Halaman

Rabu, 02 Juli 2014

Sambal Mangga Sore Hari

Sumber foto : http://tirakakakurukurukantapiasaurusya.wordpress.com/page/2/

Dia pikir siapa dia? Datang dan pergi seenaknya ke restoran ini tanpa membeli apapun seolah restoran ini milik nenek moyangnya. Heran, mengapa di era globalisasi seperti ini masih saja ada orang yang berpikiran picik seperti itu. Datang ke restoran dengan koneksi internet yang cepat demi wifi gratis. Huh kesal sekali aku dibuatnya. Aku tahu restoranku tidak terlalu ramai, dengan atau tanpa adanya dia pun tidak akan merugikanku. Tapi, apa dia tidak pernah tahu etika? Gemas jika membahasnya. Sudah tiga hari berturut-turut orang itu datang dan duduk dengan asik menatap layar laptopnya di restoranku tanpa membeli apapun. Hari ini aku tidak akan membiarkannya. Awas saja kau!

***

Jam makan siang berlalu. Jam dinding di restoranku menunjukkan jam 5 sore. Restoran kembali sepi. Restoranku biasanya memang hanya ramai saat jam makan siang dan makan malam. Maklum aku mendirikan restoran ini di wilayah perkantoran yang orang-orangnya kebanyakan hanya punya waktu makan saat siang dan malam. Namun, seperti yang telah aku bicarakan sebelumnya, akhir-akhir ini ada seseorang yang mulai mengusik ketenanganku di jam-jam sepi seperti ini. Yang ditunggu-tunggu datang.
"Selamat sore". Sapaku dengan ramah ketika membukakan pintu untuknya. Jika berdiri sejajae seperti ini tingginya tak jauh beda denganku, usianya juga sepertinya hampir sama. Pria muda dengan setelan kemeja ala pemuda. Hemm mungkin sekitar 23 tahun. 
"Pagi". Jawabnya singkat sambil sedikit senyum. Sedikit sekali.
Aku segera mengantarkannya ke meja di pojok ruangan dekat dengan piano.
"Silahkan duduk, mau pesan apa?". Tanyaku kemudian ketika ia duduk dan mengambil laptop dari tasnya. 
"Nanti saja". Pria itu menjawab tanpa melihat wajahku yang sudah semakin kesal dengan sikapnya.
"Oh baiklah". Jawabanku masih berusaha ramah. Belum jauh aku berjalan dari mejanya, pria itu memanggilku.
"Emm mbak, tunggu!". Ah dia pasti ingin memesan sesuatu. Kataku dalam hati dengan ekspresi gembira. Aku balik arah dan kembali menghampirinya.
"Sudah memutuskan untuk memesan?". Tanyaku dengan percaya diri dan senyum sumringah
"Emm tidak. Ini wifi-nya kok ga bisa yah?". Lagi-lagi ia bicara tanpa melihat wajah ceriaku yang seketika berubah muram kembali. Ia hanya fokus pada layar laptopnya sambil sesekali menekan tombol enter. Entah apa yang ia lakukan.
"Ooooo wifi, wifi ya Mas? Hemm wifi". Kataku dengan nada yang entah bagaimana aku menjelaskan nada bicara ini.
"Iya, kenapa yah? Kok ga bisa?". Kali ini ia menatapku. Dengan cepat aku memperbaiki posisi berdiri dan ekspresi wajahku yang penuh dengan senyuman licik.
"Emm itu mas, dari pagi tadi wifi di restoran ini emang lagi rusak alatnya. Lagi berusaha diperbaiki kok". Aku berusaha menjelaskan dengan wajah ramah. Wifi rusak? ahaha itu hanya akal-akalanku saja. Biar tahu rasa dia! Aku sudah merencanakan hal ini sejak kemarin. Tanpa sadar senyuman licik muncul lagi dari bibirku. Namun suara pria itu tiba-tiba memaksaku untuk senyum natural kembali.
"Hemm gitu yah". Ia menutup layar laptopnya.
"Iya gitu. Mendingan mas ke restoran lain aja deh yang wifi-nya lebih kenceng dan bebas dateng kapan aja tanpa harus pesen makanan. Eh.. maksud saya...". Tanpa sadar kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Tapi aku tidak melanjutkannya. Aku menutup mulut dengan map menu yang ku bawa.
"Eng itu mas maksud saya di restoran lain pelayanan wifi-nya pasti lebih bagus". Aku tertawa meringis, sedangkan pria itu hanya menatapku dengan ekspresi datar. Untuk beberapa saat ia mempertahankan ekspresinya sambil terus menatapku. Aku semakin merasa takut. Map menu yang awalanya hanya menutupi mulutku, kini naik ke atas hingga sekarang hanya mataku yang terlihat.
"Ke....kenapa kau menatapku seperti itu?". Kuberanikan bertanya walau dengan nada yang gagap.
"Tidak ada apa-apa". Singkat dan datar. Haft orang itu manusia bukan sih? Kataku dalam hati.
"Oiya!". Katanya kemudian mengagetkanku yang baru saja hendak menghela napas.
"Ya, ada apa?"
"Aku mau pesan steak ayam saus sambal mangga". Ia bicara sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. Ya Tuhan, akhirnya dia memesan sesuatu. Kataku sumringah dalam hati.
"Oke, minumnya apa?". Aku mencatat pesanannya di buku kecil yang kubawa.
"Orange juice aja". 
"Oke baik, silahkan ditunggu". Tanpa banyak aiueo lagi, aku segera berjalan menuju dapur. Samar-samar terdengar ia mengucapkan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.
"Terima kasih".
"Untuk?". Tanyaku dengan heran sambil balik badan ke arahnya
"Ya untuk pelayanannya lah, itu wajar kan etika kepada pelayan?". Kini ia yang heran
"Hoooo iya kau benar! benar sekali". Aku tersenyum miris padanya dan langsung kembali balik badan berjalan menuju dapur. Ah aku bodoh sekali. Dia benar juga, memang wajar untuk mengucapkan terima kasih kepada pelayan. Memangnya aku berharap ia mengucapkan terima kasih untuk apa? Aaaahh Ara bodoh!


