Kamis, 26 Juni 2014

Tiga Hari dibulan Juni

Perjalanan ini dimulai dengan sebuah ide sederhana, namun menghasilkan pengalaman yang tidak sederhana. Berawal dari kepedulian terhadap sesama, kemudian melahirkan kenangan berharga.
Tidak ada maksud lain selain "membantu"
Tidak ada tujuan lain selain "berbagi"
Meskipun terselip tujuan "liburan" di sana, namun kami harap liburan ini menjadi liburan yang bermanfaat. Baik itu untuk kami, maupun untuk anak-anak di Nangerang, Lebak, Banten. 

Untuk dapat sampai di tahap ini bukanlah perjalanan yang singkat. Banyak perencanaan-perencanaan yang telah dibuat dan cukup membuat pusing kepala. Namun kami tidak menyerah, bahkan ketika kami tahu PKM-M kami tidak lolos didanai, kami memutar otak agar menemukan jalan lain. Ya jalan lain. Jika kami tidak didanai, bukan berarti kami tidak bisa mendanai kan? 
Akhirnya kami memutuskan untuk bergerak dengan kemampuan yang kami miliki sendiri. Alasannya hanya satu, "Dengan atau tanpa PKM, kita bisa merealisasikan niat kita".
Ya, satu kalimat yang membuat saya pribadi menjadi kembali semangat. 

Empat bulan berlalu setelah pengumuman PKM tersebut, kami merasa sudah memiliki cukup dana untuk pergi ke Nangerang. Pertanyaan baru muncul. 
"Apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Apa yang akan kita berikan pada mereka?"
"Apakah dananya cukup?"
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya sudah terjawab sejak jauh-jauh hari, namun entah mengapa ketika mendekati hari-H, semuanya menjadi terlihat lebih "menakutkan". Hingga akhirnya H-7 kami merasa kebingungan dengan persiapan yang belum rampung 100%, terutama persoalan buku BSE yang akan kami sumbangkan. Hal itu adalah yang paling penting dalam kegiatan kami, namun sampai hari itu belum juga kami temukan jalan keluarnya. Kendalanya satu, yaitu dana. Saya pribadi sempat pesimis dan menawarkan pilihan kepada teman-teman, "Apakah ingin kita tunda niat kita hingga tahun depan sampai dana kita cukup?". Hmm tidak ada jawaban ya atau tidak dari mereka. Saya hanya melihat mereka terdiam dan malah berusaha meyakinkan bahwa kita bisa jalankan niat itu tahun ini. Ya kita bisa! Saya melihat mereka mengatakan hal itu dalam diam dan senyumnya. Baiklah tidak pantas saya pesimis bila didampingi orang-orang optimis seperti mereka. Sampai akhirnya keoptimisan itu berbuah manis, ada sumbangan dana lebih. Alhamdulillah. Akhirnya kami memutuskan untuk mempersiapkan keperluan lain yang bisa kami siapkan terlebih dahulu. Persoalan buku BSE bagaimana?? Ternyata masih bermasalah meskipun dana dirasa cukup. Dalam waktu yang tersisa hanya 4 hari, kami tidak mungkin bisa cetak buku sebanyak itu. Kemudian seseorang dari kami menawarkan untuk membeli buku BSE saja secara online. Kami tidak banyak komentar, melainkan langsung mencari situs yang menyediakan buku BSE. Dapat!! Dua link coba kami hubungi, namun sayangnya masih ada kendala lain. Link pertama lokasi terlalu jauh, link kedua distributor tidak sedang berada di Depok. Haft, ya Allah saya panik, okeh kami panik. Semua persiapan lain sudah selesai, kecuali buku tersebut. H-3, saya harus apa?? Dengan sisa-sisa keoptimisan yang ada, saya membuka laptop dan mulai mencari-cari situs yang menyediakan buku BSE. Wah banyak di situs penjualan online (saya tidak bisa sebutkan namanya ya hehe). Ah tapi lokasinya terlalu jauh, yaitu di Papua dan Kalimantan. Terlalu tidak mungkin bisa sampai di Depok dalam satu hari. Semua link yang tersedia saya klik, hingga akhirnya saya menemukan link yang cukup menarik. Hal pertama yang saya lihat adalah LOKASI. Yeah Jakarta Timur! Dekat! Dengan cepat saya kirim pesan ke CP yang tercantum. Alhamdulillah direspon dengan cepat. Dengan obrolan-obrolan singkat akhirnya kami DEAL. Alhamdulillah. "Masalah buku selesai teman-teman, bukunya akan tiba di rumah besok (H-1)" Itu yang saya katakan dalam hati sambil mengetik pesan ucapan terima kasih pada distributor buku. 

