Teman Hidup :3
Sabtu, 10 Mei 2014
Selasa, 29 April 2014
Jumat, 21 Februari 2014
Cinta #Jilid1
Terinspirasi dari sebuah obrolan santai nan hangat bersama teman-teman dan kakak mentor hari ini mengenai cinta.
Apa itu cinta? Seorang teman yang berkacamata mengatakan bahwa "cinta itu dekat, ada di mana-mana". Iya cinta memang dekat. Lalu apa itu cinta? Teman lain yang berjilbab biru menjawab, "cinta itu mendekatkan kita pada Allah", kemudian aku menambahkan berdasarkan kata seorang teman bahwa "jika cinta itu menjauhkan kita dari Allah, itu tidak bisa disebut cinta, melainkan nafsu".
Tiga jawaban yang membuatku mengangguk-angguk tanda setuju. Tapi cukupkah cinta didefinisikan seperti itu? Rasanya tidak. Cinta, cinta, dan cinta. Apa itu cinta? Di kepala seorang mahasiswa yang hampir setiap hari bercanda mengenai cinta, rasanya butuh literatur lebih untuk mengetahui arti sebenarnya dari cinta. Di tengah perdebatan yang diiringi senyuman-senyuman "mencurigakan" dari kami itu, seseorang membantu meluruskan. Yap kakak mentor. Yeay. Berdasarkan buku yang beliau baca, (re: Serial Cinta) cinta adalah memberi. Hemm hanya satu kata, yaitu MEMBERI. Aku masih bingung dengan kata memberi yang didefinisikan sebagai cinta tersebut. Tapi dibandingkan dengan definisi yang sebelumnya, satu kata tersebut sudah bisa mewakili jawaban atas pertanyaan apa itu cinta. Sampai akhirnya dikatakan "Cinta adalah kata tanpa benda". Aku berpikir sejenak, "ah benar juga, aku tidak pernah melihat wujud cinta". Mungkin jika aku ibaratkan cinta itu seperti angin, bisa dibayangkan bahwa kita bisa merasakan hembusan angin tapi tidak bisa melihat wujud angin. Kita bisa merasakan kehadiran angin dengan melihat pohon-pohon yang "bergerak" karena hembusannya. Begitukah cinta? Bisakah aku merasakan kehadiran cinta dengan melihat sesuatu yang "bergerak" karena hembusannya? Apa yang harus kulihat untuk bisa mengetahui keberadaan cinta? Entahlah, mari kembali ke definisi cinta adalah memberi. Cinta adalah memberi, dan mencintai adalah sebuah keputusan. Artinya, para pecinta sejati tidak suka berjani, tapi mereka akan menyusun rencana untuk memberi. Karena orang yang memutuskan untuk mencintai artinya siap untuk memberi. Ah hembusan angin di siang yang sejuk diiringi kalimat-kalimat itu membuat kami (lagi-lagi) tersenyum penuh arti sekaligus masih penuh tanya. Jadi, cinta itu apa?
Kebingungan itu berkurang ketika dikatakan bahwa cinta itu ada tiga jenis. Apa saja?
Yang pertama adalah CINTA MISI, artinya cinta yang bertujuan untuk tujuan yang lebih besar, dalam hal ini membantu orang lain. Cinta ini hanya ingin memberi tanpa harap kembali. Dicontohkan jika ada seorang teman yang mengalami kesulitan dalam belajar, kita memiliki keinginan untuk membantunya agar ia bisa menjadi lebih baik. Yeay aku mengerti yang ini. Cinta yang kedua adalah CINTA MUSLAHAT. Jika dipersingkat, cinta jenis ini adalah cinta yang ada untuk kepentingan bersama, memberikan keuntungan untuk banyak orang. Dicontohkan seorang pegawai bank yang memberikan cintanya kepada customer dengan cara tersenyum ramah dan memberikan pelayanan sepenuh hati agar image perusahaannya baik dan customer merasa nyaman. (Jadi kalo disenyumin sama satpam BSM di MIPA jangan pada ke-ge-eran yaaa haha). Hmm cinta yang ini juga aku mulai mengerti. Terakhir, jenis cinta yang ketiga adalah CINTA JIWA. Cinta ini yang definisinya agak sulit. Dikatakan bahwa cinta ini membutuhkan "sinyal-sinyal" antar dua orang, dua jiwa. Artinya memiliki chemistry. Hemm sepertinya untuk cinta yang satu ini tidak perlu dicontohkan. Senyuman kami yang (lagi-lagi) penuh arti rasanya sudah menunjukkan bahwa kami paham. Jadi, cinta itu ada tiga jenis. Wah aku baru tahu. Dan selanjutnya aku akan belajar "memilah-milah" cinta. Eaaaa haha.
Sudah, sudah... Sepertinya sejak tadi yang kita bahas adalah cinta kepada manusia. Bagaimana jika kita beralih ke Cinta terhadap Allah sang pemilik cinta? Kadang kita terlalu sibuk memikirkan cinta kita terhadap orang lain, jiwa lain yang membuat kita jatuh cinta. Tapi kita lupa untuk mencintai Zat yang memiliki cinta tersebut, yaitu Allah. Sebuah teguran yang halus namun mengena di hati. Ah kemana saja aku selama ini? Coba saja seberapa sering kita bercerita pada sahabat bahwa "aku cinta dia", tapi pernahkah kita bercerita bahwa "aku cinta Allah"? Aku tahu, terkadang cinta itu tidak perlu diucapkan. Tapi yakinkah kita telah melakukan perbuatan yang menandakan kecintaan kita kepada Allah? Aku kembali merenung di malam yang tanpa bintang ini. Semudah itu melupakan cinta kepada Allah, padahal cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Bahkan semua hal yang kita cintai itu bukankah harus berdasarkan cinta karena Allah?
Sungguh pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak ditanyakan, semakin aku menemukan jawaban yang membuatku menyimpulkan bahwa aku masih sangat tidak baik dalam hal ini. Sedih, takut, merasa berdosa. PASTI. Terimakasih masih memberiku kesempatan untuk menyadari kesalahan itu. Insya Allah tidak hanya disadari, tapi juga diperbaiki. Aamiin :)
Sebelum perbincangan siang itu berakhir, diceritakan juga mengenai The Power of Love. Sebuah cerita yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta.Maaf sebelumnya jika cerita yang kutulis tidak terlalu sama dengan cerita aslinya (maklum hubungannya dengan daya ingat). Intinya begini, dikisahkan ada seorang Putra Mahkota yang malas dan tidak ingin menjadi seorang raja. Bahkan dia tidak memiliki jiwa seorang raja. Sampai akhirnya sang ayah (Raja) khawatir dengan putranya itu. Kemudian sang raja memiliki ide untuk mengundang beberapa perempuan ke istana dengan harapan ada salah satu perempuan yang dicintai oleh anaknya. Berhasil, ternyata Putra Mahkota mencintai salah satu dari mereka. Tapi ada skenario cantik dibalik semua ini. Sang Raja mengatakan pada perempuan yang terpilih tersebut bahwa jika Putra Mahkota menyatakan cinta kepadanya, katakan padanya seperti ini (kurang lebih begini yang aku ingat) "Aku tidak pantas untukmu. Aku hanya pantas untuk seorang raja".
Kalimat tersebut ternyata berdampak sangat besar pada Putra Mahkota. Ia menjadi sosok yang rajin. Ia bertekad keras untuk menjadi seorang raja. Bahkan kini ia memiliki jiwa-jiwa seorang raja. Hingga akhirnya ia menjadi seorang raja. Bisa dilihat betapa ajaibnya sesuatu bernama cinta itu. Cinta bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dari cerita tersebut, cinta bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik.
Kisah ini mengingatkanku kepada ucapanku beberapa waktu yang lalu. Aku pernah mengatakan pada sesorang bahwa "Aku tidak akan mengubahmu, aku hanya akan membantumu menemukan alasan agar kau mau berubah menjadi lebih baik". Dibalik kalimat itu sebenarnya tersirat sebuah keinginan yang hari ini akan kuubah menjadi tersurat.
"Aku tidak punya hak atas dirimu. Yang harus mengubah dirimu adalah kau sendiri yang memiliki jiwa dan raga itu. Aku hanya akan membantumu menemukan alasan untuk berubah. Kau ingin tahu apa alasan itu? Alasan itu adalah cinta. Kuharap suatu hari nanti ada cinta yang bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik. Hingga hari ini aku bertekad untuk membantumu menemukan alasan itu dan berharap kau bisa merasakan kehadiran cinta yang akan membuatmu berubah".
Cinta, cinta, cinta.
Cinta itu fitrah
Cinta bisa mengubah segalanya
Cinta tidak pernah salah
Tapi hati-hati terhadap cinta yang membutakan
Dan mulailah lebih mencintai Allah Sang pemilik cinta yang sesungguhnya
Tulisan kali ini berdasarkan cerita yang dikutip dari buku berjudul"Serial Cinta" karangan Bapak Anis Mata
Sampai bertemu di Cinta #Jilid2 pekan depan. Insya Allah :)
Senin, 20 Januari 2014
Smile VS Tears
"Sedang apa kau di sana?". Tanya Sora tiba-tiba mengagetkanku yang tengah asyik di depan laptopnya.
"Ah tidak, tidak sedang apa-apa". Jawabku santai sambil masih terus fokus ke layar laptop.
"Sudah jangan fokus di depan laptop terus, bosan aku melihatnya. Lagipula sejak kapan kau serius begitu dengan laptopku? Ayo ikut denganku". Dengan cepat Sora menarik tanganku tanpa memberikan kesempatan untuk mematikan laptop.
"Eeehhh kita mau ke mana?".
Sora tidak menjawab sama sekali. Ia terus saja menarik tanganku menuju ke luar rumahnya. Aku pun tidak ingin bertanya lagi. Kuikuti saja kemana langkahnya pergi.
"Lihat!!". Sora menunjuk ke arah langit. Aku mengernyitkan dahi dan mengedipkan mata berkali-kali berusaha melihat apa yang ditunjuk Sora dengan jelas.
"Eng.........pelangi??" Tanyaku dengan nada heran
"Iya, cantik kan??". Sora terlihat sangat riang.
"Hmm biasa saja". Jawabku singkat.
"Kau......." Tiba-tiba ekspresi Sora berubah.
"Kenapa kau sora?". Tanyaku heran lagi
"Rama, kau........". Sora kembali tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan sekarang ia menangis. Aku kebingungan tapi tetap tidak bisa berkata apa-apa. Sora menangis sambil terus menatapku, seolah air mata itu jatuh karenaku. Hmmm sepertinya itu memang benar. Tapi kenapa?
"Sora ada apa denganmu?". Tanyaku sekali lagi.
"Pulang sana". Dengan cepat Sora kembali masuk ke rumahnya dan segera menutup pintu. Aku hanya terpaku melihat tingkahnya yang aneh itu. Tanpa banyak bicara lagi aku pun segera pergi.
***
Tiga hari berselang setelah kejadian itu Sora tidak pernah ada kabar. Banyak pesan telah kukirimkan padanya namun tak kunjung dibalas. Semarah itukah Sora? Hanya karena pelangi? Ah kekanak-kanakan sekali. Aku sudah mengenalnya selama 5 tahun. Namun sikap aneh seperti ini baru muncul sekarang. Pagi ini tiba-tiba pesanku dibalas olehnya, tapi isinya....... "Kapan kau akan mulai tertarik dengan semua ceritaku?".