***

Sejak hari itu, ia selalu datang setiap jam 5 sore dan memesan makanan yang selalu sama, yaitu steak ayam saus sambal mangga dan Orange juice. Sempat aku merasa bersalah karena telah ceplas ceplos bicara padanya soal memesan makanan, tapi dengan cepat aku menepisnya. Bukannya ini yang aku inginkan? Aku tidak ingin pelangganku hanya memanfaatkan wifi restoranku saja. Dua minggu berlalu, ia masih setia datang ke restoranku setiap sore, sendirian. Hingga pada suatu malam ketika aku hendak menutup restoran, ia datang menghampiriku.

"Selamat malam, udah mau tutup yah?". Suaranya mengejutkanku.
"Eng.. iya mas. Baru aja saya kunci pintunya". Aku menunjukkan kunci bergantungkan gantungan bintang kecil di tangan kananku.
"Hemm baiklah. Kamu mau pulang?". Pria itu menghampiriku lebih dekat. Aku mundur selangkah.
"Iya".
"Naik mobil?"
"Iya. mobilku terpakir di garasi restoran". Aku menunjuk ke samping kiri tempat ia berdiri yang bersebelahan dengan garasi.
"Oke baik, hati-hati". Pria itu tersenyum manis sekali. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum lebar seperti itu.
"Terima kasih". Kataku kemudian langsung berjalan menuju garasi.
"Emm tunggu". Pria itu bicara lagi dan memaksaku untuk berhenti. Aku menoleh ke arahnya.
"Ya?".
"Kenalkan, namaku Hans". Ia mengulurkan tangannya mengajak bersamalaman.
"Oh, iya Hans. Saya Ara". Aku menjabat tangannya. 
"Sebenarnya..........". Hans tertunduk sebentar.
"Ya? Ada apa?" Tanyaku heran.
"Kau tahu mengapa aku selalu datang ke restoranmu?".
"Hooo itu? Ya pasti karena makanan di restoranku enak lah". Jawabku sambil tertawa.
"Kau yakin? Bahkan aku tidak suka makanan pedas. Restoranmu kan serba pedas makanannya. Kau tahu mengapa aku selalu memesan makanan yang sama? Karena menurutku sambal mangga di restoranmu yang paling tidak pedas diantara sambal yang lain".
"Hmm begitu. Jadi kalau bukan karena itu, karena apa?".
Hans terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya angkat bicara.
"Di awal kedatanganku ke restoranmu, aku sengaja tidak pernah memesan. Aku tahu kau pemilik restoran itu. Aku pikir lama-kelamaan kau akan jengkel dengan tingkahku. Dan ternyata aku benar. Kau mulai jengkel dan langsung turun tangan melayaniku secara pribadi beberapa hari kemudian". Hans terdiam lagi untuk beberapa saat. Aku masih tertegun dengan ceritanya tak bisa berkata apa-apa.
"Aku melakukan hal itu bukan tanpa alasan, aku hanya ingin mengobrol denganmu". Kini kata-kata Hans benar-benar membuatku makin tertegun. Tapi aku masih belum bisa bekata apa-apa, sementara Hans melanjutkan ceritanya.
"Entah mengapa sejak hari itu, setiap kali aku datang, pasti kau yang akan menghampiri mejaku. Ini benar-benar sesuai harapan. Aku.....".
"Cukup". Kataku menghentikan cerita Hans
"Hentikan, jangan dilanjutkan lagi. Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?". Aku menatap matanya dengan tajam. Wajah datarnya itu kini terlihat seperti orang yang menaruh harapan. Entah harapan apa dan kepada siapa.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di restoran ini". Hans menatapku dengan sungguh-sungguh. Sementara aku hanya bisa tertunduk. Kami terdiam untuk beberapa saat. Semilir angin malam terasa dingin menerpa wajahku sekarang.
"Maaf, saya sudah menikah". Ucapku kemudian sambil menunjukkan cincin perak yang melingkari jari manis tangan kananku. Tanpa berani melihat wajah Hans, aku segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan standar. Dari kaca spion mobil dapat kulihat Hans masih setia berdiri di depan restoran dengan wajah penuh kekecewaan. Melihat hal itu membuatku menambah kecepatan laju mobilku.

THE END 

"Terkadang cinta memang datang terlambat. Tunggu, atau aku yang datang terlambat? Atau Ara yang terlalu cepat memutuskan? Entahlah. Sambal mangga itu terasa sangat pedas sekarang". -Hans

Selasa, 01 Juli 2014

Pesawat Pertama



Pagi-pagi sekali aku bergegas menuju bandara dengan mobil sedan putihku. Aku fokus di balik kemudi sambil sesekali melirik jam di tangan kiriku. Kurasa ini hal yang salah, karena setiap kali aku melirik jam tangan, aku akan semakin menambah kecepatan mobilku.
“Dua puluh menit lagi, apa bisa?”. Gumamku sendirian ketika terjebak macet di lampu merah. Tetiba teringat pesan dari Iwan semalam. Aku segera meraih handphone yang kuletakkan di jok samping.

“Assalamu’alaikum, Aku pamit ya. Besok akan pulang ke Kalimantan. Aku naik pesawat penerbangan pertama besok pagi, pukul  7.30 WIB. Doakan semoga selamat sampai tujuan. Aamiin. Wassalamu’alaikum”

Berkali-kali aku baca pesan dari Iwan tersebut hingga akhirnya suara klakson mobil di belakangku menyadarkan lamunanku. Hmm sudah hijau rupanya. Aku kembali melaju dengan kecepatan kencang, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