HARI PERTAMA - 20 Juni 2014

Persiapan selesai, tinggal berangkat. Hari yang kami tunggu-tunggu pun datang. Kami berangkat dari Depok pukul 7 pagi dengan perjuangan yang cukup heroik juga di dalam kereta CL pagi itu. Saya akui perjalanan menuju Nangerang saat itu tidak terlalu lancar. Banyak kendala yang kami temui, namun kami bisa menyelesaikan kendala-kendala tersebut dengan baik. Hingga akhirnya kami tiba di Nangerang. Alhamdulillah bisa menginjakan kaki untuk ketiga kalinya di tempat ini. Tempat yang selama ini menjadi objek yang selalu dirindukan.


Setibanya di sana, kami disambut oleh Kang Wawan yaitu penanggung jawab dari MI Mathlaul Anwar di Nangerang. Kang Wawan memberikan kami tempat penginapan di daerah Gejrog, yaitu di dekat rumahnya. Sebuah tempat yang sangat menyenangkan suasananya. Dikelilingi hamparan sawah luas dan udara yang sangat sejuk. Ah, saya merindukan suasana subuh di sana. Sangat rindu. 



Setibanya di tempat penginapan, kami berbincang-bincang dengan Kang Wawan menjelaskan maksud dari kedatangan kami. Kang Wawan mengapresiasi niat kami. Beliau kemudian menceritakan kondisi MI Mathlaul Anwar yang akan segera dibangun secara permanen berkat bantuan PNPM. Alhamdulillah. Sebagai informasi, MI Mathlaul Anwar adalah satu-satunya MI yang ada di wilayah Nangerang. Kondisi bangunannya kurang layak untuk kegiatan belajar mengajar, yakni hanya terdiri dari dua kelas dan berdindingkan bilik. Maka dari itu, ketika kami mendengar kabar bahwa MI tersebut akan dibangun secara permanen, kami sangat bahagia. 


Kang Wawan juga menjelaskan bahwa kedatangan kami bertepatan dengan akan diselenggarakannya acara kenaikan kelas dan pengumuman kelulusan bagi kelas 6. Dalam acara tersebut semua siswa akan berpidato, setiap kelas akan tampil di atas panggung, yaitu menari dan paduan suara. Kang Wawan secara khusus meminta bantuan kami untuk membantu membimbing siswa-siswa yang akan tampil tersebut. Melatih nyanyi? Melatih tari? Bisalah ya, kami punya ahlinya di sini. hehe. Kami pun mengiyakan dan tidak sabar untuk segera bertemu siswa-siswi esok hari.

HARI KEDUA - 21 Juni 2014

Karena tidak ingin mengganggu kegiatan di MI terlalu banyak, akhirnya ada beberapa susunan acara dari kami yang diubah. Awalnya kami ingin mengajak siswa-siswi untuk bersih-bersih MI, menata ruang kelas, membuat herbarium sederhana, dan juga bermain origami. Namun demi kepentingan bersama, kami utamakan kegiatan menjadi kegiatan pelatihan pentas untuk hari Minggu dan bermain origami. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan kami. Kami sangat sangat sangat bahagia meskipun konsep acara berubah. Karena saat bersama siswa-siswi, rasanya sangat bahagia. Apalagi ketika melihat mereka tersenyum dengan mainan origami mereka. Kami kenalkan mereka pada si Emon, sang kodok kertas yang bisa bicara. Kami juga kenalkan mereka pada bintang, senjata ninja yang terbuat dari kertas. Kami kenalkan mereka pada burung-burung kertas yang cantik dan juga kelinci kertas yang imut. Mereka sangat bahagia dengan semua itu. Sambil bermain, beberapa dari mereka ada yang latihan tari dan paduan suara bersama kami. Mereka antusias untuk latihan, dan terlihat mereka lebih bersemangat sekarang. Kang Wawan mengatakan suara mereka masih berantakan. Iya, memang benar. Tapi entah mengapa bagi saya pribadi, mereka semua hebat. Terlepas dari suaranya yang berantakan itu, wajah-wajah semangat mereka membuat saya menyukai penampilan mereka. Seusai latihan, beberapa anak mengajak kami bermain binteng. Sebuah permainan yang biasa dikenal dengan permeinan Bentengan. Mereka semangat sekali berlari ke sana kemari dengan cepat tanpa kenal lelah. Ada juga yang bermain ular naga panjangnya.
Sungguh pemandangan yang menyenangkan.