Hee??? Apa lagi ini? Ada apa dengan Sora? aaaaarrggghhh
"Sora, sepertinya kita harus bicara, temui aku di kafe biasa jam 7 malam nanti" *Sent*
***
Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Aku masih duduk di tempat yang kujanjikan pada Sora sebelumnya. Namun ia tak kunjung datang. Ah gadis itu menyebalkan sekali. Umpatku dalam hati. Waktu terus berjalan. Kini jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam. Sora belum juga datang. Aku kesal, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkahku.
"Hanya 3 jam batas kesabaranmu?".
Awalnya aku akan marah-marah ketika ia datang karena terlambat. Namun ucapannya itu membuatku mengurungkan niat untuk marah.
"Sora, akhirnya kau datang". Aku berusaha tersenyum.
"Hanya 3 jam batas kesabaranmu?".
Ah ia mengulangi pertanyaan itu lagi. Apa maksudnya? Lalu ada apa dengan ekspresi wajahnya itu? Menyeramkan sekali. Sepertinya ia sangat marah padaku? Tapi kenapa????
"Batas kesabaran? Apa maksudmu Sora?". Kuberanikan bertanya sambil mempersilakannya duduk.
"Tidak usah, aku pulang saja". Tanpa sempat aku menanggapi ucapannya, ia segera berjalan keluar dari kafe.
"Kau ini kenapa Sora?? Jangan seperti ini??!!" Aku berteriak sejadi-jadinya. Kini semua orang yang ada di kafe tersebut melihat ke arahku. Ah bodoh. Mereka semua menatapku dengan heran. Baiklah aku tidak peduli, lagipula siapa mereka? Sekarang Sora lebih penting dari apapun bagiku. Aku segera mengejar Sora. Kulihat di tempat parkir, ia tidak ada. Kemana dia? Hemm aku baru ingat mobil Sora sedang di bengkel. Aku segera berlari ke tepi jalan, berharap masih ada Sora menunggu taksi di sana. Namun tetap tidak ada. Kucoba hubungi teleponnya, tidak aktif. Aaarrggghhh!!!!
***
Pagi yang menyakitkan untuk jiwa yang sedang kebingungan sepertiku. Hujan sejak pagi tadi enggan berhenti. Matahari pun seolah malas untuk keluar dari sarangnya. Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 10 pagi, namun suasananya seperti jam 6 pagi. Eeeuuuhhh -,-
Aku kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Tidak ada jadwal kuliah di Hari Minggu, yaiyalah. senangnya..... Namun tiba-tiba suara dering telepon menghancurkan kebahagiaanku untuk kembali tidur.
"Hallo". Jawabku ketus
"Ah iya tante? Di mana? Iya aku ke sana".
Ada apa lagi ini?? Batinku
***
Aku terkejut bukan main mendengar kabar dari Tante Maya, yang tak lain adalah Ibu dari Sora. Ia mengatakan Sora dirawat di rumah sakit. Sungguh ini kali pertama aku melihat Sora terbaring lemah di tempat tidur. Selama ini ia selalu ceria dan tidak pernah terlihat lemah. Tubuhnya seolah memiliki cadangan energi yang banyak. Namun yang kulihat hari ini sangat berbeda. Selang infus terpasang di kedua tangannya. Wajah Sora begitu pucat. Kupandangi dia yang sedang tertidur lelap dari samping tempat tidur sambil berharap ia akan terbangun. Setelah beberapa menit tidak ada perubahan, ia tetap tertidur. Hingga akhirnya Tante Maya memangajakku untuk bicara di taman rumah sakit.
“Sora tidak pernah menceritakan hal ini padamu?”. Tanya tante maya yang kini duduk di sampingku.
“Cerita tentang apa?”. Aku heran
“Tentang penyakitnya”. Tante Maya kemudian tertunduk
“Penyakit? Penyakit apa? Bahkan Sora jarang sekali mengeluh sakit padaku”.
“Hemm sebenarnya Sora mengidap penyakit Leukimia. Dan ia telah mengetahuinya sejak setahun yang lalu. Saat itu penyakitnya masih stadium satu. Tapi sekarang……”. Tante Maya tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kini ia hanya bisa menangis. Aku yang baru mengetahui hal itu hanya bisa terpaku. Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Bagaimana bisa anak seceria itu menjadi sarang penyakit mematikan semisal Leukimia? Ah Sora, mengapa kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku?
***
“Kau sudah bangun Sora?”. Tanyaku padanya ketika memasuki kamar inapnya di rumah sakit itu.
“Untuk apa kau ke sini?”. Sora terlihat tidak senang dengan kehadiranku.
“Aku…. Aku ingin menjengukmu. Tidak bolehkah?”. Aku masih berusaha bersikap biasa-biasa saja seolah kami tidak pernah bertengkar sebelumnya.
“Sejak kapan kau peduli denganku?”. Sora mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia enggan menatapku.
“Sora, jangan seperti ini. Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah. Jangan marah padaku tanpa alasan yang jelas”.
“Tanpa alasan yang jelas katamu? Ah bahkan sepertinya kau masih belum menyadarinya”. Kini Sora menatapku. Namun matanya meneteskan air mata.
“Menyadari apa?”.
“Sudahlah, tinggalkan aku. Aku sedang ingin sendiri”. Sora memejamkan matanya berpura-pura ingin tidur agar aku pergi. Namun aku tidak akan pergi sebelum semuanya jelas.
“Emmm Sora, menganai penyakitmu itu. Mengapa kau tidak memberitahukannya padaku?”. Kulihat Sora kembali membuka matanya. Namun ia tidak bicara. Ia hanya menatapku sambil menangis. Wajah pucat ditambah tangisannya itu membuat aku merasa ingin memeluknya. Gadis yang biasanya ceria itu sangat terlihat berbeda sekarang. Ada apa denganmu Sora? Batinku.
“Darimana kau tahu soal penyakitku?”.
“Dari Ibumu”.
“Ah aku sudah menduganya”.
“Apa maksudmu?”.
“Sebenarnya aku sudah berusaha memberitahumu sejak satu tahun yang lalu. Saat pesta perayaan tahun baru”.
“Lalu mengapa tidak kau beritahu?”.
“Sudah. Tapi kau tidak menyadarinya. Bahkan setahun berlalu, kau masih tidak menyadarinya”. Kini Sora menangis lagi.
“Apa maksudmu Sora?”.
***
Satu tahun yang lalu…………………
“Kapan kau akan mematikan laptopmu? Bergabunglah bersama kami, ini tahun baru. Tidak bisakah kau luangkan waktu untuk keluargamu sebentar saja?”. Sora menghampiriku sambil membawa beberapa jagung manis yang sepertinya akan ia bakar. Tahun ini untuk pertama kalinya Sora merayakan tahun baru bersama keluargaku. Lebih tepatnya keluarga Sora dengan keluargaku.
“Iya sebentar lagi”.
“Ah dasar keras kepala”.
“Kau duluan saja Sora”.
“hemm oiya, ini”. Sora menyerahkan flasdisk miliknya kepadaku”.
“Apa ini?”. Tanyaku heran
“Flasdisk”.
“Iya tahu, maksudku….”.
“Ada satu file di sana untuk kau buka. Tapi jangan dibuka malam ini, besok saja”.
“File apa? Waaah kau memberiku gambar-gambar aneh yaa??” Tanyaku sambil tersenyum jail.
“Nyeh, jangan samakan aku denganmu. Sudah copy saja dulu ke laptopmu, besok kau akan mengetahuinya”.
“Ah merepotkan sekali kau ini. Tidakkah kau lihat aku sedang sibuk dengan urusanku”.
“Hih yasudah tidak usah”. Sora menarik kembali flasdisk miliknya dari tanganku
“Begitu saja marah, kemarikan flasdisk-nya”.
“Kuharap ini bisa mengubah segalanya”. Kata Sora sambil menyerahkan kembali flasdisk-nya padaku.
“Eeeeeeuuhh kata-katamu mengerikan sekali”.
“Nyeh, kau ini. Selalu saja bercanda”.
***
“File itu………”. Gumamku
“Kau sudah ingat?”.
“Ya aku ingat”.
“Kau sudah membukanya?”.
“Emmmm belum, maaf aku lupa”.
“Ah aku sudah menduganya”.
“Aku kan buka sekarang”. Aku mengeluarkan laptop dari dalam tasku. Namun Suara Sora menghentikan gerak tanganku untuk menyalakan laptop.
“Sudah terlambat. Itu untuk satu tahun yang lalu, bukan sekarang. Tidak lama lagi aku akan mati. Jadi kurasa file itu sudah tidak berguna”.
“Sora kau tidak bisa bicara seperti itu. Mati? Yang benar saja. Kau akan hidup lebih lama lagi”.
“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa seperti itu. Aku paham betul penyakit apa yang sedang aku idap sekarang”.
“Tapi……”
“Pergilah”. Sora kembali memasang wajah sinisnya. Namun aku tidak menghiraukan perintahnya. Aku tetap menyalakan laptop-ku.
“Percuma, kumohon pergilah” Kata Sora dengan nada dingin
“Tapi aku…..”
“Pergiii!!!!”. Ini pertama kalinya Sora berteriak marah padaku. Dahulu ia tidak pernah bersikap seperti ini. Aku selalu membuatnya kesal, namun ia masih menghadapinya dengan senyuman. Sora yang kulihat sekarang sangatlah berbeda. Aku tidak berani membantahnya lagi, aku pun segera pergi meninggalkan Sora sendirian di sana.
***
Setibanya di rumah aku langsung mencari file yang setahun lalu pernah aku pindahkan ke laptopku. Ah sial aku lupa memindahkannya ke folder apa. Bahkan aku tidak ingat nama file itu apa. Kubuka setiap file yang terasa asing bagiku. Tidak ada, bukan ini. Lalu yang mana??? Tiba-tiba teringat kata-kata Sora saat itu "Kuharap ini bisa mengubah segalanya". Hemm mungkinkah?? Perlahan kuketik kalimat itu di kotak search. Loading beberapa saat dan, benar. Sora, kau ini memang aneh. Masa iya nama file sepanjang itu. Aku tertawa kecil sebentar. Kemudian kubuka file itu. Sempat dibuat kesal karena not responding. Setelah beberapa saat akhirnya file itu terbuka. Sekilas lebih terlihat seperti surat, tak ada judul di sana. Surat??
Selamat tahun baru 2017 Rama.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku hanya akan mengatakan itu di malam tahun baru. Namun sepertinya tahun ini akan sedikit berbeda. Sebelumnya terima kasih telah mengundang keluargaku untuk merayakan tahun baru bersama keluargamu. Aku tidak menyangka persahabatan kita akan sejauh ini.
Persahabatan, hemmm
Tidak terasa ya sudah lima tahun kita selalu bersama. Entah sudah berapa banyak cerita yang kudengar darimu, berapa banyak lagu yang kudengar darimu, dan entah berapa banyak aku menasehatimu. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Itu sangatlah lama, ya sangat lama. Sangat lama untuk memahami satu sama lain. Tapi, entah mengapa aku merasa hingga detik ini kau masih belum bisa memahamiku. Entahlah.
