"Satu minggu lagi foto-fotonya akan ada di blog Kak Astri!".
Kalimat nyeleneh yang membuat tersenyum haru sekaligus malu-malu.
Maaf telat dari deadline, terlalu banyak kisah yang harus dituliskan sampai bingung harus mulai dari mana :')
Satu minggu lebih beberapa hari setelah kepulangan kami (Nangerang Fighters) dari sebuah tempat yang saya sebut "Semeru". Sebuah tempat yang tiga tahun terakhir selalu meninggalkan kenangan ketika semua kebahagiaan di sana harus berakhir hanya dengan satu kata ajaib, yaitu 'pulang'. Satu minggu berlalu, setiap kenangan yang sempat tercipta itu sesekali muncul dalam ingatan. Mengapa begitu membekas??
Tahun ini semua persiapan menuju ke Nangerang tidak serumit tahun lalu. Walau sempat timbul banyak gagasan tentang hal apa yang akan kami lakukan di Nangerang, semuanya bisa mengerucut pada satu suara yang disepakati. Diskusi manja yang terjadwal mulai terlaksana. Persiapan terutama dalam hal dana pun mulai diperhitungkan. Sedikit demi sedikit persiapan rampung walau hanya berupa anggaran dana dan konsep acara yang masih mengawang. Kami terlena sejenak dengan suasana lebaran dan liburan panjang. Waktu kami tersita sedikit dengan kesibukan yang perlu diatasi di sana sini. Terpecah. Hilang arah (lebay tri haha).
Hingga pada suatu hari ada sebuah komentar di blog saya dan seketika memercikan api semangat yang selama ini sempat meredup akibat kesibukan tak tentu.

Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami tiba di sebuah masjid yang ternyata tahun lalu kami (kecuali saya dan Anggari) pernah ke sana juga. Berbekal ingatan dan diantar seorang anak kecil berbaju pramuka, akhinya kami pun dapat menemukan tempat istirahat sementara untuk makan siang dan menunggu duo warlok (Aji dan Rachmat) sholat Jumat. Makan siang hari itu disponsori oleh abang tukang bakso yang kebetulan mangkal tak jauh dari masjid. Sebagai makanan tambahan, kami membeli makanan penuh Msg yang gurih-gurih gitu rasanya. Ya begitulah ya. Setelah selesai sholat dan istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Aweh untuk dapat naik PS (elf) ke Nangerang. Beruntung kami datang di saat yang tepat. Sudah ada PS yang akan segera berangkat di sana, jadi kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alhamdulillah perjalanan kami ke Nangerang hari itu terbilang lancar.
Dua jam lebih perjalanan menggunakan PS, akhirnya kami menginjakkan kaki di Nangerang!
Seperti biasa kami menyusuri jalan di Nangerang dengan berjalan kaki. Beberapa hal di sekitar masih terlihat sama, namun ada juga yang sedikit berubah. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan warga-warga yang bersahaja. Mereka ternsenyum dan kemudian bertanya "Bade kamana?". Jawaban kami pun tetap sama "Ka Gejrog". "Rumah Kang Wawan". Mungkin ada satu kata aneh lain pada satu jawaban, "Ka gebrok". Ya maklumlah tahun ini kami mengajak personil baru yang belum pernah ke Gejrog. Wkwk
Beberapa orang kami kenal, beberapa lagi tidak. Namun mereka semua sama, tersenyum dengan sikap ramah yang sama. Pedesaan. Ini yang kami suka dari suasana pedesaan.
Perjalanan panjang menuju langit biru masih panjang. Lelah mulai terasa namun kami tetap tidak lelah untuk mengisi perjalanan dengan canda tawa. (Kadang saya bersyukur karena kalian itu rada-rada hehe). Ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan background foto ala-ala kami, ya begitulah kami.
Perjalanan berakhir di Gejrog, tempat yang akan menjadi persinggahan kami selama 4 hari kedepan. Begitu tiba di sana, suasananya belum banyak berubah. Masih asri dan sejuk. Ada sebuah rumah yang satu tahun lalu jadi tempat kami menginap dan juga sebuah surau yang rajin kami sambangi untuk sholat berjamah. Hanya saja kali ini banyak bunga di sana. Bahkan tempat kami menginap ada semacam gerbang bunga di depan rumah tersebut. Cantik.

Sambil bernostalgia dan bersenda gurau, kami menunggu sang empunya rumah alias Kang Wawan tiba. Katanya ia sedang memancing ikan di sungai. Jadi kami putuskan untuk bersitirahat. Tapi ya namanya juga anak kota yang tidak bisa diam, kami beralih ke belakang rumah. Di sana ada kandang kambing. Kami ikut memberi makan bersama Ibunya Kang Wawan dan juga ditemani oleh si kecil Rendi. Kambing di sana jumlahnya 5 ekor. Sempat iseng menamai mereka Aci, Aji, Septy, Rachmat, Gari karena jumlahnya pas dengan kami hehe maapkeun. Selain itu, kami juga "membantu" omnya Rendi memetik buah kelapa yang ada di sana. Semacam ada pertunjukkan menarik, satu tandan kelapa jatuh terhempas ke tanah lalu buyar semua. wuussshhh!!!


Magrib menjelang, akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang. Setelah bersalam-salam sapa, kami mengobrol mengenai maksud kedatangan kami ke Nangerang kepada Kang Wawan. Ya, tahun ini kami ingin mengajak anak-anak MI Mathlalul Anwar Nangerang untuk memperingati Hari Pramuka dan Hari Kemerdekaan. Untuk hari Pramuka kami hanya ingin mengajarkan anak-anak tentang sandi Smapore. Sedangkan untuk Hari Kemerdekaan, kami ingin mengajak anak-anak ikut beberapa perlombaan. Perlombaan yang akan kami adakan adalah :
1. Lomba Balap Kelereng
2. Lomba Makan Kerupuk
3. Lomba Memasukkan Paku ke Dalam Botol
4. Lomba Estafet Bendera
5. Lomba Tebak Gambar
Selain untuk anak-anak, kami juga mengadakan lomba untuk para remaja dan bapak-bapak Nangerang, yaitu kejuaraan futsal. Kami menyebutnya Nangerang Champion #Eaaaa
Setelah diskusi selesai kami segera beristirahat ke rumah masing-masing. Untuk wanita tidurnya tidak di "basecamp", melainkan di rumah Orang tua Kang Wawan yang terletak di samping "basecamp". Entah karena sudah sangat lelah karena perjalanan seharian atau apa, saya pribadi langsung terlelap ketika kepala menyentuh bantal. Hehehe
******
Sabtu, 15 Agustus 2015
Bulan berganti dengan matahari yang masih malu untuk menampakkan cahayanya di kala subuh. Suara alarm handphone berganti dengan suara Septy yang setengah parau "Gar, subuh gar". "Ci subuh Ci". Untuk beberapa detik setelah membuka mata, saya masih berharap terbangun dengan pemandangan utama sebuah poster bertuliskan "Jaga Hati Gapai Ridho Ilahi" di dinding kamar seperti biasanya. Tapi sedetik kemudian saya sadar ini bukan kamar saya. Bahkan kali ini dsertai dengan udara dingin yang cukup menusuk ke tulang. Setelah mengumpulkan kesadaran, kami segera bergantian untuk mengambil wudhu dan menuju surau untuk sholat berjamaah bersama dengan yang pria juga. Satu tahun lalu, saya sangat merindukan suasana subuh di tempat ini. Dan hari ini, suasana itu kembali.