***

Hal pertama yang kulakukan ketika menginjakkan kaki di bandara adalah melihat jam tangan.
“7. 25. Haft hanya tersisa 5 menit. Masih mungkinkah?”. Gumamku sendirian sambil berjalan cepat menuju gate in. Suasana bandara begitu ramai pagi ini. Terang saja begitu, 2 hari lagi masuk bulan Ramadhan. Pasti banyak orang yang ingin pergi ke kampung halaman, termasuk Iwan. Iwan adalah teman dekatku di kampus. Ya kami dekat. Namun, satu minggu yang lalu sesuatu terjadi di antara kami. Hal tersebut membuat kami tidak berkomunikasi hingga hari ini. Terakhir, pesan yang kemarin kubaca adalah pesan pamit darinya. Ini menyedihkan.
Aku msaih berlari dan terus berlari hingga akhirnya langkahku terhenti. Aku mengatur napasku yang terengah-engah sambil melihat ke sekeliling. Ramai. Ramai sekali. Banyak wajah-wajah asing di sini. Tak ada satupun wajah yang kukenal, lebih tepatnya yang kucari, Iwan.
7.35!
Aku semakin putus asa. Pesawatnya pasti sudah tinggal landas. Kurasakan lemas di sekujur tubuhku. Jika tidak sedang di tempat ramai, mungkin saat ini aku akan segera duduk tergeletak di lantai. Satu hal yang paling kusesali adalah mengapa semalam aku tidak langsung membalas pesannya? Bahkan untuk sekadar mengucapkan “Hati-hati di jalan” pun aku tak mampu.
Langkah kaki ini terasa semakin berat. Aku melangkah perlahan sambil berharap ada sesuatu yang membawaku pulang dengan cepat dari tempat memilukan ini. Dengan langkah gontai, tanpa sengaja tas kecil yang kubawa terjatuh ke lantai. Aku berusaha meraihnya dengan sisa tenaga yang kupunya. Namun seseorang telah mendahuluiku untuk mengambilnya.
“Kau?? Sedang apa kau di sini?”. Tanyaku heran ketika melihat pria berjaket coklat dengan sorotan mata yang kukenal berdiri di depanku sekarang.
“Aku? Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini? Mau pergi ke mana?”. Pria itu malah balik bertanya padaku dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya denganku.
“Jawab dulu pertanyaanku, Wan. Bukankah pesawatmu sudah tinggal landas sejak 10 menit yang lalu?”.
“Pesawatku?? Hooo iya memang sudah tinggal landas, tapi pesawatku bukan yang itu. Jadwalnya nanti jam 9.30 WIB”. Iwan menjelaskan sambil tertawa kecil.
“Tapi semalam kau bilang….. Pesawatmu itu jam… tapi semalam….”. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku dengan benar. Air mata mulai menggenang di mataku.
“Hmm maaf aku membohongimu tentang itu. Sebenarnya….. ini”. Katanya tidak meneruskan apa yang ingin ia ucapkan. Ia memberikan sebuah tiket penerbangan padaku.
“Tiket? Tiket siapa?”. Tanyaku heran sambil menerima tiket tersebut dari tangannya.
“Untukmu. Kita berdua akan ke Kalimantan hari ini”. Iwan tersenyum manis padaku.
“Apa-apaan ini? Kau ini lupa atau apa? Bukankah kita…….”. Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Iwan sudah berbicara kembali.
“Rilla, meskipun semalam kau tidak membalas pesanku, aku yakin pagi ini kau pasti akan ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Wah ternyata benar kan kau ke sini. Dan ide kebohongan itu sebenarnya adalah ide Ayah dan Ibumu. Mereka ingin memberikan kejutan padamu”. Kini senyum Iwan semakin melebar.
“Ayah dan Ibu? Kejutan? Jadi kita?”. Air mata yang sejak tadi menggenang sudah tak bisa tertahan lagi, kini aku berurai air mata sambil tersenyum bahagia.
“Hmm iya. Sesuai janjiku, aku akan kenalkan kau kepada orang tuaku di Kalimantan. Masalah keberangkatan sudah kuurus. Ayah dan Ibumu akan datang nanti ke sini membawakan pakaian untukmu. Jadi kau tidak usah khawatir. Cukup ikut saja denganku”.
“Wan, kau yakin dengan semua ini?”. Tanyaku sambil menunduk.
“Insya Allah yakin. Hingga hari ini, sejauh inilah usahaku untuk kita. Aku akan sisakan usahaku untuk menghadapi orang tuaku nanti. Kau juga terus berusaha ya, semangat Rilla”.

“Terima kasih, Wan. Insya Allah”. 


Kisah ini hanya imajinasi seorang redrose belaka yang terinspirasi dari kisah 'hampir' nyata seorang sahabat. Menulis itu kadang merangkai masa depan, bukan? Menulis itu harapan. -Redrose

Senin, 30 Juni 2014

1000 Bintang untuk 2014


"Sampai kapan kau akan berada di sini? Sudah malam dan udara semakin dingin, cepat masuk". Suara seorang pria tetiba memaksaku yang sedang menatap langit untuk menengok ke arahnya.
"Sebentar lagi". Jawabku singkat, kemudian kembali menatap langit.
"Memangnya apa yang kau lakukan? Menghitung bintang?".
"Iya". Jawabku singkat lagi. Kali ini tanpa menoleh ke arahnya.
"Yang benar saja". Pria itu tertawa kecil. Aku tidak menggubrisnya. Aku tetap fokus pada langit. Kemudian pria itu melanjutkan ucapannya.
"Sudah terhitung semua?".
"Belum". Kini jawabanku dengan nada yang kecewa. Aku menunduk sejenak dan kembali menatap langit.
"Ah kau ini aneh-aneh saja sih. Mau kuberitahu sesuatu?". Pria yang semula berdiri jauh dariku kini mulai mendekatiku.
"Apa?". Aku menatap matanya penuh harap.
"Lihat itu!". Ia menunjuk ke satu bintang yang paling bersinar di langit.
"Itu?" Aku ikut menunjuk.
"Iya aku lihat, lalu mengapa?". Tanyaku kemudian.
"Yang paling bersinar itu bukan bintang, tapi planet. Planet Venus". Ia menjelaskan sambil terus menunjuk ke arah Venus tersebut.
"Benarkah?. Pantas saja yang itu berbeda".
"Payah, begitu saja kau tidak tahu". Pria itu tertawa kecil lagi. Manis.
"Sudahlah, kau tidur saja sana. Tak usah menertawaiku". Aku mulai kesal.
"Baik, baik, aku tidak akan mengganggumu. Hanya ingin memberitahu, mungkin kau bisa jadikan Venus itu sebagai patokan untuk menghitung bintang. Selamat mencoba!". Pria itu berjalan menajuhiku menuju sebuah pondok kecil tempat ia menginap.
"Siapa dia?". Kataku dalam hati, Aku sudah berlibur di tempat ini selama 1 minggu, namun aku baru melihatnya malam ini. Pondok tempat ia menginap pun bersebelahan denganku, namun aku benar-benar baru melihatnya malam ini. Dan apa itu tadi? aku berbicara dengan orang asing? Sulit dipercaya. Aku tidak pernah suka hal tersebut sebelumnya. Aku lebih suka menutup diri. Sekarang pun aku liburan sendirian.

