Halaman

Senin, 13 Juli 2015

Yakin Udah Move On? Baca Dulu Definisi Move On Ini!

 
 
Move On. Dua kata yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Seringkali kita tidak menyadari ketika kita mengatakan sudah move on, sebenarnya kita sedang membohongi diri kita sendiri. Coba bayangkan berapa banyak orang yang marahnya bukan main jika dibohongi oleh orang lain, tapi hanya karena dua kata ajaib itu, semuanya jadi rela membohongi dirinya sendiri. Miris? Tidak, itu wajar karena bagaimanapun juga hati dengan otak tidak selalu seiya sekata. Cinta memang aneh. Sudah lama tidak bersua dan tidak berkomunikasi, tapi karena sapaan 'hai' satu kali, rusaklah 'move on' yang sudah mencapai 99,99%.
Untuk yang masih bertanya-tanya pada diri sendiri tentang bagaimana keadaan hati ini, coba simak definisi move on berikut. Move on itu bukan sekadar tentang melupakan, tapi juga menjadikan pelajaran. Seperti yang kita tahu pada setiap pelajaran, baik itu di sekolah maupun di kampus, kita akan selalu mendengar istilah definisi. Sebagai contoh, ketika kita belajar tentang ilmu biologi, kita harus mengerti dulu apa itu definisi dari biologi. Setelah paham, barulah kita tahu apa saja yang harus kita pelajari ke depannya. Begitupun dengan move on, kita harus mengerti dulu definisi move on. Setelah paham, barulah kita tahu apakah tindakan kita sudah merujuk pada definisi tersebut atau belum.

Move On = Melanjutkan; berjalan terus

Definisi move on sangat simpel. Melanjutkan! Berjalan terus! 
Ingat, move on tidak melulu tentang kisah dua orang yang awalnya manis, lalu berpisah dan harus saling melupakan. Secara luas, move on dapat digunakan dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Sebut saja ketika kita gagal masuk universitas yang kita inginkan, haruskah kita terus meratapi kegagalan tersebut? Tidak. Kita harus terus bergerak, terus berjalan, melanjutkan upaya yang kita lakukan dengan cara yang lebih baik daripada sebelumnya dan terus yakin bahwa Allah punya rencana indah yang lain untuk kita. Ketika move on merujuk pada suatu hubungan yang kandas, kasusnya sama, yaitu sebuah kegagalan. Kegagalan dalam suatu hubungan. Dan lagi, haruskah kita terus meratapi kegagalan tersebut? Tidak. Kita harus bergerak, terus berjalan, dan melanjutkan hidup. Ada kalimat nyeleneh yang seringkali kita dengar ketika ada pasangan yang berpisah, misalnya : "Aku tidak bisa hidup tanpa dia". Hmm sebut saja usia kita saat ini 22 tahun dengan 2 tahun kebelakang menjalani hubungan. Let's thinking! Selama dua puluh tahun kita belum mengenal dia dan kita bisa bertahan hidup, Lalu bagaimana bisa hanya karena satu orang yang mengisi hati hanya selama dua tahun bisa membunuhmu? Ayolah, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk kita. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jika harus berpisah, berpisahlah. Percayalah pada kalimat paling mainstream abad ini "Kalo jodoh gak akan kemana". Terdengar pasrah, tapi itu lebih baik daripada terus menanti sesuatu yang bahkan mungkin setitik pun tidak pernah masuk ke dalam garis takdir kita. Jika tidak mau percaya dengan kalimat itu, setidaknya pahami ini. "Takdir tidak akan pernah salah orang". 

Jadi, pahamilah definisi move on dengan seksama dan katakan pada masa lalu : "Masa depanku masih panjang dan takdir tidak akan pernah salah orang. Jika kamu hanya berakhir sebagai masa lalu, mungkin memang benar masa depanku bukan kamu". Setelah itu menangislah, tapi pastikan itu tangisan terakhir yang membawa air mata kenangan. Let's Move On!