Percaya atau tidak, aku pernah berniat untuk pergi jauh darimu. Dan itu tidak hanya sekali. Sudah berkali-kali aku ingin menjauh, namun berkali-kali juga aku kembali. Alasanku kembali hanya satu, aku peduli padamu. Entah sejak kapan aku menjadi orang yang sangat peduli. Aku peduli dengan semua ceritamu, peduli dengan kisah hidupmu, peduli dengan keseharianmu, dan peduli dengan apapun yang kau lakukan. Itulah alasanku untuk kembali. Lalu apa alasanku untuk menjauh? Kurasa sudah saatnya aku mengatakannya padamu.
Begini, kita dipertemukan dengan karakter yang sangat jauh berbeda namun cocok. Maksudnya apa? Maksudnya adalah, aku merupakan pendengar yang baik dan kau pencerita yang baik. Alhasil aku selalu bisa menjadi pendengar yang baik untuk semua ceritamu. Aku senang, aku bahagia ada seseorang yang percaya menceritakan segala hal kepadaku. Namun, semakin lama aku semakin merasakan ada "ketidakadilan" di sini. Jika aku selalu mendengar ceritamu, kapan kau akan mulai mendengar ceritaku? Aku selalu berusaha memahami duniamu, tapi kapan kau akan berusaha memahami duniaku? Setiap kali aku bercerita, selalu saja tanggapan "melenceng" yang aku dapatkan, bahkan terkesan kau tidak tertarik. Namun aku berusaha sabar. Sempat aku berpikir, mungkin beginilah cara hidup persahabatan kita. Aku tidak bisa mengubahnya. Jika aku memaksa, persahabatan itu akan mati. Maka dari itu aku selalu menahan diri untuk marah padamu, atau untuk sekedar mengatakan "Cobalah sedikit peduli dengan kehidupanku". Semua itu tidak aku lakukan karena aku tidak ingin persahabatan ini mati.
Lalu, mengapa hari ini aku mengatakan semua itu padamu?
Hemm aku rasa tak lama lagi persahabatan kita juga akan mati. Satu minggu yang lalu aku divonis menderita penyakit Leukimia. Hidupku sudah tidak lama lagi, Rama. Tidak lama lagi. Mungkin setahun, atau dua tahun? Hemm atau mungkin tiga tahun? Entahlah. Sebenarnya masih ada kesempatan untuk sembuh dengan jalan operasi, namun kemungkinannya sangat kecil. Maaf aku bukannya pesimis, tapi seharusnya kau tahu bahwa aku adalah orang yang tidak bisa membedakan antara pesimis, optimis, dan realistis.
Aku harap ceritaku yang panjang lebar ini bisa membuat matamu sedikit terbuka atau setidaknya menyadari bahwa aku juga ingin didengar, aku ingin duniaku juga menarik untukmu, aku ingin...... ah sudahlah, lama kelamaan ini terdengar PAMRIH. Bukan imbalan seperti yang kuinginkan dari persahabatan, tapi...... bukankah memang itu yang harus kau lakukan di dalam persahabatan? Tidakkah kau merasa persahabatan kita ini persahabatan satu arah??? Ah bahkan saat menulis kalimat tersebut, terlintas dalam benakku untuk menjauh lagi darimu. Namun ada sesuatu dalam hatiku yang tiba-tiba mengatakan "Jangan". Kutanyakan mengapa? Kau masih peduli dengannya yang tidak memedulikanmu? Kemudian Ia menjawab "Tidak, aku tidak peduli padanya. Sekarang aku menyayanginya".
Aaaaarrggghhhh Tidak, aku benar-benar tidak bisa pergi darimu. Karena rasa sayang ini telah melebihi rasa benciku padamu. Mungkin penyakit ini adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku benar-benar pergi darimu. Kuharap dengan sisa waktu yang kupunya, kau bisa mengubah sikapmu sedikiiiiiitt saja untukku. Hanya itu yang aku inginkan sekarang, hanya itu.
Kuharap ini bisa mengubah segalanya................................................
Dari orang yang selalu menutup telinga ketika orang lain menggunjingmu,
Sora Alia
Aku tidak bisa menahan air mataku. Kini aku hanya menangis tanpa bisa berkata apa-apa. Tanpa pikir panjang aku segera menuju ke rumah sakit. Langkahku terburu-buru namun gontai. Dengan terengah-engah aku terus berlari di koridor rumah sakit untuk bisa sampai di kamar Sora dengan cepat. Setibanya di depan pintu, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Setelah kurasa membaik, kubuka pintu kamar Sora perlahan. Hemmm Sora tidak sendirian di sana. Ada seorang pria yang sepertinya kukenal sedang menyuapinya bubur.
Angga? sedang apa dia di sini? Batinku. Angga adalah teman kami satu fakultas. Setahuku ia memang cukup dekat dengan Sora, tapi melihatnya menyuapi Sora makan bubur itu membuatku kesal. Aku tetap masuk menghampiri Sora. Keduanya terlihat biasa saja dengan kehadiranku.
"Sora, aku ingin bicara padamu". Kataku perlahan
"Bicara apa lagi?". Nada bicara Sora masih tidak senang padaku.
"Sebelumnya bisakah Angga keluar dari sini?" Pintaku sambil menatap Angga dengan sinis.
"Aku akan tetap di sini, bicara saja". Angga balik menatapku dengan sinis.
"Beraninya kau mengatakan itu, keluar kataku sekarang!!". Aku mulai tidak bisa menahan emosi
"Cukup Rama, biarkan Angga di sini". Tatapan Sora kini tidak sinis lagi, nada bicaranya pun melemah. Wajahnya terlihat semakin pucat.
"Tapi Sora...... ah baiklah".
"Kau sudah membacanya?". Tiba-tiba Sora bertanya sambil tersenyum. Ah terima kasih Tuhan aku tidak melihat wajah sinisnya lagi.
"Hemm iya. Sora maafkan aku. Tapi ada hal yang harus kau ketahui. Selama ini sebenarnya aku peduli padamu, aku peka dengan semua ceritamu. Hanya saja aku bukan orang yang pandai berekspresi. Aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kepedulian itu padamu. Jadi aku rasa kau salah faham. Ah tidak, kau tidak sepenuhnya salah faham. Aku memang pria yang jahat. Jika kau bilang aku tidak memahamimu, sepertinya itu benar. Kau selalu terlihat ceria di hadapanku, dan bodohnya aku selalu mengira kau baik-baik saja. Padahal kau terluka, ya terluka karena sikapku. Aku memang benar-benar kurang memahamimu. Aku menyeseal, maafkan aku Sora. Aku..........". Belum selesai aku bicara, Sora memotong pembicaraanku dengan nada yang lemah sambil tersenyum.
"Sudah cukup Rama, aku sudah terlalu banyak mendengar ceritamu. Dan aku rasa ini adalah cerita terakhirmu yang akan kudengar, indah sekali. Sudah cukup, hanya itu yang aku ingin dengar sejak lima tahun yang lalu. Aku tahu sekarang, kau tidak sejahat yang orang-orang bilang kepadaku. Aku benar, kau itu pria yang baik. Aku tidak menyesal telah menyayangimu". Kata-kata itu dikatakan Sora diakhiri dengan air mata yang jatuh mengalir di pipinya. Tunggu, ada yang lain mengalir di wajahnya. Kini darah segar keluar dari hidungnya.
"Sora, kau baik-baik saja?". Tanyaku panik. Angga segera keluar kamar untuk memanggil dokter. Kulihat Sora menatapku dengan pandangan kosong namun masih menitikan air mata. Tangan kanannya terlihat memegangi dadanya. Ia terlihat sesak napas. Wajahnya emakin pucat. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain memegangi tangannya. Tak berapa lama kemudian tim dokter datang. Terpaksa aku melepaskan genggaman tangaku dengan Sora. Orang tua Sora menangis melihat kondisi Sora sekarang. Suasana di kamar ini sangat mencekam sekarang. Aku merasa gelap, gelap, dan gelap.
***
"Sampai kapan kau akan tetap di sini?". Tanya Angga yang sejak tadi memang berdiri di sampingku. Lebih tepatnya berdiri di samping makam Sora.
"Bahkan aku belum sempat mengatakan pada Sora bahwa aku juga menyayanginya". Mataku masih memandangi makam Sora tanpa menghiraukan pertanyaan dari Angga.
"Sora tidak sebodoh yang kau kira, tanpa kau ucapkan pun ia pasti tahu bahwa kau juga menyayanginya. Kau pikir apa yang membuatnya bertahan hingga lebih dari lima tahun bersamamu? Ya keyakinan itu. Keyakinan bahwa sebeneranya kau juga menyayanginya". Setelah mengatakan itu Angga melenggang pergi meninggalkanku.
"Tunggu". Teriakku pada Angga.
"Apa lagi?" Angga kembali menoleh ke arahku.
"Sedekat apa kau dengan Sora? Mengapa sepertinya kau sangat memahaminya?".
"Tenang saja, hubungan kami tidak sedekat hubungan kalian. Kau pikir kepada siapa ia menceritakan semua hal aneh tentangmu? Tapi hanya sebatas itu, Sora sangat setia dengan cintanya. Cintanya padamu".
"Benarkah? Jadi Sora curhat padamu tentangku?".
"Hmm".
"Tapi....."
"Tapi apa?".
"Apakah kau menyukai Sora?".
"Kalau aku bilang iya pun sudah tidak ada artinya lagi".
"Maksudmu kau menyukainya?".
"Hmmm.. Iya. sayangnya ia lebih menyayangimu. Kulihat keseriusan terhadapmu dimatanya. Jadi aku tidak pernah mau mengakui perasaan ini".
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Angga. Aku tidak memiliki keberanian menatap Angga. Aku hanya tertunduk.
"Seharusnya Sora bisa bahagia denganmu, tidak usah menyayangi orang sepertiku". Gumamku lemah.
"Kau ini bodoh atau apa? Susah payah Sora mengatur rasa sakit dan cintanya karenamu, sekarang kau seenaknya mengatakan seperti itu? Ah bahkan aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali senyumannya itu melawan air matanya karenamu".
"Tapi aku memang salah, aku......".
"Sudahlah, Sora tidak akan senang melihatmu merasa bersalah seperti ini. Tidakkah kau ingat kata-kata terakhirnya padamu? Ia tidak menyesal telah menyayangimu".
Aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku lagi sekarang.
"Baiklah Rama, senang bisa berbincang dengan orang yang selama ini namanya selalu disebut dalam setiap cerita Sora kepadaku. Kuharap tidak ada Sora Sora lain di dunia ini. Jika kau tidak bisa berubah untuk Sora, berubahlah untuk yang lain".
Angga kemudian pergi meninggalkanku sendirian yang masih terpaku di samping makam Sora.
THE END
Minggu, 19 Januari 2014
Sabtu, 21 Desember 2013
Secarik Surat dari Ibu di Hari Ibu
Just imagine that................
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku mendengar tangisan pertamamu di dalam gendonganku. Tapi sekarang, jangankan untuk menggendong, tinggi tubuhmu pun melebihi aku. Mungkin cinta yang membuat semuanya berlalu begitu saja. Atau mungkin ada yang aku lewatkan? Entahlah
Hari ini, aku melihatmu pergi untuk melakukan aktifitasmu seperti biasa. Sebelum pergi kau cium tangan dan kedua pipiku. sambil tersenyum kau berbisik pelan di telingaku "Doakan aku". Ah lagi-lagi aku berpikir rasanya baru kemarin ayahmu mengumandangkan adzan di telingamu.
