang menghampiri gerobaknya.
"Maksud saya bukan Bambang, tapi Abang". Mawar mencoba menjelaskan.
"Ohhh Abang". Ujang pun tersenyum. 
"Eh tapi neng, si Abang itu siapa? Temennya Eneng? Emangnya saya mirip gitu sama si Abang?". Ujang mengambil mangkuk dari gerobaknya. Bersiap meracik bakso andalannya.
"Ih bukan itu maksud saya". Mawar mulai terlihat geram. Namun Ujang tidak menghiraukannya.
"Neng baksonya pake mie atau tidak?". Tanya Ujang kemudian.
"Emangnya siapa yang mau beli bakso?". Mawar melirik Ujang dengan sinis.
"Lah?? Tadi eneng nanya kan? Bukannya mau beli bakso saya?". Ujang keheranan.
"Tadinya iya, tapi GAK JADI". Jawab Mawar lantang.
"Kenapa gitu?". Ujang semakin bingung
"Soalnya Abang ngeselin". Mawar berjalan menjauh dari Ujang.
"Eleuh eleuh Si Eneng, saya teh bukan Abang tapi Ujang.  Masa tidak percaya?". Ujang bicara sedikit berteriak. Mawar menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Ujang.
"Nama saya Mawar, bukan Eneng!!!". Mawar mempercepat langkahnya meninggalan Ujang sendirian di bawah pohon. Ujang merasa bingung kemudian kembali duduk di bawah pohon dan berbicara sendirian.
"Saya teh tau kalau dia Mawar. Kan sering liat di tipi. Atuh Eneng mah cuma nama panggilan. Aduuhh cewek cantik kaya dia kok bisa begitu ya. Bebel"
Tetiba hujan deras sederas-derasnya!!!

The End

Rabu, 14 Agustus 2013

Dibuang Sayang

Mungkin setiap orang suka memandang remeh pekerjaan ini. Tukang sapu jalanan. Ya, pria atau wanita dengan baju seragam kebanggaan bewarna orange dan dengan senjata andalannya yang di dalam film Harry Potter digunakan untuk terbang. Sayangnya para tukang sapu di sini tidak dilatih untuk terbang. Oke back to story. Kisah ini dimulai ketika ada seorang bapak-bapak berjenggot membawa kantong keresek berisi air mineral. Entah karena haus atau memang terburu-buru ia segera meminum air mineral miliknya sambil terus berjalan. Setelah dirasa itu adalah tetesan terakhir, bapak itu segera membuang botol air mineral itu ke tepi jalan tanpa mempedulikan sang tukang sapu yang tengah beristirahat makan siang di tepi jalan tersebut. Melihat hal itu sang tukang sapu pun segera memungut botol air mineralnya dan berlari kecil mengejar bapak berjenggot tadi.

"maaf pak". Katanya menepuk pundak bapak berjenggot.
"ada apa ya?". Bapak berjenggot segera menoleh. Ia lihat botol air mineral miliknya ada di tangan sang tukang sapu kemudian ia lanjut bicara.
"ah iya maaf tadi aku buang sampah sembarangan. Aku terburu-buru".
"tapi pak, lain kali...." belum selesai sang tukang sapu bicara, bapak berjenggot memotong ucapannya.
"iya lain kali saya tidak akan melakukannya lagi. Saya sangat menghargai petugas kebersihan seperti anda".
"terima kasih pak, tapi bisakah...". 
"oh bisa bisa". Bapak berjenggot memotong ucapan sang tukang sapu lagi. Sang tukang sapu enggan bicara sekarang. Ia segera memberikan botol air mineral itu pada bapak berjenggot.
"he?? Apa-apaan ini?" bapak berjenggot bingung.
"sebenarnya sejak td saya ingin bilang. Ada hadiah mobil di tutup botol air mineral itu. Apakah bapak tidak mau mengambil hadiahnya?" ucap sang tukang sapu geram.
"benarkah??" kemudian bapak berjenggot itu pun pingsan. Sungguh sang tukang sapu yang sangat jujur.

The End

Selasa, 13 Agustus 2013

Wien Anak yang Malang

Selamat malam. Bukan, ini bukan kisah pembunuhan seperti yang ramai diberitakan di TV. Ah ini juga bukan tentang mutilasi apalagi tentang padatnya arus mudik. Ini hanya sebuah kisah tentang seorang anak yang mencari ibunya. Ya, mencari ibunya. Hemmm seperti hachi yang sebatang kara. Usianya sekitar 8 tahun. Namanya Wien asli Prancis lahir di Citayam. Hari ini sudah selama dua jam ia mencari ibunya hanya dengan bermodalkan foto ibunya. Dengan polosnya ia menanyakan pada setiap orang yang ditemuinya. Jawaban orang-orang itu pun beragam. Dimulai dari orang yang prihatin hingga justru ingin berniat jahat pada Wien. Namun Wien tidak pernah menyerah. Kaki kecilnya itu terus melangkah menyusuri kota. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang kakek tua renta di perempatan jalan. Seperti biasa ia langsung menunjukan foto ibunya pada kakek tua itu. 
"permisi kek, pernah melihat wanita ini? Dia ibuku dan entah pergi kemana". 
"hemmm". Kakek itu berpikir sebentar. 
"ah aku pernah melihatnya" kata kakek itu kemudian. Wien terlihat sangat senang. 
"benarkah? Di mana?" tanya wien bersemangat. Namun kakek tua itu hanya tersenyum kemudian berkata. 
"itu di belakangmu". 
"he???" Wien menoleh ke belakang. Ia sangat senang melihat ibunya itu. Dengan cepat ia segera memeluk ibunya. 
"ibu, kau kemana saja. Aku sudah lelah mencarimu kemana-mana". 
"bodoh!! Ini hanya main petak umpet. Kau tidak perlu pakai foto untuk mencari ibu!!!" Ibunya marah. Sedangkan kakek tua itu hanya tertawa dengan giginya yang hampir tidak ada itu. 
.........The End..........