Tapiiiii, akan lebih baik jika, daripada terus mencoba menjalin hubungan yang tidak jelas juntrungannya, lebih baik kita menunggu dalam doa. Sebaik-baiknya menunggu adalah menunggu kabar gembira dari Allah yang sungguh tidak akan pernah ingkar. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan ajang meratapi kenangan. Mulai sadari, sendiri bukan berarti tidak laku, melainkan Allah amat sayang padamu karena tidak ingin hatimu terluka oleh orang yang bukan takdirmu. Percayalah. Jangan percaya tulisan ini, percayalah pada Allah yang sudah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Insya Allah :)


"Aku pernah berjalan di atas bebatuan yang licin dan berharap tidak akan terjatuh tanpa menyadari betapa pentingnya pelajaran yang dapat diambil jika aku terjatuh. Pada akhirnya kita semua sama, yaitu sama-sama pernah terjatuh. Tapi, cara kita bangkit berbeda-beda".
 -Redrose-

Selasa, 05 Mei 2015

Dia yang Mulai Lelah

Aku mengenalnya.
Dulu ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati.
Dia pernah mencintai seseorang walau harus menentang banyak nasihat teman.
Dia tidak pernah peduli se-egois apa pria itu
Dia tidak pernah peduli jika ceritanya tidak pernah didengar
Dia tidak pernah peduli jika kehadirannya hanya saat dibutuhkan
Dia tidak pernah peduli jika pria itu tak pernah ada untuknya
Ya, aku mengenalnya
Dia yang rela pergi sendirian ke Senayan hanya untuk bertemu dengan pria itu dalam waktu sekejap dan terkesan tak dianggap
Dia yang rela membujuk teman untuk menemaninya ke Blok-M, lagi-lagi untuk bertemu dengan pria itu dalam waktu sekejap dan terkesan tak dianggap
Dia yang rela terjaga sepanjang malam hanya karena mengkhawatirkan pria itu
Dia yang rela bersikap sok tegar agar menyemangati pria itu
Dia yang rela hampir tak pernah mengeluh jika sedang bersama pria itu
Tujuannya hanya satu, ia ingin menyuntikkan semangat pada pria itu
Aku sungguh mengenalnya
Dia pernah berkata tidak apa jika ia hanya menjadi pendengar cerita pria itu
Dia pernah berkata tidak apa jika ceritanya tak pernah didengar oleh pria itu
Dia pernah berkata tidak apa jika memang nyatanya ia merasa tak dianggap
Dia pernah berkata tidak apa karena ia yakin suatu hari nanti pria itu akan berubah
Aku benar-benar mengenalnya, hingga suatu hari ia tak lagi kukenali
Kini ia mulai lelah
Semangatnya mulai goyah
Ia seperti hilang arah
Ia menjadi lebih sering menangis jika aku menanyakan tentang pria itu
Kini aku benar-benar tak lagi mengenalinya

Wahai jiwa yang seraga denganku,
Selelah itukah dirimu? 
Bukankah kau bilang hidup itu butuh perjuangan?
Sampai titik ini sajakah juangmu untuknya?
Apa yang telah ia lakukan hingga kau menyerah?
Apa arti dari tangismu yang selalu kurasakan mengalir di pipiku ini?

Wahai jiwa yang bernapas dengan paru-paru yang sama denganku,
Apakah rasanya sesesak itu?
Aku mulai bisa merasakan napasmu melemah setiap kubahas tentangnya
Aku mulai bisa merasakan seolah ada asap tebal di sekitarmu
Asap yang membuatmu terbatuk hingga kurasakan sakit ditenggorokanku

Wahai jiwa yang selama 22 tahun ini hidup bersamaku,
Percayalah juangmu tak pernah sia-sia
Hanya saja ia yang menyia-nyiakanmu
Aku senang akhirnya aku tidak lagi mengenalimu
Karena aku membenci sosok aku yang dulu kukenali

-Redrose-
 

Sabtu, 28 Maret 2015

Menyerah??

Untuk kamu yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini.
Tidak, tulisan ini bukan untukmu. Hanya saja jika kau bertanya-tanya apa arti dari sikap diamku akhir-akhir ini, mungkin kau dapat menemukan jawabannya di sini.

Mungkin aku lelah.
Ya aku lelah walau sudah sangat sering aku bertahan ditemani lagu "I won't give up - Jason Mraz-
Berulang kali aku berusaha untuk tidak menyerah
Karena kupikir menunggu itu mudah
Tapi jika menunggumu, kurasakan sesak tiada arah

Aku ingin diperjuangkan
Ya aku ingin. Katanya cinta itu saling memperjuangkan.
Tapi, selama ini aku merasa berjuang sendirian
Parahnya lagi, aku merasa hanya aku yang menyukaimu. Tidak sebaliknya.