Tunggu, tadi kau bilang apa? Doakan aku?
Anakku, hari ini kau tersenyum tidak seriang biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang kau takutkan. Ada apa? Apa yang harus aku doakan untukmu?
Aku tahu kau bukan lagi anak berusia 1 tahun yang bisa menangis sepuasmu di depanku. Tapi, tidak bisakah kau percaya padaku untuk menjadi tempat curahan hatimu? Jujur saja, sepertinya aku merasa kehilangan dirimu. Tidakkah kau ingat kata-kata pertamamu di dunia ini adalah "Mama"?? Tidakkah kau ingat betapa bahagianya aku ketika mendengar sebutan itu dari bibir mungilmu? Dulu, jika kau menangis, aku tahu bahwa kau sedang lapar. Aku tahu apa yang kau inginkan meskipun tidak kau katakan. Aku selalu tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi itu dulu. Ketika komunikasi andalanmu hanya berupa tangisan dan senyuman.
Sekarang?? Aku tidak bisa memahami apa arti senyumanmu ketika matamu terpaku di depan layar laptop atau handphone. Aku tidak mengerti apa yang kau tangisi sendirian di kamarmu. Aku hanya bisa mengintipmu menangis dari balik pintu kamarmu berharap kau melihat kehadiranku dan datang memelukku lalu menceritakan semua masalahmu padaku. Tapi, sepertinya itu tidak pernah terjadi.
Annakku, apa yang terjadi? Sepertinya kesibukkanmu mengalahkan kesibukanku. Aku benarkan? Aku merasa kau tidak lagi punya waktu untukku. Setidaknya hanya untuk bercengkrama di rumah, menonton televisi bersama, masak makanan kesukaanmu bersama-sama, dan masih banyak hal lainnya yang dulu sering kita lakukan bersama. Aku heran, sepertinya aku telah mendesain kamarmu menjadi ruangan yang begitu nyaman sehingga kau lebih betah di sana daripada ke ruang tamu duduk bersamaku. Hmmm ini salahku, bukan salahmu. Harusnya kubuat kamarmu tidak senyaman itu. Atau bolehkah aku sedikit menyalahkanmu?? Ah tidak, aku tidak mau. Kau pasti punya alasan melakukan itu semua. Tugas kuliahmu banyak kan? Kau sibuk belajar kan? Dan kamar adalah tempat yang bisa membuat konsentrasimu penuh, iya kan? Aku memaklumi itu. Tidak apa-apa anakku, belajarlah di kamarmu selama apapun yang kau mau agar konsentrasimu tidak terganggu. Tapi.... kadang aku juga merasa kau terlalu betah di kampus daripada di rumah. Ada apa? Oohh jadwal kuliahmu pasti padat yah? Kau sibuk organisasi kan agar dirimu terlatih menjadi orang yang pandai dalam berbicara dan memiliki pengalaman yang banyak, kau pasti jadi orang penting di kampus, teman-temanmu pasti banyak ya sehingga kau harus membagi-bagi waktu untuk berdiskusi dengan mereka dan akhirnya kau selalu pulang ke rumah larut malam. Begitu rutinitasmu, pergi pagi pulang malam. Ah aku sangat sangat memaklumi itu anakku. Kau sedang membangun kehidupanmu sendiri menuju hidup yang lebih baik, mana boleh aku melarangmu. Iya kan? Aku benarkan?
Annaku, kesabaranku ini memang ada batasnya. Namun khusus untukmu aku hapus hingga bersih batas itu. Apapun yang kau lakukan selama itu baik untuk masa depanmu, aku akan mendukungmu.
Aku hanya minta satu hal padamu, jika hari-hari biasa kau tidak bisa selalu bersamaku, bisakah satu hari saja dalam satu tahun yang orang-orang sebut "Hari Ibu" ini kau ada bersamaku?? Sekali saja dalam setahun, bisakah kau lupakan sejenak tugas-tugas kuliahmu, organisasimu dan teman-temanmu hanya untuk menghabiskan waktu bersamaku? Sekali saja, Nak..... Aku tidak akan meminta lebih.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku mendengar tangisan pertamamu di dalam gendonganku. Tapi sekarang, jangankan untuk menggendong, tinggi tubuhmu pun melebihi aku. Mungkin cinta yang membuat semuanya berlalu begitu saja. Atau mungkin ada yang aku lewatkan? Entahlah
Hari ini, aku melihatmu pergi untuk melakukan aktifitasmu seperti biasa. Sebelum pergi kau cium tangan dan kedua pipiku. sambil tersenyum kau berbisik pelan di telingaku "Doakan aku". Ah lagi-lagi aku berpikir rasanya baru kemarin ayahmu mengumandangkan adzan di telingamu.
Tunggu, tadi kau bilang apa? Doakan aku?
Anakku, hari ini kau tersenyum tidak seriang biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang kau takutkan. Ada apa? Apa yang harus aku doakan untukmu?
Aku tahu kau bukan lagi anak berusia 1 tahun yang bisa menangis sepuasmu di depanku. Tapi, tidak bisakah kau percaya padaku untuk menjadi tempat curahan hatimu? Jujur saja, sepertinya aku merasa kehilangan dirimu. Tidakkah kau ingat kata-kata pertamamu di dunia ini adalah "Mama"?? Tidakkah kau ingat betapa bahagianya aku ketika mendengar sebutan itu dari bibir mungilmu? Dulu, jika kau menangis, aku tahu bahwa kau sedang lapar. Aku tahu apa yang kau inginkan meskipun tidak kau katakan. Aku selalu tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi itu dulu. Ketika komunikasi andalanmu hanya berupa tangisan dan senyuman.
Sekarang?? Aku tidak bisa memahami apa arti senyumanmu ketika matamu terpaku di depan layar laptop atau handphone. Aku tidak mengerti apa yang kau tangisi sendirian di kamarmu. Aku hanya bisa mengintipmu menangis dari balik pintu kamarmu berharap kau melihat kehadiranku dan datang memelukku lalu menceritakan semua masalahmu padaku. Tapi, sepertinya itu tidak pernah terjadi.
Annakku, apa yang terjadi? Sepertinya kesibukkanmu mengalahkan kesibukanku. Aku benarkan? Aku merasa kau tidak lagi punya waktu untukku. Setidaknya hanya untuk bercengkrama di rumah, menonton televisi bersama, masak makanan kesukaanmu bersama-sama, dan masih banyak hal lainnya yang dulu sering kita lakukan bersama. Aku heran, sepertinya aku telah mendesain kamarmu menjadi ruangan yang begitu nyaman sehingga kau lebih betah di sana daripada ke ruang tamu duduk bersamaku. Hmmm ini salahku, bukan salahmu. Harusnya kubuat kamarmu tidak senyaman itu. Atau bolehkah aku sedikit menyalahkanmu?? Ah tidak, aku tidak mau. Kau pasti punya alasan melakukan itu semua. Tugas kuliahmu banyak kan? Kau sibuk belajar kan? Dan kamar adalah tempat yang bisa membuat konsentrasimu penuh, iya kan? Aku memaklumi itu. Tidak apa-apa anakku, belajarlah di kamarmu selama apapun yang kau mau agar konsentrasimu tidak terganggu. Tapi.... kadang aku juga merasa kau terlalu betah di kampus daripada di rumah. Ada apa? Oohh jadwal kuliahmu pasti padat yah? Kau sibuk organisasi kan agar dirimu terlatih menjadi orang yang pandai dalam berbicara dan memiliki pengalaman yang banyak, kau pasti jadi orang penting di kampus, teman-temanmu pasti banyak ya sehingga kau harus membagi-bagi waktu untuk berdiskusi dengan mereka dan akhirnya kau selalu pulang ke rumah larut malam. Begitu rutinitasmu, pergi pagi pulang malam. Ah aku sangat sangat memaklumi itu anakku. Kau sedang membangun kehidupanmu sendiri menuju hidup yang lebih baik, mana boleh aku melarangmu. Iya kan? Aku benarkan?
Annaku, kesabaranku ini memang ada batasnya. Namun khusus untukmu aku hapus hingga bersih batas itu. Apapun yang kau lakukan selama itu baik untuk masa depanmu, aku akan mendukungmu.
Aku hanya minta satu hal padamu, jika hari-hari biasa kau tidak bisa selalu bersamaku, bisakah satu hari saja dalam satu tahun yang orang-orang sebut "Hari Ibu" ini kau ada bersamaku?? Sekali saja dalam setahun, bisakah kau lupakan sejenak tugas-tugas kuliahmu, organisasimu dan teman-temanmu hanya untuk menghabiskan waktu bersamaku? Sekali saja, Nak..... Aku tidak akan meminta lebih.
Dari Ibu yang selalu menyayangimu
"Jika bagimu Hari Ibu hanya datang pada 22 Desember, bagiku Hari Anak datang setiap hari"
Ah tidak, tapi setiap detik.
Senin, 25 November 2013
INVISIBLE
“Kau
yang di pojok sana! Jangan bicara terus sendirian!. Keluar dari kelasku!!”. Bu
Selly berteriak pada seorang murid pria yang duduk tak jauh dari tempatku di
pojok kanan kelas. Ia tidak berkata apa-apa selain pergi meninggalkan kelas
dengan langkah yang lemah. Seisi kelas kini terdengar berbisik-bisik
membicarakannya. Namun bentakan Bu Selly membuat kami hening kembali. Pria itu,
namanya Lee Seon Ho. Ia mahasiswa pertukaran pelajar dari Korea Selatan. Ia
mulai belajar di kampus ini sekitar satu bulan yang lalu. Di awal kedatangannya,
seluruh mahasiswi histeris dan sibuk membicarakan ketampanannya. Ya, Seon Ho
memang sangat tampan. Pria yang memiliki warna mata kecoklatan yang sepadan
dengan dengan warna rambutnya ini sangat tampan, tidak kalah tampan dari Siwon
personil Super Junior. Bahkan menurutku, sepertinya Seon Ho lebih tampan dari
Siwon. Belum lagi kabar yang beredar bahwa ayah Seon Ho adalah orang Indonesia
sehingga ia cukup lancar berbahasa Indonesia. Awalnya aku tidak yakin karena
wajah Seon Ho tidak menunjukkan adanya campuran dengan Indonesia, namun
perbincangan pertama kami membuatku yakin 100% bahwa ayahnya memang orang
Indonesia.
“Buku
yang kau baca bagus”. Kataku ketika duduk di sampingnya di perpustakaan kampus.
Ia hanya melirik ke arahku sebentar dan kemudian lanjut membaca.
“Ah
namaku Azzahra, panggil aku Zahra. Kita teman sekelas”. Aku mengulurkan tangan
untuk berjabat tangan dengannya.
“Aku
Lee Seon Ho. Seon Ho”. Ia membalas uluran tanganku namun sikapnya masih dingin.
“Hemm
salam kenal Seon Ho”. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa dihadapannya.
Sikapnya terlalu dingin, sulit untuk membuatnya hangat. Aku hanya berusaha
tenang duduk di sampingnya dan membaca beberapa buku yang telah kubawa. Suasana
perpustakaan saat itu sangat hening hingga akhirnya suara gema Adzan dari
musala kampus memecah keheningan.