***

"Selamat pagi nona bintang". Suara pria itu membuyarkan keheninganku yang sejak pukul 5 tadi aku pertahankan di teras pondok. Ah orang itu mengapa selalu mengganggu kegiatanku?.
"Apa? Nona bintang?". Tanyaku heran.
"Kenapa? Ada yang salah?". Pria itu menghampiriku. Ia menggunakan setelan kaos dan celana training dengan handuk putih kecil mengalung di lehernya. Nampaknya ia akan berlari pagi.
"Namaku bintang. Panggil saja bintang, tidak perlu pakai nona". Jawabku dengan nada yang agak ketus.
"Waah keren sekali. Nona bintang penyuka bintang ternyata namanya bintang". Kini ia tertawa kecil lagi. Ah manis. Harus berapa kali aku mengakuinya?
"Euuhh sudahlah kau terlalu berlebihan, siapa namamu?".
"Namaku Venus". Jawabnya sambil mengulurkan tangannya.
"Venus? Kau serius?" Aku tidak langsung menyambut uluran tangannya yang mengajak bersalaman.
"Iya, kenapa? Ada yang aneh?". Pria itu mengangkat alisnya.
"Tidak". Jawabku singkat sambil membalas uluran tangannya dan kini kami berjabat tangan sejenak.
"Mau ikut lari pagi?". Pria itu menawarkan.
"Tidak, terima kasih".
"Hmm baiklah, aku duluan ya". Pria itu berlari kecil menjauhiku menuju bukit perkebunan teh di depan pondok penginapan kami.

***

Udara malam ini lebih dingin dari kemarin. Aku sudah memakai jaket dua lapis, namun tetap saja rasanya dingin ini terlalu menusuk. Mungkin karena tadi sore hujan, entahlah. Namun langit hari ini begitu cerah. Bintang di langit lebih banyak dari yang kemarin. Aku tidak ingin melewatkan momen ini. Akhirnya aku pakasakan menahan rasa dingin untuk berbaring di teras pondok. Dari sini aku bisa melihat hamparan bintang di langit dengan jelas.
"Masih berusaha menghitung bintang?". Untuk ketiga kalinya suara pria itu membuyarkan keheninganku. Namun memang sejak tadi itulah yang kutunggu. Sejak pagi tadi aku belum melihatnya kembali ke pondok. Aku tidak mengerti, namun aku memang menunggunya sejak tadi. 
"Masih". Ah aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Pada akhirnya jawabanku selalu terdengar ketus.
"Mau kubantu?". Tanyanya sambil ikut berbaring sekitar satu meter dariku. Aku menoleh ke arahnya yang kini mulai fokus menatap langit sambil menunjuk bintang.
"Bagaimana caranya?". Tanyaku kemudian.
"Sudah kubilang, jadikan aku sebagai patokan". Ia terkekeh kecil sambil menoleh ke arahku. Haft manis. 
"Maksudmu Venus?". Ucapanku menghentikan tawa kecilnya itu.
"Iyap". Ia tidak menoleh ke arahku sekarang. Ia kembali fokus ke langit.
"Aku sudah mencobanya semalam. Tapi tetap tidak bisa". Kataku dengan nada menggerutu.
"Payah. Pelan-pelan saja, lama-lama kau akan bisa". 
"Ah kau ini, mana bisa aku menghitung bintang sebanyak itu di langit? Bahkan langit pun sangat luas!". Kataku dengan nada kesal sambil terbangun dari baringanku kemudian duduk mmenunduk.
"Nah itu kau tahu! Mengapa masih kau lakukan?". Ia ikut terduduk dan mulai menatapku.
"Karena.... Ah sudahlah kau pulang sana!". Tanpa terasa aku meneteskan air mata ketika ingin menjawab. Terlebih ia menatapku seolah berkata "Kau kenapa?". Tak ingin berlama-lama akhirnya aku masuk ke pondok dan meninggalkan dirinya yang kebingungan sendirian di teras pondokku. 

***

Seperti biasa pagi ini aku melakukan meditasi ringan mencari keheningan di teras pondok penginapanku. Matahari masih bewarna oranye tersembul cantik dari balik bukit perkebunan teh. Hmm masih jam 6 pagi. Kataku dalam hati. Aku berjalan menuju teras pondok dan duduk di bale kayu yang ada di sana. Kudapati sesuatu yang aneh tergeletak di sana. Secarik kertas dan sebuah bintang yang terbuat dari kertas bewarna merah hitam. Dengan segera aku meraihnya dan membaca yang tertulis di sana.
"Aku tidak tahu mengapa kau begitu menyukai bintang dan sangat ingin menghitungnya meskipun kau tau itu tidak mungkin. Namun semalam aku berhasil menghitungnya. Dan kau tau ada berapa? 1000. Yeah! Kau boleh percaya atau tidak, yang jelas aku menjadikan diriku sebagai patokannya. Maksudku Venus. Hehe.
Oiya yang aku berikan ini bukan bintang, tapi Venus. Jika kau masih tidak percaya dengan hasil hitunganku, jadikan ia sebagai patokan. Selamat mencoba!". 

Kurasakan tetesan air mata mulai jatuh dari mataku. Perlahan, perlahan, kemudian semakin banyak yang terjatuh. Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari menuju pondok penginapannya. Kuketuk pintu pondok. Sekali, dua kali, tidak ada jawaban. Ketiga kalinya terdengar seseorang membuka kunci pintu dari dalam. Ah akhirnya. Kataku dalam hati.
"Selamat pagi teh, ada apa?". Seorang pria setengah baya menyambutku di depan pintu.
"Eng..... ini Pak, yang semalem nginep di sini mana ya? Namanya Venus. Lagi keluar ya?".
"Siapa atuh yang teteh maksud? Dari seminggu yang lalu teh pondok ini mah ga ada yang ngisi". Jawab pria setengah baya itu dengan lembut.
"Iyakah? Bapak yakin?". Tanyaku dengan nada tak percaya
"Yakin atuh teh, lah bapak kan yang jaga pondok ini". 
"Tapi pak kemarin ada.... hmmm itu ada yang.....". Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku segera pamit pada pria setengah baya tersebut dan berjalan dengan langkah yang lemas menuju podok penginapanku. Siapa dia? Pertanyaan itu berulang kali kutanyakan pada diriku sendiri. Pikiranku sudah terlampau jauh hingga berpikir pria manis itu adalah hantu. Ah yang benar saja ada hantu sebaik itu? Pikiranku berkecamuk hingga malam datang. 