Aku sadar ini bukan waktunya membahas hal seperti ini
Aku sadar kita sama-sama fokus pada kuliah dan masa depan
Aku sadar hal itu
Maka dari itu aku bilang akan menunggu
Tapi, sikapmu membuatku tak ingin lagi menunggu
Mengapa?

Kini aku berubah
Aku tidak lagi menunggu pesan darimu
Aku tidak lagi ingin bertemu denganmu
Aku tidak lagi tertarik dengan ceritamu
Aku tidak lagi mengharapkanmu
Apa aku salah bersikap begitu?
Jika aku salah, silahkan pergi
Karena satu-satunya perasaan yang tertinggal saat ini adalah
Aku khawatir dengan dirimu. Hanya itu.
Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja
Aku hanya ingin memastikan kuliahmu lancar
Aku hanya ingin memastikan harimu bermanfaat
Aku hanya ingin melihat itu

Maaf aku menyerah...... :(

".......if you say you want me to stay, I'll change my mind".
One Direction - Change My Mind

Rabu, 11 Maret 2015

Love, Life, Skripsi!

Pria dengan jaket biru dongker itu masih setia duduk di sudut ruangan. Matanya yang sayup dibalik kacamata mulai terasa sangat lelah. Sesekali ia tertunduk berusaha menahan kantuk. Skripsi dan jurnal-jurnal penelitian berserakan di atas mejanya.
"Kau pikir ini rumahmu?". Shazia menghampiri sambil meletakkan tasnya di atas meja yang sudah sangat terlihat berantakan itu.
"Memang". Jawab Ega singkat sambil kembali mengetik skripsinya.
"Dasar kau ini. Lihat satu meja kau gunakan sendirian". Shazia menunjuk ke arah sekitar yang semua meja penuh dengan orang, kecuali meja yang digunakan Ega. Seharusnya meja ini cukup untuk 6 orang, tapi Ega membajaknya untuk dirinya sendiri.
"Woh. Benar juga. Biarlah". Ega terkekeh sambil membetulkan kacamatanya.
"Sudah sampai mana?". Tanya Shazia mengubah topik pembicaraan.
"Apa? Skripsi? Sudah sampai bosan hahaha".
"Semangat!". Kata Shazia sambil mengepalkan tangannya.
"Aaaahh bosan aku bosan mendengarnyaaaa". Ega mengacak-ngacak rambutnya.
"Yeuuh semakin jelek penampilanmu jika begitu". Shazia terkekeh sambil merapikan rambut Ega dengan jari jemarinya. "Sudah jam 2 siang, belum makan kan?".
"Wah tahu saja. Beluuum. Bawa makanan?". Tetiba Ega jadi manja.
"Menurutmu?".
"Pasti bawa". Ega tersenyum seperti kuda
"Iya iya bawa. Ini Ibuku yang masak untukmu. Dia khawatir dengan keadaanmu".
"Benarkah? Wah terima kasih. Aku janji setelah skripsi ku selesai, aku akan mengunjungi ibumu". Kata Ega bersemangat.
"Tak usah banyak janji. Kerjakan saja sana".
"Ah kau ini selalu saja menyuruhku mengerjakan. Kau sendiri bagaimana? Kapan mulai penelitian?".
"Tenang, kau lulus duluan saja. Cepat makan sebelum terlalu dingin".
"Selalu saja mengubah topik pembicaraan jika kutanya tentang penelitian". Gerutu Ega dengan raut wajah kesal.
"hahaha jangan khawatir, aku akan segera menyusul".
"Tapi janji ya tidak lebih dari 4 tahun?".
"Iya, janji".


Bersambung...............................

Selasa, 23 Desember 2014

Apakah Doi Tau Tentang Kamu?