“Kau,
masih akan tetap di sini?”. Seon Ho menutup bukunya kemudian berdiri. Aku
terkejut mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba itu.
“Ah
aku….”.
“Cepat
ke musala, kita salat ashar”. Ia kemudian berjalan perlahan tanpa menunggu aku
berdiri dari tempat dudukku. Apa katanya? Salat? Batinku. Dengan segera aku
berlari kecil untuk mengejarnya.
“Tadi
kau bilang apa? Salat?”.
“Iya,
mengapa? Ada yang aneh? Aku muslim karena ayahku asli orang Semarang, dan ibuku
mualaf”.
“Hooo
begitu”. Aku tak berani berkata-kata apapun lagi sekarang. Meskipun tadi ia
berbicara dengan kalimat yang sedikit panjang, tapi tetap saja ekspresi
wajahnya datar. Seolah mengatakan padaku, diamlah. Kau terlalu banyak bertanya.
Sejak
perbicangan di hari itu aku tahu kebenarannya, bahkan mengetahui bahwa dia
seorang muslim pun merupakan sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku. Memang
kehadirannya membuat para mahasiswi
berlomba-lomba untuk mendekatinya mungkin termasuk aku sendiri. Setiap
hari aku melihatnya dikelilingi mahasiswi di kelas. Tapi sikap Seon Ho yang
dingin pada semua mahasiswa itu. Lagi-lagi termasuk kepadaku. Bedanya aku lebih
suka mendekati Seon Ho saat ia sedang di perpustakaan seperti minggu lalu. Namun
histeria akan kehadiran Seon Ho lenyap ketika sebuah kejadian aneh terjadi. Kemarin,
ada seorang mahasiswi yang melihat Seon
Ho berbicara dan tertawa sendirian di dalam kelas. Berita itu cepat sekali
menyebar hingga keadaannya sekarang seperti ini, Seon Ho dijauhi. Tidak ada
lagi mahasiswi yang mendekatinya. Bahkan sikap Seon ho yang pendiam dan tanpa
ekspresi itu semakin menjadi-jadi sekarang. Ia menjadi sosok yang lebih
tertutup.
Aku
berjalan menuju lapangan parkir kampus ketika akan pulang. Kulihat Seon Ho
sedang duduk sendirian di dekat mobil Nissan Juke merahnya sambil tertunduk. Ah
setelah kejadian Bu Selly tadi ia tak mengikuti kuliah selanjutnya, apakah ia
sedih? Batinku. Perlahan aku menghampiri Seon Ho dan duduk di sampingnya.
“Seon
Ho, kau baik-baik saja?”. Jujur ini adalah perbincangan kedua kami setelah di
perpustakaan itu. Seon Ho tidak menjawab pertanyaanku, ia masih saja tertunduk.
“Emm
baiklah, semoga kau baik-baik saja”. Aku berdiri dan segera berjalan menuju
mobilku yang diparkir tepat di samping mobilnya.
“Zahra,
temani di sini sebentar”. Seon Ho menghentikan gerakan tanganku yang akan
membuka pintu mobil. Apa? Temani? Kataku merasa bingung dalam hati. Aku tidak
menjawab selain kembali duduk di sampingnya. Seon Ho masih tidak bicara. Hemm
mungkin ia hanya minta untuk ditemani duduk, bukan bicara. Biarlah jika itu
bisa membuatnya tenang. Namun hampir tiga puluh menit berlalu ia tetap tidak
bicara sepatah katapun. Aku merasa aneh dan sedikit geram. Akhirnya kuberanikan
diri untuk bertanya.
“Seon
Ho, apakah ada yang ingin kau katakan?”.
“Tidak
ada”. Oh Tuhan terimakasih karena kali ini ia menjawab pertanyaanku walaupun
singkat.
“Lalu
apa yang kau lakukan di sini? Dan mengapa kau memintaku untuk menemanimu?”.
“Aku
sedang mendengarkan cerita sahabatku”.
“Sahabat?”.
Aku melihat ke sekitar. Tidak ada orang di sini selain kami berdua. Lalu siapa
yang dimaksud sahabat oleh Seon Ho?
“Iya,
kenalkan ini Sierra, sahabatku”. Seon ho menunjuk ke sampingnya. Namun aku
tidak melihat siapa-siapa di sana. Aku tersenyum sebentar ke arah Seon Ho
menunjuk.
“A…a…ah
aku Azzahra. Senang berkenalan denganmu…Sierra”. Bodoh, apa-apaan ini? Siapa
yang sedang aku ajak bicara sekarang?
“Panggil
saja dia Zahra, kau tidak usah sungkan. Ia teman sekelasku”. Seon Ho terlihat
manis ketika berbicara pada sosok yang ia beri nama Sierra itu. Aku masih
kebingunan dengan hal ini. Otakku rasanya menjadi malas untuk berpikir. Rasanya
ingin kutinggalkan saja Seon Ho dan menganggapnya gila. Namun ada sesuatu yang
menahanku, entah apa itu. Batinku mengatakan, teruskan saja kegilaan ini!
Teruskan!.
“Ya,
benar. Panggil saja aku Zahra”. Kataku sambil tersenyum tidak jelas.
“Emm
tapi Seon Ho, sejak tadi aku tidak bisa mendengar Sierra bicara”.
“Sierra
itu pemalu, ia hanya akan menampakkan diri dan suaranya hanya pada orang
tertentu. Lebih tepatnya hanya kepadaku”. Deg!! Jadi Seon Ho sebenarnya tahu
bahwa aku tidak bisa melihat Sierra? Kurasa kali ini Seon Ho-lah yang akan
mengatakan bahwa aku sudah gila.
“Ohh
begitu rupanya”.
“hmm”.
Kini
semuanya kembali hening dan aku rasa aku harus segera menyudahi kegilaan ini.
“Oiya,
aku harus pulang sekarang. Ibuku sudah menunggu di rumah”. Aku berdiri dan
memberi salam.
“Zahra,
gomawo. Oiya, Sierra bilang ia senang berkenalan denganmu”.
“Ne,
cheonmaneyo”. Kegemaranku menonton drama korea sedikit membantuku untuk
mengerti apa yang Seon Ho ucapkan. Aku mengangguk lalu langsung masuk ke dalam
mobilku. Sebelum melajukan mobil, aku sempatkan membuka kaca mobil dan
melambaikan ke arah Seon Ho dan juga……Sierra. Aku memang hanya mendengar gosip
tentang Seon Ho yang berbicara sendiri, namun hari ini aku melihatnya langsung
bahkan berkenalan dengan sosok tak nampak itu. Pria tampan itu kini menjadi
sosok yang sangat misterius bagiku. Ada hal yang ingin kuketahui darinya namun
aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku ketahui. Membingunkan.
Sore
ini langit begitu muram. Memang sepertinya sejak pagi tadi langit enggan
tersenyum sehingga Susana hari ini terasa sendu. Keadaan ini diperparah dengan
mobilku yang sedang masuk bengkel. Alhasil hari ini aku harus naik taksi.
“Ah,
akhirnya hujan juga kan, lalu bagaimana aku pulang? Tidak bawa payung pula”.
Gerutuku sendirian di depan kelas. Akhirnya aku putuskan untuk berjalan menuju
kantin sambil menunggu hujan reda. Sampai akhirnya ada seorang pria yang
suaranya kukenal memanggilku sambil berlari ke arahku. Aku segera menoleh dan
kudapati Seon Ho ada di hadapanku sekarang.
“Ada
acara setelah ini?”. Katanya sambil merapikan buku-buku ditangannya yang
terlihat berantakan akibat berlari.
“Eh…
tidak ada. Ada apa?” Jawabku gugup. Tanpa sadar aku menggaruk-garuk teingaku.
Kurasa Seon Ho paham jika aku gugup. Biarlah.
“Sierra
sakit, ia bilang ingin bertemu denganmu”.
“Apa??
Sakit??”. Aku terkejut bukan karena seseorang yang ku kenal jatuh sakit,
melainkan karena bagaimana makhluk gaib itu bisa sakit?.
“Iya,
Sierra sakit”. Wajah tampan Seon Ho terlihat sangat sedih sekali.
“Emmmm
baiklah, kita pergi kemana sekarang? Rumah sakit?”. Ah pertanyaan bodoh lagi.
“Tidak.
Sierra di rumahku”.
“Rumahmu?”
“Tenang,
di rumah ada ayahku. Jadi kau tidak perlu khawatir”. Seon Ho tersenyum sambil
memegang pundakku. Dia cerdas juga bisa memahami kekhawatiranku. Dan ini
pertama kalinya aku melihat Seon Ho tersenyum. Manis sekali.
“Baiklah”.
“Nah,
kau ikuti mobilku dari belakang ya. Aku akan menyetir perlahan jadi kau bisa
mengikuti”.
“Tapi
Seon Ho, hari ini aku tidak bawa mobil karena sedang diperbaiki.
“Ah
itu terdengar lebih baik. Ayo pergi”. Seon Ho segera menarik tanganku kemudian
berjalan dengan tergesa-gesa. Ini pertama kalinya seorang pria memegang
tanganku. Aku pandangi pria yang tingginya sekitar 180 cm itu berjalan sambil
memegang tanganku. Ah oppa, mengapa harus aku? Batinku.
Akhirnya
kami tiba di sebuah rumah mewah. Di depan pintu kami disambut oleh seorang pria
agak tua dengan setelan kemaja biru yang rapi.
“Halo
Pah, kenalkan ini teman kuliahku Azzahra”.
“Halo
om, panggil aku Zahra saja”. Aku bersalaman dengan ayahnya sambil tersenyum.
“Hoo
ini Zahra, cantiknya. Panggil om dengan Om Brata saja. Ayo cepat masuk. Sierra
sudah menunggu”. Senyum om Brata ramah sekali, wajahnya sangat bersahaja. Dan
pujian cantiknya itu membuatku sedikit melayang. Tunggu, tadi ia bilang apa?
Sierra? Sepertinya sekarang aku sedang menghadapi ayah dan anak yang kompak
gilanya. Ah aku juga sudah ikutan gila sekarang.
“Iya
om, terimakasih”.
“Ayo
Zahra langsung ke kamarku saja”. Ajak Seon Ho sambil menarik tanganku lagi. Aku
berhenti sejenak dan menoleh ke arah om Brata. Om Brata hanya tersenyum
kemudian mengangguk pertanda mengizinkanku untuk masuk ke kamar Seon Ho.
Benar-benar ayah dan anak yang sangat kompak. Bisa mengerti apa yang aku
khawatirkan tanpa perlu aku ucapkan.
“Sierra
lihat siapa yang datang”. Ucap Seon Ho ketika memasuki kamarnya. Aku bahkan
tidak tahu bagaimana ekspresi Sierra ketika aku datang. Kini aku duduk di tepi
tempat tidur. Aku hanya bisa memandangi bantal dan bad cover, bagiku tidak ada
siapa-siapa di sana kecuali Sierra yang tak nampak itu. Dengan berusaha
menghilangkan logikaku, kupaksakan berbicara pada bantal.
“Sierra,
kau baik-baik saja?” Tidak ada jawaban, oh mungkin aku yang tidak mendengarnya.
“Seon
Ho, Sierra bilang apa?”. Tanyaku pada Seon Ho yang berdiri di belakangku.