Aku berbaring di teras pondok sambil memegang secarik kertas dan bintang kertas dari Venus. Kulihat langit seperti biasa masih penuh dengan bintang. Aku terfokus pada satu bintang paling terang, Venus!
Kusejajrkan bintang kertas tersebut dengan Venus di langit. "Baiklah, aku kan coba menjadikanmu sebagai patokan, Venus". Kataku dalam hati. Aku menghitung ke arah kana, kemudian ke kiri, begitu seterusnya tana melepaskan pandanganku dari langit. Tak menghiraukan dingin yang semakin menusuk, tak menghiraukan hewan sekecil apapun yang berlalu di dekatku. Fokusku hanya satu, menghitung bintang. DAPAT! Kataku spontan dengan nada yang cukup kencang.
"Kau benar Venus, jumlahnya ada 1000". Teriakku di malam yang sepi itu. Aku tertawa terharu sambil meneteskan air mata. Kurasakan semilir angin dingin menerpa wajahku. 
"Aku benar kan?". Suara itu tetiba terdengar dekat di telingaku. 
"Venus?". Kataku sambil memberanikan diri menoleh ke arah datangnya suara. Kuliat kini Venus berbaring di sebelahku dengan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. 
"Iya kau benar" kataku sambil tersenyum manis padanya.
Kemudian aku kembali menatap langit penuh bintang. Aku tahu jauh dari ujung langit sana, bintang-bintang itu melihatku sedang berbaring sendirian di sini. Ya, aku yakin itu. 


THE END

Kamis, 26 Juni 2014

Tiga Hari dibulan Juni

Perjalanan ini dimulai dengan sebuah ide sederhana, namun menghasilkan pengalaman yang tidak sederhana. Berawal dari kepedulian terhadap sesama, kemudian melahirkan kenangan berharga.
Tidak ada maksud lain selain "membantu"
Tidak ada tujuan lain selain "berbagi"
Meskipun terselip tujuan "liburan" di sana, namun kami harap liburan ini menjadi liburan yang bermanfaat. Baik itu untuk kami, maupun untuk anak-anak di Nangerang, Lebak, Banten. 

Untuk dapat sampai di tahap ini bukanlah perjalanan yang singkat. Banyak perencanaan-perencanaan yang telah dibuat dan cukup membuat pusing kepala. Namun kami tidak menyerah, bahkan ketika kami tahu PKM-M kami tidak lolos didanai, kami memutar otak agar menemukan jalan lain. Ya jalan lain. Jika kami tidak didanai, bukan berarti kami tidak bisa mendanai kan? 
Akhirnya kami memutuskan untuk bergerak dengan kemampuan yang kami miliki sendiri. Alasannya hanya satu, "Dengan atau tanpa PKM, kita bisa merealisasikan niat kita".
Ya, satu kalimat yang membuat saya pribadi menjadi kembali semangat. 

Empat bulan berlalu setelah pengumuman PKM tersebut, kami merasa sudah memiliki cukup dana untuk pergi ke Nangerang. Pertanyaan baru muncul. 
"Apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Apa yang akan kita berikan pada mereka?"
"Apakah dananya cukup?"
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya sudah terjawab sejak jauh-jauh hari, namun entah mengapa ketika mendekati hari-H, semuanya menjadi terlihat lebih "menakutkan". Hingga akhirnya H-7 kami merasa kebingungan dengan persiapan yang belum rampung 100%, terutama persoalan buku BSE yang akan kami sumbangkan. Hal itu adalah yang paling penting dalam kegiatan kami, namun sampai hari itu belum juga kami temukan jalan keluarnya. Kendalanya satu, yaitu dana. Saya pribadi sempat pesimis dan menawarkan pilihan kepada teman-teman, "Apakah ingin kita tunda niat kita hingga tahun depan sampai dana kita cukup?". Hmm tidak ada jawaban ya atau tidak dari mereka. Saya hanya melihat mereka terdiam dan malah berusaha meyakinkan bahwa kita bisa jalankan niat itu tahun ini. Ya kita bisa! Saya melihat mereka mengatakan hal itu dalam diam dan senyumnya. Baiklah tidak pantas saya pesimis bila didampingi orang-orang optimis seperti mereka. Sampai akhirnya keoptimisan itu berbuah manis, ada sumbangan dana lebih. Alhamdulillah. Akhirnya kami memutuskan untuk mempersiapkan keperluan lain yang bisa kami siapkan terlebih dahulu. Persoalan buku BSE bagaimana?? Ternyata masih bermasalah meskipun dana dirasa cukup. Dalam waktu yang tersisa hanya 4 hari, kami tidak mungkin bisa cetak buku sebanyak itu. Kemudian seseorang dari kami menawarkan untuk membeli buku BSE saja secara online. Kami tidak banyak komentar, melainkan langsung mencari situs yang menyediakan buku BSE. Dapat!! Dua link coba kami hubungi, namun sayangnya masih ada kendala lain. Link pertama lokasi terlalu jauh, link kedua distributor tidak sedang berada di Depok. Haft, ya Allah saya panik, okeh kami panik. Semua persiapan lain sudah selesai, kecuali buku tersebut. H-3, saya harus apa?? Dengan sisa-sisa keoptimisan yang ada, saya membuka laptop dan mulai mencari-cari situs yang menyediakan buku BSE. Wah banyak di situs penjualan online (saya tidak bisa sebutkan namanya ya hehe). Ah tapi lokasinya terlalu jauh, yaitu di Papua dan Kalimantan. Terlalu tidak mungkin bisa sampai di Depok dalam satu hari. Semua link yang tersedia saya klik, hingga akhirnya saya menemukan link yang cukup menarik. Hal pertama yang saya lihat adalah LOKASI. Yeah Jakarta Timur! Dekat! Dengan cepat saya kirim pesan ke CP yang tercantum. Alhamdulillah direspon dengan cepat. Dengan obrolan-obrolan singkat akhirnya kami DEAL. Alhamdulillah. "Masalah buku selesai teman-teman, bukunya akan tiba di rumah besok (H-1)" Itu yang saya katakan dalam hati sambil mengetik pesan ucapan terima kasih pada distributor buku. 