Mulai sekarang, stop mengagung-agungkan atau rela melakukan apapun untuk orang yang kamu suka, KARENA doi ga pernah bener-bener tau tentang kamu
Apakah doi tau kalo:
kamu paling ga suka makan ketoprak pake bawang putih mentah karena baunya akan bertahan selama berjam-jam di mulut kamu
waktu kecil kamu paling ga bisa tidur kalo ga ada musik, sekarang kamu paling ga bisa tidur kalo ga ada kipas angin.
kamu ga suka makan sayur, tapi kamu masih suka banget banget banget sama brokoli.
kamu suka banget sama buntut ikan goreng, ikan apapun itu.
waktu lagi sakit kamu paling ga suka minum obat kapsul, bubuk, apalagi cair
kamu paling suka buah semangka dan rambutan, karena kalo udah ketemu dua buah itu kamu suka lupa sisain buat keluarga
kamu ga akan pernah mau disuruh masukin motor ke rumah kalo ga pas banget baru pulang kuliah
setiap lebaran ada kue wajib yang harus dibikin sendiri, yaitu kue biji ketapang
Apakah doi tau tentang itu semua? Tau semua kebiasaan kamu? Kalo enggak, think again!
Karena semua hal diatas cuma bisa dipahami dengan sebuah "pengamatan", ya pengamatan berhari-hari yang bikin orang itu hafal semua kebiasaan kamu tanpa harus kamu ceritain.
Pada akhirnya hanya ada satu manusia di dunia ini yang tau tentang semua itu, yaitu mamah. Ini hanya sekadar contoh betapa ribetnya mamah neriakin abang-abang ketoprak supaya jangan sampe lupa ketoprak buat saya jangan pake bawang putih, betapa riweuhnya mamah nyari-nyari tetangga buat service kipas angin waktu kipas angin di kamar saya rusak, betapa sabarnya mamah nyariin brokoli di tukang sayur cuma demi saya harus makan sayur, betapa terharunya setiap lagi makan ikan goreng mamah naro buntut ikan miliknya ke piring saya, betapa selektifnya mamah dalam pilih obat dari dokter supaya semua obat itu mau saya minum, betapa unyunya mamah bilang ga suka semangka atau rambutan karena takut batuk supaya saya bisa makan sepuasnya, betapa baiknya mamah langsung rapihin ruang tamu kalo saya pulang kuliah supaya bisa langsung masukin motor, betapa repotnya mamah hari gini masih aja berusaha bikin kue lebaran sendiri supaya saya bisa ikutan bikin, dan.................. masih banyak betapa-betapa yang lain yang mungkin ga akan cukup waktu satu hari buat menjelaskan itu semua.

Sekarang orang-orang udah tau semua kebiasaan saya itu, tapi bukan itu makna dari "mengenal". 
Mengenal bukan sekadar tau, tapi juga memahami
Cinta itu kepo, kalo ga kepo berarti ga cinta. 


Mulai sekarang, berfokuslah pada kebahagiaan orang yang telah benar-benar mengenalmu dan biarkan Allah yang urus mengenai siapa orang yang nanti akan benar-benar mengenalmu di masa depan. Karena bagaimanapun tidak ada yang cintanya kepadamu melebih cinta orang tua untukmu, kecuali orang itu benar-benar sayang padamu. 
-Redrose-


NB: Terinspirasi karena pagi-pagi dibeliin ketoprak tanpa pake bawang putih, "Ini ga pake bawang putih kok kak, makan ya". 

Rabu, 29 Oktober 2014

Lemon is Lemon

Hari Minggu pagi merupakan hari yang aneh untuk memulai aktifitas saat matahari belum sempurna menampakkan wajahnya. Aku tengah bersiap mengeluarkan motor dari garasi rumah hingga akhirnya suara dering telepon menghentikan gerakanku. Aku melepas kembali helm yang telah kupakai dan meletakannya di kaca spion motor.
"Halo, gue otw". Kataku langsung ketika mengangkat telepon
"Otw mana lo? Ga percaya gue". Suara pria dari seberang sana terdengar kesal
"Ih galak amat. Iya iya gue otw depan rumah. Sabar sih, acaranya juga jam 8 kan? Ini masih jam 6". Gerutuku tak kalah kesal
"Eng...........". Tak terdengar suara lagi dari orang itu, ia hanya terdengar menggumam
"Halo..". Kataku perlahan karena merasa heran ia terdiam
"Jangan marah ah, serem kamu". Terdengar tawa ringan mengiringi kalimatnya
"Hahahaha apaan deh lo. Yaudah gue mau berangkat nih. Tinggal keluar gerbang kok. Sabar yaaahh". Tanpa menunggu jawaban lagi, aku segera menutup sambungan telepon dan segera berangkat. Ohiya, yang menelpon tadi namanya Ken. Nama lengkapnya Dolken Wijaya. Dia buka orang Belanda, tapi orangtuanya sangat terobsesi dengan negara kincir angin tersebut, jadilah ia diberi nama orang Belanda. Ken adalah sahabatku sejak SMA. Hingga hari ini, bahkan saat kami sudah sama-sama meniti karir, kami masih sering berkomunikasi.  Dan aku?? Namaku Intan Karina. Kata ibuku aku harus menjadi seperti anak yang kuat dan cantik seperti intan. Begitulah. Untung saja aku tidak diberi nama Titanium.