“Sierra
bilang dia baik-baik saja setelah kau datang”.
“Benarkah?”.
Tanpa sadar aku merasa sangat senang mendengar hal itu dan Seon Ho hanya
tersenyum. Lagi, Seon Ho tersenyum lagi. Manisnya.
“Kalau
begitu, bolehkah aku melihat Sierra? Ia pasti cantik secantik namanya”.
“Sierra
bilang belum saatnya”.
“Hemm
baiklah. Nah, sebaiknya sekarang kita biarkan ia beristirahat”.
“Zahra,
Sierra ingin ditemani olehmu hingga ia tidur”.
“Baiklah
Sierra”. Aku tersenyum ke arah bantal itu.
“Terimakasih
Zahra, aku akan mengambilkan minum untukmu”.
Aku
hanya tersenyum dan Seon Ho keluar dari kamar, Sekarang apa? Apa benar di
tempat tidur ini ada Sierra? Mengapa ini terlalu rumit?
“Sierra,
kau masih bisa mendengarku? Hemm aku mungkin baru mengenal Seon Ho. Tapi aku
sudah bisa meraskan bahwa Seon Ho sangat sayang padamu. Dan sepertinya ia hanya
tertawa saat bersamamu. Jika Seon Ho menganggapmu sangat berarti, kumohon jaga
Seon Ho ya. Biarkan ia tetap tersenyum seperti hari ini”. Aku berbicara pada
Sierra seakan sedang berbicara pada adikku yang sedang tertidur. Entah ia mendengarku
atau tidak, yang jelas aku merasa benar-benar gila sekarang.
Ini
hari minggu, jam 7 masih terlalu pagi untuk memulai segala aktifitas. Aku
menarik selimutku kembali hingga menutupi wajahku. Tetiba handphone-ku berdering.
Dengan malas aku meraihnya dan mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang
menelpon.
“Hello,
good Sunday morning”. Nadaku lemas.
“He???
Eh iya iya baik. Sampai jumpa. Apalagi ini? Batinku.
“Jujur
saja aku terkejut ketika ia bilang punya seorang teman”. Om Brata memulai
pembicaraan setelah waiters mengantarkan minuman ke meja kami. Sebuah kafe di
dekat kampus yang disepakati om Brata untuk bertemu saat di telepon tadi.
“Maksud
om?”
“Sejak
kuliah di sini, ia belum pernah menceritakan tentang teman-temannya, apalagi
membawa temannya ke rumah”.
“Seon
Ho memang cenderung pendiam di kampus, bahkan terkesan tertutup”.
“Saat
di Seoul ia juga seperti itu. Seon Ho lebih senang bermain dengan teman
khayalannya itu”.
“Maksud
om, Sierra?”.
“Ya,
Sierra adalah teman khayalannya sejak SMP. Seon Ho sendiri menjadi sosok yang
pendiam sejak ibunya meninggal dunia saat SMP itu”. Aku hanya terdiam mendengar
cerita om Brata. Matanya kini berlinang-linang.
“Dulu
Seon Ho anak yang ceria, tapi….”. Kini om Brata tidak bisa melanjutkan
kata-katanya dan tangisnya pun pecah.
“Om,
tenanglah. Seon Ho pasti akan melalui masa-masa ini dengan baik dan ia akan
seperti dulu lagi. Menjadi Seon Ho yang ceria”. Aku berusaha menenangkan om
Brata.
“Itulah
maksudku memintamu datang menemuiku, kumohon jadilah teman Seon Ho. Teman yang
nyata. Bawalah kembali dunia Seon Ho. Kumohon”. Om Brata menatapku penuh harap.
Aku hanya tertunduk sekarang.
“Emm
aku tidak yakin, tapi… aku kucoba”.
Aku
tersenyum mencoba memberi harapan pada om Brata. Meskipun saat ini aku belum
tahu apa yang harus aku lakukan. Namun sepertinya om Brata sedang dalam keadaan
sangat sedih dan bukan saatnya mendengar penolakan.
Senin
datang, hemm aku benci kuliah di hari Senin. Terlebih lagi mobilku masih di
bengkel. Ini akan sangat menyusahkan bagiku yang sudah terbiasa menggunakan
mobil sendiri. Aku merapikan buku-buku yang akan ku bawa dan meraih
handphone-ku untuk menelepon taksi, namun handphone-ku bordering lebih dulu.
“Seon
Ho?”. Aku terkejut melihat layar handphone-ku.
“emm
ya halo Seon Ho”.
“Kau
sudah berangkat?”
“Belum,
baru akan menelepon taksi”.
“Jangan
telepon taksi, biar saja aku yang menjemputmu”.
“Apa??”
“Sudahlah
aku tutup teleponnnya ya. Aku akan tiba dalam waktu 15 menit. See ya”.
Apa
ini? Seon Ho menjemputku? Hemm sepertinya ini akan lebih mudah. Ya,
mengembalikan dunia Seon Ho akan lebih mudah sekarang.
“Kau
terlambat dua menit”. Kataku ketika menyambutnya di depan gerbang.
“Benarkah?
Ah lain kali akan kucoba tepat waktu”. Seon Ho menggaruk-garuk kepalanya sambil
tersenyum. Hari ini Seon Ho berbeda, aku tidak lagi melihat wajah datarnya.
Pertanda baik.
“Lain
kali?”
“Iya,
jika perlu setiap hari”. Seon Ho tersenyum padaku.
“A….oh
iya apakah kau mengajak Sierra?” Aku melihat ke arah mobil Seon Ho.
“Tentu,
dia sudah menunggu di dalam. Ayo cepat naik”.
“hmm”.
Aku
duduk di bangku belakang. Sedikit aneh memang, namun Seon Ho mengatakan bahwa
Sierra ingin duduk di depan. Baiklah Seon Ho, mari kita bermain drama sekarang.
“Oiya
Seon Ho”.
“Hmm”.
Gumamnya sambil masih fokus menyetir mobil.
“Berapa
usia Sierra?”.
“Ohh
Sierra sebaya dengan kita, usianya 21 tahun”.
“Wah
ternyata sebaya, aku kira lebih muda dari kita. Hemm…… apakah kau menyukai
Sierra?”
“Sierra
bilang jangan bahas itu, dia malu”. Seon Ho sedikit tertawa di akhir
kalimatnya.
“Oh,
baiklah. Maaf aku tidak bermaksud”.
“Sierra
bilang kau lucu”.
“Hee???”.
Perjalanan
ke kampus memakan waktu hampir satu jam karena macetnya jalan raya di hari
Senin tidak bisa dihindari. Seon Ho membukakan pintu untukku ketika mobilnya
telah sempurna diparkir.
“Ayo”.
“Tunggu,
Sierra tidak ikut?”
“Sejak
kejadian mahasiswa yang melihat kami berbicara di kelas, ia jadi lebih suka
menunggu di mobil”.
“Hmm
begitu rupanya”.
“Sudah
jangan khawatir, Sierra akan baik-baik saja”.
“Kau!!”.
Seorang wanita mendorongku hingga menyentuh dinding koridor kampus.
“Vita,
kau kenapa?”
“Sejak
kapan kau dekat dengan Seon Ho?”
“Tidak,
kami hanya…”
Praakk!!
Tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Kini aku memegangi pipiku yang
kesakitan.
“Jangan
terlalu dekat dengan Seon Ho”.
“Tapi
kenapa? Bukankah wanita di kampus ini membencinya?”
“Tidak
denganku!!”
Vita
pergi meninggalkanku yang masih terpaku dengan ucapannya. Aku melihatnya pergi
dengan langkah yang cepat. Syukurlah tidak ada yang menyaksikan kejadian ini.
Koridor kampus di dekat ruang laboratorium ini memang selalu sepi. Vita adalah
mahasiswi paling populer di kampus. Ia cantik dan cerdas bahkan hampir memiliki
segalanya. Kudengar ia memang orang yang mudah cepat marah, namun kemarahannya
ini sungguh membingunkan. Setahuku, Vita-lah yang telah melihat Seon Ho berbicara
dan tertawa sendirian di kelas dan kemudian ia menyebarkan hal itu ke seluruh
kampus. Namun, apa yang ia katakana tadi? Jangan terlalu dekat dengan Seon Ho?
Ia tidak membenci Seon Ho? Bukankah ia yang menyebabkan seisi kampus membenci
Seon Ho? Aneh.
Alangkah
senangnya mobilku sudah selesai diperbaiki, namun Seon Ho dengan sifat keras
kepalanya tetap saja menjemputku setiap hari. Aku tidak bisa menolak karena
sebenarnya aku sendiri memiliki misi penting untuk menjadi teman nyata baginya.
“Kita
mau kemana? Jalan ke rumahku bukan lewat sini”. Tanyaku pada Seon Ho saat
mengantarkanku pulang dari kampus.
“Tidak
jauh dari sini ada restoran steak yang enak. Sierra menyukai suasana di sana.
Aku harap kau juga menyukainya”.
“Maksudmu
kita makan malam di sana?”.
“Tidak,
kita akan main game di sana”.
“Apa?”
“Ah
kau ini lucu sekali, memangnya apa yang biasanya kau lakukan di restoran. Tentu
saja makan”. Seon Ho terlihat tertawa puas sekali. Sesekali ia melihat ke arah
ku untuk melihat ekspresiku yang cemberut.
“Sudahlah
Seon Ho, dan kau juga Sierra. Jangan menertawakanku”. Kataku dengan ekspresi
yang masih cemberut. Aku memang sudah terbiasa berbicara pada Sierra. Aku sudah
bisa merasakan kehadiran Sierra dan berusaha merasakan apa yang sedang
dilakukan Sierra. Dan anehnya itu selalu tepat. Seperti saat ini, Seon Ho
bilang Sierra memang sedang menertawaiku. Untunglah kami tiba di restoran
dengan tepat. Pantas saja Sierra menyukai restoran ini, tempat ini memang
benar-benar nyaman. Lampu-lampu yang tidak terlalu terang dan juga tidak
terlalu temaram membuat mataku nyaman. Semua dinding di sini terbuat dari kaca.
Indah sekali. Dan yang lebih membuatku nyaman adalah alunan piano dari seorang
pianis yang mengalun sangat indah. Kami duduk di meja yang berada di dekat kaca
yang tak jauh dari tempat pianis memainkan pianonya. Aku duduk berhadapan
dengan Seon Ho dan Sierra duduk di sampingku. Setelah memesan makanan, Seon Ho
beranjak dari kursinya dan berbisik di telingaku.
“Cukup
diam dan dengarkan”.
“He??”.
Seon Ho tak menghiraukan ekspresi kebingunganku. Ia langsung menuju ke pianis
dan membisikkan sesuatu ke pianis tersebut.
“Ehm,
selamat malam. Izinkan aku menghibur anda semua, terutama wanita yang hadir
bersamaku malam ini”. Seon Ho tersenyum kepadaku dan suara tepuk tangan riuh
para tamu di restoran ini mengiringi dimulainya alunan piano. Apa yang dia
lakukan? Menyanyi? Dia pikir siapa dia? Boyband? Batinku. Piano mengalun dengan
indah dan suara Seon Ho pun tak kalah indah. Seon Ho menyanyikan lagu korea.