HARI PERTAMA - 20 Juni 2014

Persiapan selesai, tinggal berangkat. Hari yang kami tunggu-tunggu pun datang. Kami berangkat dari Depok pukul 7 pagi dengan perjuangan yang cukup heroik juga di dalam kereta CL pagi itu. Saya akui perjalanan menuju Nangerang saat itu tidak terlalu lancar. Banyak kendala yang kami temui, namun kami bisa menyelesaikan kendala-kendala tersebut dengan baik. Hingga akhirnya kami tiba di Nangerang. Alhamdulillah bisa menginjakan kaki untuk ketiga kalinya di tempat ini. Tempat yang selama ini menjadi objek yang selalu dirindukan.


Setibanya di sana, kami disambut oleh Kang Wawan yaitu penanggung jawab dari MI Mathlaul Anwar di Nangerang. Kang Wawan memberikan kami tempat penginapan di daerah Gejrog, yaitu di dekat rumahnya. Sebuah tempat yang sangat menyenangkan suasananya. Dikelilingi hamparan sawah luas dan udara yang sangat sejuk. Ah, saya merindukan suasana subuh di sana. Sangat rindu. 



Setibanya di tempat penginapan, kami berbincang-bincang dengan Kang Wawan menjelaskan maksud dari kedatangan kami. Kang Wawan mengapresiasi niat kami. Beliau kemudian menceritakan kondisi MI Mathlaul Anwar yang akan segera dibangun secara permanen berkat bantuan PNPM. Alhamdulillah. Sebagai informasi, MI Mathlaul Anwar adalah satu-satunya MI yang ada di wilayah Nangerang. Kondisi bangunannya kurang layak untuk kegiatan belajar mengajar, yakni hanya terdiri dari dua kelas dan berdindingkan bilik. Maka dari itu, ketika kami mendengar kabar bahwa MI tersebut akan dibangun secara permanen, kami sangat bahagia. 


Kang Wawan juga menjelaskan bahwa kedatangan kami bertepatan dengan akan diselenggarakannya acara kenaikan kelas dan pengumuman kelulusan bagi kelas 6. Dalam acara tersebut semua siswa akan berpidato, setiap kelas akan tampil di atas panggung, yaitu menari dan paduan suara. Kang Wawan secara khusus meminta bantuan kami untuk membantu membimbing siswa-siswa yang akan tampil tersebut. Melatih nyanyi? Melatih tari? Bisalah ya, kami punya ahlinya di sini. hehe. Kami pun mengiyakan dan tidak sabar untuk segera bertemu siswa-siswi esok hari.

HARI KEDUA - 21 Juni 2014

Karena tidak ingin mengganggu kegiatan di MI terlalu banyak, akhirnya ada beberapa susunan acara dari kami yang diubah. Awalnya kami ingin mengajak siswa-siswi untuk bersih-bersih MI, menata ruang kelas, membuat herbarium sederhana, dan juga bermain origami. Namun demi kepentingan bersama, kami utamakan kegiatan menjadi kegiatan pelatihan pentas untuk hari Minggu dan bermain origami. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan kami. Kami sangat sangat sangat bahagia meskipun konsep acara berubah. Karena saat bersama siswa-siswi, rasanya sangat bahagia. Apalagi ketika melihat mereka tersenyum dengan mainan origami mereka. Kami kenalkan mereka pada si Emon, sang kodok kertas yang bisa bicara. Kami juga kenalkan mereka pada bintang, senjata ninja yang terbuat dari kertas. Kami kenalkan mereka pada burung-burung kertas yang cantik dan juga kelinci kertas yang imut. Mereka sangat bahagia dengan semua itu. Sambil bermain, beberapa dari mereka ada yang latihan tari dan paduan suara bersama kami. Mereka antusias untuk latihan, dan terlihat mereka lebih bersemangat sekarang. Kang Wawan mengatakan suara mereka masih berantakan. Iya, memang benar. Tapi entah mengapa bagi saya pribadi, mereka semua hebat. Terlepas dari suaranya yang berantakan itu, wajah-wajah semangat mereka membuat saya menyukai penampilan mereka. Seusai latihan, beberapa anak mengajak kami bermain binteng. Sebuah permainan yang biasa dikenal dengan permeinan Bentengan. Mereka semangat sekali berlari ke sana kemari dengan cepat tanpa kenal lelah. Ada juga yang bermain ular naga panjangnya.
Sungguh pemandangan yang menyenangkan.






HARI KETIGA - 22 Juni 2014

Hari perayaan kenaikan kelas pun datang. Kami bahagia sekaligus sedih. Karena hari ini juga kami harus pulang. Namun sebelum pulang kami harus menghadiri acara kenaikan kelas tersebut, kami tidak ingin melewati momen membanggakan itu bersama siswa-siswi MI Mathlaul Anwar. Pagi-pagi kami bersiap dengan barang bawaan kami yang akan kami sumbangkan dan dengan barang-barang kami yang akan kami bawa pulang. Sebelum berangkat ke MI, kami pamit pada ibunya Kang Wawan, mengucapkan terimakasih atas penginapan dan makanan lezat yang selalu hadir tepat waktu saat jam sarapan, makan siang dan makan malam. Hidangan sederhana yang membuat kami berenam kumpul bersama di satu tempat, bersenda gurau, dan menumpahkan keluh kesah jika ada. Ingin tahu suasananya? Saya pribadi tidak mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto, tapi diabadikan di sini (hati dan pikiran) Eaaaaaaaa.