Hari ini adalah hari pernikahan Dolken dengan kekasihnya di Kampus yang sudah ia pacari selama 4 tahun. Sejak kemarin sebenarnya ia sudah memintaku untuk menginap saja di rumahnya, tapi aku dengan keras menolak karena aku masih punya deadline paper hasil penelitian di Kalimantan bulan lalu. Jadi wajar saja jika di telepon tadi ia terdengar kesal karena aku belum juga sampai di rumahnya.

***

"Udah, udah ganteng itu. Iya kan tante?" Kataku sambil melirik ke Ibunya Ken ketika memasuki kamar rias pria di rumahnya.
"Iya Ken, wis ganteng toh le". Logat jawa ibunya Ken masih sangat kental meskipun sudah hampir 20 tahun tinggal di Jakarta.
"Eh ndo Intan kok baru dateng? Si Ken ini udah marah-marah mulu loh nungguin kamu dari tadi". Lanjut ibunya Ken ketika menyadari bahwa aku yang baru saja biacara.
"Hehe iya tante semalaman aku bikin paper penelitian, jadi baru tidur jam 3 pagi. Agak kesiangan deh. Maaf ya tante". Kataku sambil meletakkan tas di meja.
"Ya tante sih ga apa-apa. Si Ken ini loh yang bawel nungguin kamu".
"Ah Ken mah suka gitu. Bukannya bawel nungguin Citra, malah kesel nungguin saya". Kemudian kami tertawa bersama.
"Heeee sudah kalian ini kenapa jadi ketawa". Ken yang sejak tadi sibuk di depan kaca kini ikutan nimbrung.
"Iya maaf. Btw udah ganteng lo, ga usah ngaca terus. Kasian kacanya bosen". Kataku sambil menepuk pundaknya.
"Setelah 8 tahun kita temenan, baru hari ini lo bilang gue ganteng. Amazing". Ken tepuk tangan sejadi-jadinya.
"Idih, ini yang pertama dan terakhir. Karena setelah ini gue ga akan bisa bilang lo ganteng lagi kan".
"Loh kenapa?". Ken heran
"Karena nanti gue bakal diomelin Citra, istri lo. hahaha".
"hahaha ia juga ya. Gila cerdas lo cerdas!". Ken histeris
"Apasih Ken, udah ah gue mau dandan dulu. Ga liat apa gue masih pake baju tidur?". Saat berangkat dari rumah aku memang sengaja tidak berganti pakaian rapi karena kebaya yang akan kupakai hari ini sudah disiapkan oleh keluarga Ken. Aku menghadiri pernikahan Ken sebagai pihak dari keluarga. Ken memang bukan saudaraku, namun bersahabat selama 8 tahun membuat aku merasa keluarga Ken seperti keluargaku.

***

Hari minggu ini merupakan hari yang membahagiakan bagi Ken dan Citra. Setelah berpacaran selama 4 tahun, akhirnya Ken memberanikan diri untuk melamar Citra. Tentu saja itu juga dengan bantuan dari ide ajaibku. Jika tidak begitu, aku yakin Ken baru akan melamar Citra setelah negara api menyerang. Ken orang yang sangat cuek dengan apapun dan sangat tidak tahu malu. Tapi urusan lamar melamar, ia sangat payah. Untunglah kepayahan itu bisa berubah jadi prosesi pernikahan. Hari ini harusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Ken. Iya seharusnya, sebelum....................

"Halo, Ken ini tante Maya. Mamanya Citra". Suara wanita setengah baya dari seberang sana terdengar diiringi isak tangis.
"Iya tante kenapa? Wajah ceria Ken yang sejak tadi kuajak bercanda agar tidak tegang tetiba berubah menjadi pucat".
Aku tidak tahu apa yang dikatakan tante Maya di telepon. Yang jelas sekarang Ken tersungkur di depanku, tertunduk dan matanya tak bisa berhenti meneteskan air mata. Ini bukan kali pertama aku melihatnya menangis, tapi kali ini berbeda.
"Ken, ada apa?".

