Selasa, 26 Februari 2013

Destiny


Fiktif, namun begitu berarti.............................

Aku tidak mengerti apa yang membuatmu berbeda. Apa yang membuat mataku hanya tertuju padamu di tengah keramaian itu. Apa yang membuatku berhari-hari penuh tanya "Siapa dirimu?". Berhari-hari pula aku hanya berani menatap gerak-gerikmu dari kejauhan. Hingga akhirnya aku memiliki kesempatan untuk bertanya, seketika bibirku kelu ketika ada di dekatmu. Aku hanya bisa memandangimu yang ternyata dari jarak sedekat itu kau terlihat lebih indah. Aku berpikir betapa bodohnya aku. Mengapa aku hanya terdiam? Tapi ternyata kesempatan keduapun datang. Kini kita saling bicara untuk pertama kalinya. Masih teringat jelas dalam benakku semua kata-kata yang pertama kali kau ucapkan padaku. Bahkan posisi perbincangan kita, cara bicaramu, gaya tertawamu, aku masih ingat semua. Meskipun kau hanya berbicara dua kalimat, bagiku itu indah. Sejak perbincangan itu, aku menemukan titik terang tentang siapa dirimu. Ya, aku tahu sekarang. Mungkin ini yang mereka bilang takdir. Mungkin ini yang mereka bilang cinta pada pandangan pertama. Mungkin ini yang mereka bilang dari mata turun ke hati. Percayalah, aku menyukaimu sejak kau berada sepuluh meter di hadapanku. 

Ketika kita berpapasan kaulah yang selalu menyapaku terlebih dahulu, tapi kau tak pernah tau hanya aku yang akan menoleh ke belakang untuk memperhatikan punggungmu yang menjauh.

Ketika orang lain menatapmu dengan penuh kebencian, hanya mataku yang tesenyum dengan semua tingkah lakumu itu.

Ketika orang lain tak ingin mendengarkan ocehanmu, ketahuilah ada aku disini yang setia memasang telinga meskipun aku tak mengerti apa yang kau ucapkan.

Ketika semua orang mengolok-olok kekuranganmu, kumohon mengertilah setiap kata-kataku padamu takkan pernah mengandung ejekan untukmu.

Ketika mereka bilang kau jahat karena terang-terangan sudah memanfaatkanku, aku percaya akulah yang lebih jahat dari itu. Karena aku diam-diam memanfaatkamu demi terciptanya senyumanku, demi kokohnya semangatku, dan demi abadinya kebahagiaan hari-hariku. 

Pada akhirnya kita memang saling membutuhkan. Aku membutuhkan kehadiranmu, dan kau membutuhkan keberadaanku. Meskipun dengan alasan yang jauh berbeda. 


Percayalah, aku menyukaimu sejak kau berada sepuluh meter di hadapanku




Tidak ada komentar:

Posting Komentar