Seusai pamit, kami berangkat menuju MI. Betapa terkejutnya kami ketika tiba di sana, ternyata kami disambut secara formal oleh Kang Wawan. Kami disediakan meja khusus bersanding dengan petinggi-petinggi Desa, MI dan juga guru-guru. Sungguh kesempatan yang sangat berharga dan tidak diduga-duga. 



Acara pun dimulai dengan beberapa sambutan dan penampilan siswa-siswi yang paduan suara. Siswa-siswi tampil dengan baik di atas panggung sana. Di tengah acara Kang Wawan sudah menyisipkan acara khusus untuk kami, yaitu simbolisasi pemberian buku dan alat peraga sekolah dari kami. Kami juga memberikan apresiasi kepada Asep sebagai siswa kelas 6 terbaik di MI.



Satu lagi kejutan yang tidak diduga, kami mendapatkan kenang-kenangan dari Kepala Sekolah MI Mathlaul Anwar, yaitu sebuah kain khas Suku Baduy. Masing-masing dari kami mendapatan satu. Alhamdulillah, terima kasih. Ini merupakan kejutan yang sangat membahagiakan.


Dan inilah potret-potret lain yang terjadi di sana dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin jika boleh satu kata, indah :D










Terima kasih kepada Aji Wicaksono, An Nisa Nurul Suci, Dwi Fauziyah Putri, Rachmat Hidayanto, dan Septy Maulidyawati  yang telah menamani perjalanan tiga hari di bulan Juni ini. Meskipun perjalanan panjang dan melelahkan, saya yakin kalian merasa sangat terbayar dengan kebahagiaan yang kita dapatkan di Nangerang. Tertawa bersama anak-anak, bermain, berbagi keceriaan bersama mereka. Memang tidak semua momen direkam dalam gambar, namun insyaAllah terekam rapi di sini (hati dan pikiran). Aamiin :)


Pada akhirnya cerita ini tidak bertujuan apapun selain berbagi cerita yang semoga dapat menginspirasi orang lain. Membantu membuka mata bahwa jauh di pelosok Indonesia sana masih ada pejuang-pejuang cilik Bangsa yang masih semangat untuk sekolah. Nangerang hanya satu daerah kecil dari banyaknya daerah pelosok lainnya. Nangerang ini hanya contoh yang diharapkan dapat menginspirasi kita semua untuk membantu daerah-daerah lainnya. 
Mereka memang jauh, namun mereka juga butuh perhatian.
Jika bukan kita para mahasiswa sebagai aset Bangsa, siapa lagi?
Jika bukan sekarang, kapan lagi?
Tidak perlu materi besar untuk mulai membantu.
Kami pun hanya bermain dan berbagi kebahagiaan di sana serta menyumbangkan sesuatu yang tidak dalam jumlah banyak, namun hal itu sangat berarti bagi mereka, anak-anak desa yang penuh semangat. 

Kalimat pertama yang saya dengar dari seorang anak ketika menginjakkan kaki di Nangerang : "Kakak Mahasiswa". *Sambil tersenyum*
Terharu. Hanya itu yang bisa saya ungkapkan.

Selamat kepada 5 orang siswa-siswi yang telah lulus dari MI Mathlaul Anwar tahun ini. Semoga kalian bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Buktikan pada dunia bahwa kalian punya semangat belajar yang tinggi. Buktikan pada dunia bahwa kalian juga bisa menjadi orang yang sukses. 
Karena jarak bukanlah penghalang, yang terpenting adalah niat. Ada niat, pasti ada jalan. Semangaaaaatt :D 