***

1 bulan kemudian......

"Maaf setelah hari itu gue malah sibuk penelitian. Bukannya nemenin lo, tapi malah ninggalin". Kataku memulai pembicaraan yang sejak 10 menit yang lalu aku dan Ken hanya terdiam di sebuah cafe dekat kantornya. Kini Ken pun masih terdiam. Aku tidak tahu apakah itu karena ia masih terpukul dengan kematian Citra di hari pernikahannya atau karena ia memang marah padaku.
"Ken... lo marah?". Tanyaku kemudian
"Gue sayang sama Citra. Gue sayang dia". Ken mengucapkan hal itu dengan nada yang lemah. Dari raut wajahnya terlihat jelas ia sangat terpukul dengan hal itu. Tubuhnya lebih kurus sekarang. Apakah ia jadi tidak nafsu makan? Ah aku jadi merasa berdosa telah meninggalkan dia di masa-masa tersulitnya.
"Iya gue tau, Citra juga tau itu kok. Tau banget!".
"Kalo tau, kenapa dia pergi?".
"Ken, ga ada yang bisa menentang kematian. Lo dan gue juga akan meninggal nantinya. Ini bukan kemauan Citra".
"Tapi kenapa?" Ken menundukkan kepalanya di atas meja.
"Sampe kapan lo akan begini, Ken?".
Ken hanya terdiam.
"Jawab Ken, sampe kapan?". Tanyaku lagi dengan nada yang lebih tegas. Ken mengangkat kepalanya. Ia menatapku dengan air mata berlinang.
"Enggak! Ini bukan Ken. Lo siapa? gue ga kenal lo". Aku berdiri dari kursi. Melihat hal itu Ken terkejut dan ikut berdiri.
"Loh! lo kenapa deh Intan?'.
"Lo yang kenapa! Mana Ken yang dulu? Yang selalu ceria dan masa bodo dengan hal apapun. Mana? Mana Ken yang gue kenal? Yang selalu optimis dan bisa ambil hikmah dari semua kejadian. Mana?".
"Ah lo! Lo ga pernah tau kan rasanya ditinggal mati sama calon pengantin lo? Bahkan H- beberapa jam sebelum akad. Ga pernah kan? Jadi jangan sok tau gitu!". Ken malah lebih marah padaku.
"Apa kata lo? Ga pernah?"
"Iya!!". Jawab Ken singkat dengan tatapan yang agak sinis sekarang.
"Lo ga inget kejadian 2 tahun lalu? lo lupa? tega ya!!". Tanpa sadar aku meneteskan air mata.

***

Dua tahun yang lalu..............