HARI KETIGA - 22 Juni 2014

Hari perayaan kenaikan kelas pun datang. Kami bahagia sekaligus sedih. Karena hari ini juga kami harus pulang. Namun sebelum pulang kami harus menghadiri acara kenaikan kelas tersebut, kami tidak ingin melewati momen membanggakan itu bersama siswa-siswi MI Mathlaul Anwar. Pagi-pagi kami bersiap dengan barang bawaan kami yang akan kami sumbangkan dan dengan barang-barang kami yang akan kami bawa pulang. Sebelum berangkat ke MI, kami pamit pada ibunya Kang Wawan, mengucapkan terimakasih atas penginapan dan makanan lezat yang selalu hadir tepat waktu saat jam sarapan, makan siang dan makan malam. Hidangan sederhana yang membuat kami berenam kumpul bersama di satu tempat, bersenda gurau, dan menumpahkan keluh kesah jika ada. Ingin tahu suasananya? Saya pribadi tidak mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto, tapi diabadikan di sini (hati dan pikiran) Eaaaaaaaa.

Seusai pamit, kami berangkat menuju MI. Betapa terkejutnya kami ketika tiba di sana, ternyata kami disambut secara formal oleh Kang Wawan. Kami disediakan meja khusus bersanding dengan petinggi-petinggi Desa, MI dan juga guru-guru. Sungguh kesempatan yang sangat berharga dan tidak diduga-duga. 



Acara pun dimulai dengan beberapa sambutan dan penampilan siswa-siswi yang paduan suara. Siswa-siswi tampil dengan baik di atas panggung sana. Di tengah acara Kang Wawan sudah menyisipkan acara khusus untuk kami, yaitu simbolisasi pemberian buku dan alat peraga sekolah dari kami. Kami juga memberikan apresiasi kepada Asep sebagai siswa kelas 6 terbaik di MI.



Satu lagi kejutan yang tidak diduga, kami mendapatkan kenang-kenangan dari Kepala Sekolah MI Mathlaul Anwar, yaitu sebuah kain khas Suku Baduy. Masing-masing dari kami mendapatan satu. Alhamdulillah, terima kasih. Ini merupakan kejutan yang sangat membahagiakan.


Dan inilah potret-potret lain yang terjadi di sana dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin jika boleh satu kata, indah :D










Terima kasih kepada Aji Wicaksono, An Nisa Nurul Suci, Dwi Fauziyah Putri, Rachmat Hidayanto, dan Septy Maulidyawati  yang telah menamani perjalanan tiga hari di bulan Juni ini. Meskipun perjalanan panjang dan melelahkan, saya yakin kalian merasa sangat terbayar dengan kebahagiaan yang kita dapatkan di Nangerang. Tertawa bersama anak-anak, bermain, berbagi keceriaan bersama mereka. Memang tidak semua momen direkam dalam gambar, namun insyaAllah terekam rapi di sini (hati dan pikiran). Aamiin :)


Pada akhirnya cerita ini tidak bertujuan apapun selain berbagi cerita yang semoga dapat menginspirasi orang lain. Membantu membuka mata bahwa jauh di pelosok Indonesia sana masih ada pejuang-pejuang cilik Bangsa yang masih semangat untuk sekolah. Nangerang hanya satu daerah kecil dari banyaknya daerah pelosok lainnya. Nangerang ini hanya contoh yang diharapkan dapat menginspirasi kita semua untuk membantu daerah-daerah lainnya. 
Mereka memang jauh, namun mereka juga butuh perhatian.
Jika bukan kita para mahasiswa sebagai aset Bangsa, siapa lagi?
Jika bukan sekarang, kapan lagi?
Tidak perlu materi besar untuk mulai membantu.
Kami pun hanya bermain dan berbagi kebahagiaan di sana serta menyumbangkan sesuatu yang tidak dalam jumlah banyak, namun hal itu sangat berarti bagi mereka, anak-anak desa yang penuh semangat. 

Kalimat pertama yang saya dengar dari seorang anak ketika menginjakkan kaki di Nangerang : "Kakak Mahasiswa". *Sambil tersenyum*
Terharu. Hanya itu yang bisa saya ungkapkan.

Selamat kepada 5 orang siswa-siswi yang telah lulus dari MI Mathlaul Anwar tahun ini. Semoga kalian bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Buktikan pada dunia bahwa kalian punya semangat belajar yang tinggi. Buktikan pada dunia bahwa kalian juga bisa menjadi orang yang sukses. 
Karena jarak bukanlah penghalang, yang terpenting adalah niat. Ada niat, pasti ada jalan. Semangaaaaatt :D 




2 komentar:

  1. Alhamdulillah Bantuan yg diberikan oleh Ka astri dkk, sangat berguna dan bermanfaat sekali bagi kami di Mi nangerang
    Jika ada waktu dan kesempatan main lah ke sini, ke kampung yg jauh dari keramaiyan kota.......

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah kalau begitu. Kami turut senang.
    Oiya Aji belum kasih kabar ya? Insya Allah Agustus tahun ini kami mau ke Nangerang lagi. Mau ajak anak-anak MI memperingati hari Pramuka dan Kemerdekaan RI di sana. Kira-kira bisa ga Kang kalo anak-anak kami ajak main pertengahan Agustus nanti? Hehe

    BalasHapus