Jumat, 21 Februari 2014

Cinta #Jilid1

Terinspirasi dari sebuah obrolan santai nan hangat bersama teman-teman dan kakak mentor hari ini mengenai cinta. 
Apa itu cinta? 
Seorang teman yang berkacamata mengatakan bahwa "cinta itu dekat, ada di mana-mana". Iya cinta memang dekat. Lalu apa itu cinta? Teman lain yang berjilbab biru menjawab, "cinta itu mendekatkan kita pada Allah", kemudian aku menambahkan berdasarkan kata seorang teman bahwa "jika cinta itu menjauhkan kita dari Allah, itu tidak bisa disebut cinta, melainkan nafsu". 
Tiga jawaban yang membuatku mengangguk-angguk tanda setuju. Tapi cukupkah cinta didefinisikan seperti itu? Rasanya tidak. Cinta, cinta, dan cinta. Apa itu cinta? Di kepala seorang mahasiswa yang hampir setiap hari bercanda mengenai cinta, rasanya butuh literatur lebih untuk mengetahui arti sebenarnya dari cinta. Di tengah perdebatan yang diiringi senyuman-senyuman "mencurigakan"  dari kami itu, seseorang membantu meluruskan. Yap kakak mentor. Yeay. Berdasarkan buku yang beliau baca, (re: Serial Cinta) cinta adalah memberi. Hemm hanya satu kata, yaitu MEMBERI. Aku masih bingung dengan kata memberi yang didefinisikan sebagai cinta tersebut. Tapi dibandingkan dengan definisi yang sebelumnya, satu kata tersebut sudah bisa mewakili jawaban atas pertanyaan apa itu cinta. Sampai akhirnya dikatakan "Cinta adalah kata tanpa benda". Aku berpikir sejenak, "ah benar juga, aku tidak pernah melihat wujud cinta". Mungkin jika aku ibaratkan cinta itu seperti angin, bisa dibayangkan bahwa kita bisa merasakan hembusan angin tapi tidak bisa melihat wujud angin. Kita bisa merasakan kehadiran angin dengan melihat pohon-pohon yang "bergerak" karena hembusannya. Begitukah cinta? Bisakah aku merasakan kehadiran cinta dengan melihat sesuatu yang "bergerak" karena hembusannya? Apa yang harus kulihat untuk bisa mengetahui keberadaan cinta? Entahlah, mari kembali ke definisi cinta adalah memberi. Cinta adalah memberi, dan mencintai adalah sebuah keputusan. Artinya, para pecinta sejati tidak suka berjani, tapi mereka akan menyusun rencana untuk memberi. Karena orang yang memutuskan untuk mencintai artinya siap untuk memberi. Ah hembusan angin di siang yang sejuk diiringi kalimat-kalimat itu membuat kami (lagi-lagi) tersenyum penuh arti sekaligus masih penuh tanya. Jadi, cinta itu apa?
Kebingungan itu berkurang ketika dikatakan bahwa cinta itu ada tiga jenis. Apa saja?
Yang pertama adalah CINTA MISI, artinya cinta yang bertujuan untuk tujuan yang lebih besar, dalam hal ini membantu orang lain. Cinta ini hanya ingin memberi tanpa harap kembali. Dicontohkan jika ada seorang teman yang mengalami kesulitan dalam belajar, kita memiliki keinginan untuk membantunya agar ia bisa menjadi lebih baik. Yeay aku mengerti yang ini. Cinta yang kedua adalah CINTA MUSLAHAT. Jika dipersingkat, cinta jenis ini adalah cinta yang ada untuk kepentingan bersama, memberikan keuntungan untuk banyak orang. Dicontohkan seorang pegawai bank yang memberikan cintanya kepada customer dengan cara tersenyum ramah dan memberikan pelayanan sepenuh hati agar image perusahaannya baik dan customer merasa nyaman. (Jadi kalo disenyumin sama satpam BSM di MIPA jangan pada ke-ge-eran yaaa haha). Hmm cinta yang ini juga aku mulai mengerti. Terakhir, jenis cinta yang ketiga adalah CINTA JIWA. Cinta ini yang definisinya agak sulit. Dikatakan bahwa cinta ini membutuhkan "sinyal-sinyal" antar dua orang, dua jiwa. Artinya memiliki chemistry. Hemm sepertinya untuk cinta yang satu ini tidak perlu dicontohkan. Senyuman kami yang (lagi-lagi) penuh arti rasanya sudah menunjukkan bahwa kami paham. Jadi, cinta itu ada tiga jenis. Wah aku baru tahu. Dan selanjutnya aku akan belajar "memilah-milah" cinta. Eaaaa haha.
Sudah, sudah... Sepertinya sejak tadi yang kita bahas adalah cinta kepada manusia. Bagaimana jika kita beralih ke Cinta terhadap Allah sang pemilik cinta? Kadang kita terlalu sibuk memikirkan cinta kita terhadap orang lain, jiwa lain yang membuat kita jatuh cinta. Tapi kita lupa untuk mencintai Zat yang memiliki cinta tersebut, yaitu Allah. Sebuah teguran yang halus namun mengena di hati. Ah kemana saja aku selama ini? Coba saja seberapa sering kita bercerita pada sahabat bahwa "aku cinta dia", tapi pernahkah kita bercerita bahwa "aku cinta Allah"? Aku tahu, terkadang cinta itu tidak perlu diucapkan. Tapi yakinkah kita telah melakukan perbuatan yang menandakan kecintaan kita kepada Allah? Aku kembali merenung di malam yang tanpa bintang ini. Semudah itu melupakan cinta kepada Allah, padahal cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Bahkan semua hal yang kita cintai itu bukankah harus berdasarkan cinta karena Allah?
Sungguh pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak ditanyakan, semakin aku menemukan jawaban yang membuatku menyimpulkan bahwa aku masih sangat tidak baik dalam hal ini. Sedih, takut, merasa berdosa. PASTI. Terimakasih masih memberiku kesempatan untuk menyadari kesalahan itu. Insya Allah tidak hanya disadari, tapi juga diperbaiki. Aamiin :)


Sebelum perbincangan siang itu berakhir, diceritakan juga mengenai The Power of Love. Sebuah cerita yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta.Maaf sebelumnya jika cerita yang kutulis tidak terlalu sama dengan cerita aslinya (maklum hubungannya dengan daya ingat). Intinya begini, dikisahkan ada seorang  Putra Mahkota yang malas dan tidak ingin menjadi seorang raja. Bahkan dia tidak memiliki jiwa seorang raja. Sampai akhirnya sang ayah (Raja) khawatir dengan putranya itu. Kemudian sang raja memiliki ide untuk  mengundang beberapa perempuan ke istana dengan harapan ada salah satu perempuan yang dicintai oleh anaknya. Berhasil, ternyata Putra Mahkota mencintai salah satu dari mereka. Tapi ada skenario cantik dibalik semua ini. Sang Raja mengatakan pada perempuan yang terpilih tersebut bahwa jika Putra Mahkota menyatakan cinta kepadanya, katakan padanya seperti ini (kurang lebih begini yang aku ingat) "Aku tidak pantas untukmu. Aku hanya pantas untuk seorang raja".
Kalimat tersebut ternyata berdampak sangat besar pada Putra Mahkota. Ia menjadi sosok yang rajin. Ia bertekad keras untuk menjadi seorang raja. Bahkan kini ia memiliki jiwa-jiwa seorang raja. Hingga akhirnya ia menjadi seorang raja. Bisa dilihat betapa ajaibnya sesuatu bernama cinta itu. Cinta bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dari cerita tersebut, cinta bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik.

Kisah ini mengingatkanku kepada ucapanku beberapa waktu yang lalu. Aku pernah mengatakan pada sesorang bahwa "Aku tidak akan mengubahmu, aku hanya akan membantumu menemukan alasan agar kau mau berubah menjadi lebih baik". Dibalik kalimat itu sebenarnya tersirat sebuah keinginan yang hari ini akan kuubah menjadi tersurat.
"Aku tidak punya hak atas dirimu. Yang harus mengubah dirimu adalah kau sendiri yang memiliki jiwa dan raga itu. Aku hanya akan membantumu menemukan alasan untuk berubah. Kau ingin tahu apa alasan itu? Alasan itu adalah cinta. Kuharap suatu hari nanti ada cinta yang bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik. Hingga hari ini aku bertekad untuk membantumu menemukan alasan itu dan berharap kau bisa merasakan kehadiran cinta yang akan membuatmu berubah".

Cinta, cinta, cinta.
Cinta itu fitrah
Cinta bisa mengubah segalanya
Cinta tidak pernah salah
Tapi hati-hati terhadap cinta yang membutakan
Dan mulailah lebih mencintai Allah Sang pemilik cinta yang sesungguhnya



Tulisan kali ini berdasarkan cerita yang dikutip dari buku berjudul"Serial Cinta" karangan Bapak Anis Mata


  Sampai bertemu di Cinta #Jilid2 pekan depan. Insya Allah :)