Aku mendengarkan dengan baik berusaha mengingat lagu apa yang sedang ia
nyanyikan. Ah, aku tahu. Ini lagu Taeyon-Can You Hear Me. Mengapa dia
menyanyikan lagu wanita? Meskipun begitu, suaranya sangat bagus dan
liriknya…………….
Meskipun sakit, tapi sedikit, bentuk air mata
Jeritan hatiku keluar
Jika aku lewat di depanmu, di sampingmu
Kau adalah seluruh duniaku
Aku ingin hanya kau
Tapi aku tidak bisa bernapas ketika aku di depanmu
Seperti jika kau bukan takdirku
Seolah-olah ini hanya sesaat
Selanjutnya padamu, yang membiarkan aku pergi dengan begitu mudah
Aku mendekat kepadamu langkah demi langkah
Meskipun aku tidak bisa bergerak sama sekali
Kau membuatku gelisah, kau membuatku menangis
Seperti orang bodoh, seperti anak kecil
Aku hanya ingin menertawakannya bukan
Semakin dekat aku mendapatkanmu
Meskipun aku mendapatkan ketakutan yang lebih
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Mengapa hanya cintaku yang terlambat
Mengapa hanya cintaku yang sulit
Meskipun aku tepat berada di depanmu, meskipun aku tepat berada di sampingmu
Kau adalah seluruh duniaku
Aku hanya melihatmu
Tapi ketika ketika aku di depanmu, aku selalu berpaling
Seolah-olah kau adalah yang terakhir untukku
Seolah-olah itu adalah saat-saat terakhirku
Selanjutnya padamu, yang hanya membiarkan aku pergi dengan begitu mudah
Aku pergi lebih dekat padamu lagi langkah demi langkah
Meskipun aku tidak bisa bergerak sama sekali
Kau membuat aku gelisah, kau membuat aku menangis
Seperti orang bodoh, seperti anak kecil
Aku hanya ingin menertawakannya
Semakin dekat aku mendapatkanmu
Meskipun aku mendapatkan ketakutan yang lebih
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Bahkan jika dari jarak jauh
Aku bisa melihat ke arahmu
Itulah apa yang kau sebut cinta
Jika mungkin ini sebuah kerinduan, kerinduan ini
Ketika terdengar, ketika itu tersentuh
Silahkan saja bertindak seperti kau tidak tahu
Meskipun aku dekat untuk mendapatkanmu, semakin aku merasakan ketakutan
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Jeritan hatiku keluar
Jika aku lewat di depanmu, di sampingmu
Kau adalah seluruh duniaku
Aku ingin hanya kau
Tapi aku tidak bisa bernapas ketika aku di depanmu
Seperti jika kau bukan takdirku
Seolah-olah ini hanya sesaat
Selanjutnya padamu, yang membiarkan aku pergi dengan begitu mudah
Aku mendekat kepadamu langkah demi langkah
Meskipun aku tidak bisa bergerak sama sekali
Kau membuatku gelisah, kau membuatku menangis
Seperti orang bodoh, seperti anak kecil
Aku hanya ingin menertawakannya bukan
Semakin dekat aku mendapatkanmu
Meskipun aku mendapatkan ketakutan yang lebih
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Mengapa hanya cintaku yang terlambat
Mengapa hanya cintaku yang sulit
Meskipun aku tepat berada di depanmu, meskipun aku tepat berada di sampingmu
Kau adalah seluruh duniaku
Aku hanya melihatmu
Tapi ketika ketika aku di depanmu, aku selalu berpaling
Seolah-olah kau adalah yang terakhir untukku
Seolah-olah itu adalah saat-saat terakhirku
Selanjutnya padamu, yang hanya membiarkan aku pergi dengan begitu mudah
Aku pergi lebih dekat padamu lagi langkah demi langkah
Meskipun aku tidak bisa bergerak sama sekali
Kau membuat aku gelisah, kau membuat aku menangis
Seperti orang bodoh, seperti anak kecil
Aku hanya ingin menertawakannya
Semakin dekat aku mendapatkanmu
Meskipun aku mendapatkan ketakutan yang lebih
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Bahkan jika dari jarak jauh
Aku bisa melihat ke arahmu
Itulah apa yang kau sebut cinta
Jika mungkin ini sebuah kerinduan, kerinduan ini
Ketika terdengar, ketika itu tersentuh
Silahkan saja bertindak seperti kau tidak tahu
Meskipun aku dekat untuk mendapatkanmu, semakin aku merasakan ketakutan
Kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini
Aku
diam terpaku dan hanya menatap wajah Seon Ho hingga ia selesai bernyanyi. Tepuk
tangan dari para tamu bahkan sudah tidak bisa kudengar. Hanya suara Seon Ho
yang kuizinkan masuk ke telingaku sekarang.
“Bagaimana?
Suaraku bagus kan”. Tanya Seon Ho ketika tiba di meja kami.
“Hemmm..
indah sekali. Benarkan Sierra?”.
“Kalau
begitu lain kali akan aku nyanyikan lebih banyak lagu untukmu”.
“Lain
kali?”.
“Kalau
perlu setiap hari”.
“Kau
ini, selalu saja berkata seperti itu”. Kami tertawa bersamaan.
Di
Rabu pagi yang cerah ini aku mendapat pesan yang yang menyenangkan hatiku.
Bukan, bukan dari Seon Ho. Melainkan dari pemimpin kelas di kampus, ia bilang
hari ini tidak ada dosen jadi kuliah diliburkan untuk hari ini. Senangnyaaa. Sayangnya
Seon Ho tetap pergi ke kampus karena ada mata kuliah lain yang ia ambil dan
berbeda denganku. Bagaimanapun juga ini seperti kebetulan bagiku, kerena besok
Seon Ho ulang tahun. Jadi kurasa hari ini akan kuluangkan waktu senggang ini
untuk mencari hadiah ulang tahun untuknya. Hampir empat jam aku berkeliling di
mall untuk mencari kado, namun belum juga ada yang menarik perhatianku. Hingga
akhirnya mataku tertarik pada sebuah jaket bewarna cream dengan desain korea
sekali. Aku rasa Seon Ho akan cocok dengan jaket ini dan tentunya akan terlihat
sangat tampan. Membayangkannya saja aku sudah tersenyum sendirian. Aku juga
membeli bahan-bahan untuk membuat kue ulang tahun. Dalam hal ini aku memang
jago membuat kue ulang tahun. Sesampainya di rumah aku segera membungkus kado
dan membuat kue ulang tahun untuk Seon Ho.
Kamis
pagi datang, aku tak sabar untuk pergi ke kampus dan memberikan semua hadiah
ini untuk Seon Ho. Namun aku mendapat kabar bahwa Seon Ho tidak bisa menjempuku
karena dia akan sedikit terlambat. Baiklah, ini sebuah kebetulan lagi. Jadi
Seon Ho tidak akan tahu bahwa aku membawa kado dan kue untuknya. Sesampainya di
kampus aku segera menuju kelas dan menyembunyikan kado dan kue yang kubawa.
Namun hari ini seisi kelas menatapku dengan aneh. Ada apa? Apa aneh aku mebawa
barang sebanyak ini? Biarlah, sejak kapan mereka peduli dengan aktifitasku.
Pikirku. Aku duduk di kursi dengan cemas menunggu Seon Ho datang. Sudah 15
menit ia tak kunjung datang. Aku mulai gelisah dan berkali-kali melihat layar
handphone-ku berharap Seon Ho memberi kabar. Wallaa, akhirnya aku melihat Seon
Ho memasuki kelas. Ia langsung duduk di tempatnya, di pojok kelas seperti
biasa. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di kelas, aku segera menyalakan
lilin dan membawa kue ulang tahun itu ke dapan Seon Ho.
“Happy
birth…..”.
“Traak!!!”.
Seon Ho menepis kue ulang tahun di tanganku hingga terjatuh ke lantai. Ekspresi
dingin itu datang lagi, parahnya kini Seon Ho juga terlihat marah.
“Seon
Ho, kau… kau kenapa?” Aku terkejut dan panik dengan tindakan Seon Ho barusan.
Sekarang seisi kelas memperhatikan kami dengan tatapan yang aneh, beberapa
orang ada yang tersenyum sinis.
“Ada
apa ini? Apa yang terjadi? Kau kenapa Seon Ho?”. Aku berusaha tetap bertahan
menatap matanya dengan tajam. Namun Seon Ho tidak berkata apa-apa selain
membanting sebuah tabloid kampus di atas meja kemudian pergi meninggalkanku.
“Ini…
apa ini?”. Aku tercekat melihat isi tabloid itu dan tak kuasa menahan tangis.
Mengapa bisa jadi begini? Batinku. Tanpa pikir panjang aku segera mengejar Seon
Ho. Tidak, dia mau pergi kemana? Meninggalkan kuliah?.
Kuikuti
mobilnya dari belakang dengan hati-hati. Namun sepertinya Seon Ho menyadari
bahwa sedang diikuti. Seon Ho mempercepat laju kendaraannya, aku pun tidak mau
tertinggal dengan mempercepat kendaraanku juga. Hingga kami tiba di sebuah
jalan satu arah yang tidak terlalu ramai. Dengan keyakinan yang aku punya, ku
coba mendahului mobil Seon Ho dan berhenti di depan mobilnya menghadang jalan
Seon Ho. Yap, akhirnya! Mobil Seon Ho berhenti. Ia keluar dari mobilnya,
kulihat juga ia membukakan pintu depan. Sepertinya Sierra juga ikut keluar.
Dengan perasaan yang campur aduk, takut, bingung dan gelisaha aku menghampiri
Seon Ho.
“Kumohon
percayalah, ini bukan ulahku”.
“Masih
mengelak juga? Di dunia ini yang tahu nama Sierra hanya kau dan ayahku.
Maksudmu kau menuduh ayahku?”. Seon Ho berbicara dengan nada yang tinggi.
“Tidak,
bukan begitu. Tapi ini memang benar bukan ulahku”. Di tabloid kampus itu
tertulis bahwa Seon Ho memiliki kelainan psikologis yang menganggap seseorang
yang tidak ada itu menjadi ada dan sesuatu yang gaib itu dijadikannya sebagai
teman, dan nama teman khayalannya itu adalah Sierra. Di sana disebutkan juga bahwa
aku berpura-pura mengerti kehadiran Sierra karena dibayar oleh om Brata, ayah
Seon Ho.
“Pembohong!!
Pergi kau dari kehidupanku dan Sierra”.
“Tunggu,
kumohon percayalah padaku. Aku memang mendapat amanat dari ayahmu untuk menjadi
temanmu. Tapi soal bayaran itu, itu tidak benar. Dan aku tidak pernah
menceritakan tentang Sierra kepada orang lain”.
“Aku
muak mendengarnya, sebaiknya hentikan ocehanmu karena itu semua sia-sia”. Nada
bicara Seon Ho semakin meninggi saja. Ia tidak mempedulikanku yang susdah
beruraian air mata.
“Baik,
jika kau tidak percaya padaku. Tapi dengarkan satu hal, aku berusaha mengerti
duniamu dan mencoba merasakan kehadiran Sierra bukan untuk ikut gila bersamamu.
Aku hanya ingin kau mempunyai teman yang nyata, bukan teman khayalan seperti
Sierra. Aku ingin membantu ayahmu yang begitu merindukan Seon Ho yang dulu,
Seon Ho yang ceria. Bukan Seon Ho yang setiap hari hanya bicara pada Sierra,
teman khayalanmu itu”.
