Halaman

Selasa, 01 Juli 2014

Pesawat Pertama



Pagi-pagi sekali aku bergegas menuju bandara dengan mobil sedan putihku. Aku fokus di balik kemudi sambil sesekali melirik jam di tangan kiriku. Kurasa ini hal yang salah, karena setiap kali aku melirik jam tangan, aku akan semakin menambah kecepatan mobilku.
“Dua puluh menit lagi, apa bisa?”. Gumamku sendirian ketika terjebak macet di lampu merah. Tetiba teringat pesan dari Iwan semalam. Aku segera meraih handphone yang kuletakkan di jok samping.

“Assalamu’alaikum, Aku pamit ya. Besok akan pulang ke Kalimantan. Aku naik pesawat penerbangan pertama besok pagi, pukul  7.30 WIB. Doakan semoga selamat sampai tujuan. Aamiin. Wassalamu’alaikum”

Berkali-kali aku baca pesan dari Iwan tersebut hingga akhirnya suara klakson mobil di belakangku menyadarkan lamunanku. Hmm sudah hijau rupanya. Aku kembali melaju dengan kecepatan kencang, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

***

Hal pertama yang kulakukan ketika menginjakkan kaki di bandara adalah melihat jam tangan.
“7. 25. Haft hanya tersisa 5 menit. Masih mungkinkah?”. Gumamku sendirian sambil berjalan cepat menuju gate in. Suasana bandara begitu ramai pagi ini. Terang saja begitu, 2 hari lagi masuk bulan Ramadhan. Pasti banyak orang yang ingin pergi ke kampung halaman, termasuk Iwan. Iwan adalah teman dekatku di kampus. Ya kami dekat. Namun, satu minggu yang lalu sesuatu terjadi di antara kami. Hal tersebut membuat kami tidak berkomunikasi hingga hari ini. Terakhir, pesan yang kemarin kubaca adalah pesan pamit darinya. Ini menyedihkan.
Aku msaih berlari dan terus berlari hingga akhirnya langkahku terhenti. Aku mengatur napasku yang terengah-engah sambil melihat ke sekeliling. Ramai. Ramai sekali. Banyak wajah-wajah asing di sini. Tak ada satupun wajah yang kukenal, lebih tepatnya yang kucari, Iwan.
7.35!
Aku semakin putus asa. Pesawatnya pasti sudah tinggal landas. Kurasakan lemas di sekujur tubuhku. Jika tidak sedang di tempat ramai, mungkin saat ini aku akan segera duduk tergeletak di lantai. Satu hal yang paling kusesali adalah mengapa semalam aku tidak langsung membalas pesannya? Bahkan untuk sekadar mengucapkan “Hati-hati di jalan” pun aku tak mampu.
Langkah kaki ini terasa semakin berat. Aku melangkah perlahan sambil berharap ada sesuatu yang membawaku pulang dengan cepat dari tempat memilukan ini. Dengan langkah gontai, tanpa sengaja tas kecil yang kubawa terjatuh ke lantai. Aku berusaha meraihnya dengan sisa tenaga yang kupunya. Namun seseorang telah mendahuluiku untuk mengambilnya.
“Kau?? Sedang apa kau di sini?”. Tanyaku heran ketika melihat pria berjaket coklat dengan sorotan mata yang kukenal berdiri di depanku sekarang.
“Aku? Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini? Mau pergi ke mana?”. Pria itu malah balik bertanya padaku dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya denganku.
“Jawab dulu pertanyaanku, Wan. Bukankah pesawatmu sudah tinggal landas sejak 10 menit yang lalu?”.
“Pesawatku?? Hooo iya memang sudah tinggal landas, tapi pesawatku bukan yang itu. Jadwalnya nanti jam 9.30 WIB”. Iwan menjelaskan sambil tertawa kecil.
“Tapi semalam kau bilang….. Pesawatmu itu jam… tapi semalam….”. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku dengan benar. Air mata mulai menggenang di mataku.
“Hmm maaf aku membohongimu tentang itu. Sebenarnya….. ini”. Katanya tidak meneruskan apa yang ingin ia ucapkan. Ia memberikan sebuah tiket penerbangan padaku.
“Tiket? Tiket siapa?”. Tanyaku heran sambil menerima tiket tersebut dari tangannya.
“Untukmu. Kita berdua akan ke Kalimantan hari ini”. Iwan tersenyum manis padaku.
“Apa-apaan ini? Kau ini lupa atau apa? Bukankah kita…….”. Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Iwan sudah berbicara kembali.
“Rilla, meskipun semalam kau tidak membalas pesanku, aku yakin pagi ini kau pasti akan ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Wah ternyata benar kan kau ke sini. Dan ide kebohongan itu sebenarnya adalah ide Ayah dan Ibumu. Mereka ingin memberikan kejutan padamu”. Kini senyum Iwan semakin melebar.
“Ayah dan Ibu? Kejutan? Jadi kita?”. Air mata yang sejak tadi menggenang sudah tak bisa tertahan lagi, kini aku berurai air mata sambil tersenyum bahagia.
“Hmm iya. Sesuai janjiku, aku akan kenalkan kau kepada orang tuaku di Kalimantan. Masalah keberangkatan sudah kuurus. Ayah dan Ibumu akan datang nanti ke sini membawakan pakaian untukmu. Jadi kau tidak usah khawatir. Cukup ikut saja denganku”.
“Wan, kau yakin dengan semua ini?”. Tanyaku sambil menunduk.
“Insya Allah yakin. Hingga hari ini, sejauh inilah usahaku untuk kita. Aku akan sisakan usahaku untuk menghadapi orang tuaku nanti. Kau juga terus berusaha ya, semangat Rilla”.

“Terima kasih, Wan. Insya Allah”. 


Kisah ini hanya imajinasi seorang redrose belaka yang terinspirasi dari kisah 'hampir' nyata seorang sahabat. Menulis itu kadang merangkai masa depan, bukan? Menulis itu harapan. -Redrose

Tidak ada komentar:

Posting Komentar