"Jangan nangis terus, yang pergi yaudah jangan dipikirin lagi". Ken mengusap kepalaku sambil memberikan tisu. Aku memang sudah menangis lebih dari 1 jam di ruang tamu rumah Ken. Ini bukan tanpa alasan.
"Lo diem aja. Lo tau apa tentang perasaan gue? Udahlah diem aja". Kataku semampunya dengan sisa tenaga yang kupunya. Sejak kemarin aku tidak nafsu makan dan kerjaanku hanya menangis. Wajar. Iya wajar. Wanita mana yang bisa kuat melihat tunangannya selingkuh di H-1 bulan pernikahannya? Kurasa tidak ada yang kuat, termasuk diriku sendiri.
"Udah Intan, lo harus kuat. Kalo Haikal ninggalin lo, itu berarti dia bukan yang terbaik buat lo. Harusnya lo bersyukur belum sempet nikah sama dia. Coba kalo jadi nikah, euuuh lo akan menderita seumur hidup".
Aku tidak menggubrisnya, aku tetap saja menangis.
"Intan, jangan menyedihkan begini ah! Si Haikal aja belum tentu mikirin lo. Buktinya sampe hari ini dia ga minta maaf sama lo kan? Itu jahat! Udah gausah dipikirin".
"Iya dia jahat! Maka dari itu gue sedih. Sakit Ken. Sakit!".
"Iya gue ngerti perasaan lo. Tapi jangan ditangisin terus. Ga pantes. Ambil hikmahnya, jangan diratapin terus kesedihannya. Biarin Haikal ninggalin lo. Tapi masih ada orang tua lo dan masih ada keluarga gue yang sayang sama lo, masih ada gue juga yang ga akan pernah ninggalin lo. Lo tenangin diri ya, please gue ga tega ngeliat lo kaya gini terus".
"Trus sekarang gue harus apa?".
"Lo harus senyum. Ayo senyuuumm". Ken menarik pipiku ke kiri dan kanan membuatku terlihat aneh.
"Euuuh lepas, lepas. Bener ya lo ga akan ninggalin gue?" Aku menghapus air mataku dari kedua pipi.
"Iya beneran. Ga percaya amat si".
"Ah nanti kalo lo nikah pasti bakal ninggalin gue".
"hmmm itu sih tergantung istri gue ngebolehin gue deket sama cewe lain atau engga hahaha".
"Tuh kan!".
"Hehe enggak, bercanda. Walaupun gue nikah nanti, entah sama siapapun itu gue ga akan ninggalin lo kok. Lo kan sahabat gue yang tersayang, tapi gue lebih sayang istri gue haha". Ken tertawa senang sekali seolah menonton tayangan komedi. Ia menyadari tatapanku padanya sinis, seketika ia berhenti tertawa.
"Eng... Kenapa lo ngeliatin gue kaya gitu?". Tanya Ken heran.
"Ga kenapa-napa. Gue kangen bisa ketawa kaya gitu".
"NAH! Kangen kan? Yaudah yang pergi jangan dipikirin lagi. Sabodo ae lah. Lanjutin hidup lo Intan! Okey???". Ken mengepalkan tangannya bersemangat.
"Siap!".

***
Back.....

"Lo inget sekarang? Iya gue emang bukan ditinggal mati, tapi ditinggal demi cewek lain. Sekarang gue tanya, sakitan mana??? Setidaknya lo ditinggal dengan fakta bahwa Citra sangat sayang sama lo. Dia pergi bukan karena dia udah ga sayang sama lo, dia pergi bukan karena dia sayang sama cowok lain. Tapi gue??? Bayangin Ken! Sakitan mana?".
Ken duduk kembali di kursi. Ia terlihat tertunduk. Sedangkan aku berurai air mata. Luka dua tahun lalu yang selama ini berhasil tertutup karena semangat dari Ken, kini terbuka lagi. Perih lagi. Pemberi semangat itu kini justru memaksaku membuka luka lama.
"Dulu lo bilang buat ambil hikmahnya dan tetep lanjutin hidup. Gue lakuin itu Ken, gue lakuin! Tapi sekarang apa yang gue liat? Lo sendiri ga bisa nerapin hal itu. Payah!". Air mataku semakin tak terbendung lagi. Aku segera pergi meninggalkan Ken yang masih tertunduk lemah di Cafe.


***
Satu minggu kemudian.........

*Ting nong*
Jumat pagi pukul 9. Ken datang ke rumahku dengan membawa dua koper berukuran besar.
"Mau apa lo? Mau nginep di rumah gue? Ini rumah, bukan tempat pengungsian. Pulang sana!".
"Apa sih lo ga jelas. Gue mau pamit".
"Loh, pamit ke mana?".
"Gue mau lanjut S2 di Belanda. Alhamdulillah akhirnya keterima juga tahun ini".
"SERIUSSS??". Aku terkejut bukan main. Bagaimana tidak, Ken dan keluarganya sangat terobsesi dengan negara tersebut. Dan Ken adalah anggota keluarga pertama yang akan menginjakan kaki di Belanda. Ini Amazing!
"Iyaaaaaaaaa". Teriak Ken dengan wajah sumringah
"Berapa lama di sana?".
"Hemm sekitar 2 tahun".
"DUA TAHUN???" Aku histeris
"Eh biasa aja kali, kenapa deh?".
"Itu lama banget ya!". Awalnya aku bahagia, tapi kini aku sedih. Dua tahun tidak bisa bertemu dengan Ken? Apa jadinya aku ini?
"Udah deh jangan sok sedih ga jelas. Mending sekarang lo anterin gue ke Bandara. Mama Papa gue udah nunggu tuh di mobil. Ayo anteeerr".
"Ogah ah! gue mau ngerjain paper!" Jawabku ketus.
"Idih temen lo bakal pergi jauh naik pesawat nih. Kalo pesawatnya kenapa-kenapa gimana? Jatoh di laut trus gue masuk ke daftar orang hilang, trus kita ga bisa ketemu lagi, trusss.....".
"Ehhh udah-udah, kok imajinasi lo nyeremin sih. Iya iya gue temenin. Ayo".