“Berhenti
menyebut Sierra teman khayalan!!”. Seon Ho berteriak dan mendekatkan wajahnya
kepadaku dengan ekspresi yang sangat marah.
“Kenapa?
Kau marah? Tidak suka? Spertinya lebih baik aku begini, jadi baik pun percuma
karena kau tidak mempercayaiku. Jika kau menuduhku sebagai orang jahat yang
telah menyebarluaskan omong kosong itu, bukankah lebih baik sekalian saja aku
melakukannya?”. Sakit, sakit sekali mengatakan itu semua kepada Seon Ho. Aku
saja merasa teriris, apalagi Seon Ho? Entahlah, yang jelas ia terlihat sangat
marah sekarang.
“Diamlah,
kau tidak tahu apa-apa tentang Sierra. Kau pikir siapa yang mampu membuatku
tetap hidup saat aku ingin mati melihat ibuku terbaring tak bernyawa? Kau pikir
siapa yang mampu membuatku bertahan hingga hari ini? Itu karena Sierra.!!”.
“Sierra,
Sierra dan Sierra, terus saja kau sebut nama itu. Lanjutkan saja hidupmu
bersama teman khayalanmu itu”. Aku merasa ini adalah akhir dari semua
kelelahanku. Aku berbalik badan dan segera pergi menuju mobil. Namun seseorang
memegang tanganku. Dingin. Aku berhenti melangkah dan menoleh ke belakang”.
“Kumohon
jangan pergi”. Seorang wanita berbicara padakau sambil menangis.
“Kau…Si…Sierra?”.
Aku gugup tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Seorang wanita berambut
panjang sepinggul dan mengenakan gaun selutut bewarna hijau tosca. Matanya
bewarna coklat dan kulitnya sangat putih. Bagi kalian yang tidak berkesempatan
melihat Sierra, kira-kira ia seperti Yoona SNSD, cantik sekali.
“Kumohon
jangan tinggalkan Seon Ho”.
“Seon
Ho tidak mempercayaiku lagi, tidak ada gunanya aku di sini. Lebih baik aku
pergi. Kau lebih baik untuk menjaganya daripada aku”. Perlahan aku melepaskan
pegangan tangan Sierra yang dingin itu.
“Tapi
Zahra…”.
“Sudahlah,
senang bisa melihatmu Sierra. Selamat tinggal”.
Aku
segera melajukan mobilku dengan cepat. Pikiranku berkecamuk tak karuan. Bahkan
aku tidak bisa berpikir bagaimana Sierra bisa benar-benar nyata. Aku enggan
berpikir tentang itu. Terlalu sakit ketika berpikir mengenai Seon Ho dan
Sierra. Kulihat kado di jok depan mobilku dan tangisku pun pecah lagi.
Dua
hari kemudian….
“Maaf
om Brata, aku tidak berhasil membawa dunia Seon Ho kembali”. Kataku ketika
menemuinya di kafe tempat kami pernah bertemu.
“Tidak
apa-apa. Setidaknya kau sempat membuat hari-hari Seon Ho bewarna dan membawa
kembali senyumnya”.
“Tapi
sejak kejadian dua hari yang lalu, Seon Ho kehilangan senyumnya lagi”.
“Sudah,
tidak apa-apa. Oiya besok Seon Ho kembali ke Seoul. Kau tidak ingin
mengantarnya ke Bandara?”.
“Tidak
om, aku rasa Seon Ho juga tidak ingin melihatku lagi. Aku hanya ingin
menitipkan ini. Awalanya ini untuk kado ulang tahun Seon Ho, namun sepertinya
sekarang menjadi kado perpisahan. Katakan padanya aku minta maaf”. Aku
menyerahkan kado berisi jaket yang kubeli waktu itu pada om Brata. Tak terasa
air mataku jatuh membasahi pipiku saat aku mengucap kata maaf.
Dua
minggu kemudian….
Aku
baru saja pulang kuliah kemudian membaringkan tubuhku di tempat tidur. Tak lama
kemudian ibuku masuk ke kamar.
“Zahra,
ada surat untukmu”.
“Ya
letakkan saja di meja belajarku, aku mengantuk sekali. Terima kasih, Bu”.
Kataku sambil menarik selimut menutupi wajahku. Ibuku pergi keluar, sebelum
menutup pintu iya berkata,
“Sepertinya
surat itu dari luar negeri, dari Korea Selatan”.
Apa?
Korea Selatan? Mungkinkah Seon Ho? Dengan segera aku membuka surat itu. Rasa
kantukku hilang seketika dan bersemangat membaca suratnya yang ternyata bukan
dari Seon Ho. Melainkan dari om Brata. Di dalam surat itu terdapat tiket
pesawat untuk penerbangan 23 desember 2013. Apa? Ini kan bsesok? Batinku.
“Halo Zahra, apa kabar? Bisakah kau
datang ke Seoul secepatnya. Sudah kukirimkan tiket pesawat untuk penerbangan
besok pagi pukul 09.00 WIB. Kuharap kau bisa datang. Akan ada orang yang
menjemputmu di Bandara Incheon. Terimakasih”. –Om Brata
Keesokan
harinya aku segera bergegas ke Bandara Soekarno Hatta sejak pukul 7 pagi. Aku
tidak sabar untuk bisa pergi ke Seoul dan bertemu dengan Seon Ho. Jujur saja,
aku merindukannya. Sangat merindukannya. Walaupun aku merasa bingung mengapa om
Brata yang mengirim surat untukku? Apakah akan ada kejutan? Om Brata bilang aka
nada orang yang menjemputku di Bandara Incheon, apakha orang itu Seon Ho?
Pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Incheon. Kulihat beberapa orang
tengah menanti kehadiran orang-orang yang mereka tunggu. Di tengah kerumunan
orang kuliahat seorang pria memegang kertas putih bertuliskan
‘Azzahra-Indonesia’. Ah itu pasti jemputan untukku, tapi…mengapa bukan Seon Ho?
“Good
morning. Are you Azzahra from Indonesia? I’m Kim Dong Jun, Mr. Brata’s
secretary. Follow me, please”.
“A..ah,
thank you”.
Tuan
Kim Dong Jun membawaku ke sebuah rumah di darah Seoul. Rumah ini pasti rumah
milik Om Brata. Hemm lebih mewah daripada rumahnya yang di Indonesia. Kami tiba
di sebuah ruang tamu yang sangat luas. Om Brata sudah menunggu di sana.
“Mr.
Brata is waiting for you”. Tuan Kim Dong Jun mempersilahkanku mendekati Om
Brata dan pergi meninggalkan kami berdua.
“Penerbanganmu
menyenangkan?” Om Brata memulai pembicaraan ketika melihatku datang.
“Iya
om, terimakasih”.
“Duduklah”.
Om Brata mempersilahkan duduk kemudian ia juga duduk di sampingku.
“Om,
mengapa om memintaku datang ke Seoul?”.
“Karena
ada yang harus kau ketahui”.
“Apa
itu?”.
“Sebenarnya
sudah sejak lama Seon Ho mengidap kanker otak. Dan sejak kembali ke Seoul dua
minggu yang lalu, kesehatan Seon Ho semakin melemah. Dokter bilang kanker yang
diderita Seon Ho sudah menyebar hingga ke pembuluh darah. Sehingga memperparah
kondisi Seon Ho”.
“Benarkah
itu? Mengapa Seon Ho tidak pernah bilang padaku? Dirawat dimana ia sekarang?
Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit”. Aku segera berdiri dari kursi
sedangkan Om Brata masih duduk terdiam di sana.
“Tidak
perlu ke rumah sakit”.
“Maksud
om ia dirawat di rumah?”.
“Tidak,
Seon Ho sudah meninggal kemarin”. Deg!! Tas yang ada di tanganku terjatuh di
lantai.
“Apa
om? Meninggal?”. Aku tak kuasa menahan tangisku. Ini pasti mimpi kan? Aku pasti
sedang bermimpi. Om Brata berusaha menenangkanku meskipun sebenarnya ia pun
terlihat sangat terpukul. Namun aku tetap saja menangis. Om Brata memelukku
agar aku tenang, aku tetap saja menangis.
“Maaf
om baru memberitahumu sekarang. Ini permintaan dari Seon Ho. Ia tidak ingin kau
melihatnya terbaring lemah di rumah sakit. Ia tak ingin membuatmu khawatir”.
“Seon
Ho bodoh”. Tanpa sadar aku mengucapkan hal itu. Aku semakin sedih jika aku
mengingat pertemuan terakhir kami adalah sebuah pertengkaran yang sangat hebat.
Mengapa aku tidak diizinkan meminta maaf padanya? Mengapa?
“Ini
titipan dari Seon Ho”. Om Brata meberikanku secarik surat yang dibunkus dengan
amplop merah muda. Dengan cepat aku segera membukanya. Apa ini? Hanya empat
kalimat? Batinku
“Zahra, aku sudah tahu kebenarannya
bahwa yang menulis di tabloid itu adalah Vita. Aku titipkan Sierra padamu,
kumohon jadilah teman untuk Sierra. Zahra, maafkan aku. Aku menyanyangimu”.
Di
dalam amplop itu juga ada sebuah foto Seon Ho sedang duduk di kursi roda
mengenakan jaket yang kuberikan untuknya. Ia tersenyum, tampan sekali. Tangisku
kembali pecah melihat itu semua. Kupeluk erat foto Seon Ho dan secarik surat
darinya.
“Sebenarnya
banyak yang ingin ia tuliskan untukmu, tapi di saat-saat terakhirnya ia terlalu
sakit untuk terus menulis. Aku bahagia ia sempat menulis “aku menyayangimu”
dalam suratnya itu”.
“Sierra…kau??”.
Sierra duduk di sampingku. Aku pun langsung memeluk tubuhnya yang dingin itu.
“Seon
Ho beruntung pernah memiliki teman sepertimu. Sekarang aku yang akan menjadi
temanmu. Seperti janjiku pada Seon Ho, aku akan menjagamu”. Kata Sierra bicara
di dalam pelukan.
Aku
tidak berlama-lama di Seoul. Keesokan harinya aku segera kembali ke Indonesia dengan
penerbangan paling pagi karena aku harus segera kuliah. Dan aku pulang bersama
Sierra. Rupanya berita kematian tentang Seon Ho sudah sampai ke Indonesia. Di
depan kampus ada beberapa karangan bunga dari beberapa dosen yang turut
berbelasungkawa atas meninggalnya Seon Ho. Aku berdiri di depan salah satu
karangan bunga sambil tertunduk. Dan kurasakan seorang wanita datang
menghampiriku. Tidak, bukan Sierra. Melainkan Vita.
“Zahra,
maafkan aku”. Aku hanya menatapnya tanpa berbicara apa-apa.
“Waktu
itu aku mengikuti kalian hingga ke restoran steak. Di hari itu aku jadi
mengetahui bahwa teman khayalan Seon Ho itu Sierra. Maafkan aku”. Aku masih
tidak menjawab dan Vita pun sepertinya tidak punya kata-kata lagi untuk
diucapkan. Aku mendekati wajahnya, menatap matanya tajam.
“Pabo!!”.
Kataku sambil berlalu meninggalkan Vita sendirian yang tercekat mendengar
ucapanku.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