***

Dua tahun bukan hal yang singkat, apalagi jika dibebani dengan sebuah rindu. Selama dua tahun Ken kuliah S2 di Belanda, aku selalu saling berkirim e-mail dengannya setiap hari. Ken selalu menceritakan hal-hal baru yang ia dapat dari kampusnya. Dari kejadian menakjubkan sampai kejadian konyol sekalipun. Ken terlihat sangat bahagia di sana. Sesekali ia mengirimkan foto bersama teman-temannya. Akupun begitu, selama dua tahun ini banyak penelitian yang kulakukan dan aku selalu memaksa Ken untuk membaca paper yang baru saja aku publikasikan. Aku tau Ken tidak mengerti itu, tapi ia selalu berusaha mengerti. Minimal ia paham judul dari papernya saja, itu sudah sangat membanggakan.
Hingga pada suatu hari e-mail masuk tengah malam. Kebetulan aku masih terjaga karena memang tak bisa tidur sejak kemarin.

Ken ; "Intan, sekarang lo lagi sama siapa?".

Intan : "Hah? maksudnya?".

Ken : "Hmm maksudnya pacar, udah punya pacar baru?".

Intan : "Haha pacar itu apa?".

Ken : "Jadi masih sendiri?".

Intan : "Yaelah pake ditanya. Kenapa deh?".

Ken : "Jomblo?".

Intan : "Iya ih berisik!".

Ken : "Kasian udah 25 tahun masih jomblo"

Intan : "Apaan sih lo ga jelas".

Keesokan harinya...........

"Intan, ada tamu tuh". Kata mama ketika masuk ke kamarku.
"Siapa Ma?".
"Liat aja sendiri".
"Siapa deh?". Aku beranjak dari tempat tidur karena penasaran dengan tamu yang hadir dan segera menuju ke ruang tamu. Betapa terkejutnya aku melihat Ken bersama orang tuanya yang sedang duduk di sana. Ken!
"KEN!! Aaaaaaaaaa lo udah pulang???? Kok ga bilang-bilang?". Aku histeris sambil menghampiri mereka dan duduk di sofa.
"Tuh liat deh Ma, Pa, dia selebay itu kan ya. Yakin mau jadiin dia menantu?". Ken tidak menanggapi ucapanku barusan. Ia malah membicarakan hal aneh pada orang tuanya.
"Ha? Apa? Menantu? Emang om tante punya anak cowo yang lain?". Tanyaku heran
"Anak cowok lain yang mana to ndo Intan? Ya cuma Ken anak tante satu-satunya. Anak kesayangan". Ibunya Ken tersenyum-senyum tak jelas sambil terus mengusap-usap bahu Ken.
"Jadi maksudnya?". Aku semakin bingung. Tetiba rombongan keluarga Ken masuk ke ruang tamu membawa bawaan banyak sekali. Aku yakin itu bukan bawaan biasa. Penuh dengan hiasan. Ah apa ini? Lamaran? Di tengah kebingungan itu tetiba Ken memegang tanganku dan...
"Intan, will you marry me?".
"What? Will you apa? Marry itu apa?". Tanyaku sambil tersenyum meledek.
"Euuuh mulai deh lo! Romantis dikit napa!". Ken terlihat kesal. Sedangkan orang tua kami hanya tertawa.
"Ahahaha ini apa sih??". Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku hingga aku meneteskan air mata. Aku hanya bahagia, perasaan rindu selama dua tahun terjawab semua maknanya hari ini.
"Intan, serius dong. Ayolaaah". Ken semakin kesal.
"Ma, Pa, aku mau nikah. Boleh ga?" Aku melirik ke Mama Papa yang duduk di sampingku. Mereka berdua hanya mengangguk dan tersenyum. Dan ada senyuman lain lagi yang lebih sumringah. KEN!


THE END

Lemon is Lemon

Luka is Luka, yaudah emang namanya luka. Rasanya sakit. Tapi, bukan berarti ga bisa sembuh kan?

Jodoh is jodoh, yaudah emang namanya jodoh. Kalo jodoh emang ga akan kemana kan?

REDROSE @2014