Rabu, 29 Maret 2017
Kamis, 01 Desember 2016
Jika Hanya Jika
Bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar lelah. Entah, aku hanya berandai-andai. Nyatanya aku masih di sini sekarang. Menahan segala rasa yang tidak tahu sejak kapan yang ia undang hanyalah air mata setiap harinya. Ya, rasa. Selama aku masih bisa merasakannya, kuanggap tidak apa-apa. Sakit pun akan tetap aku nikmati. Bukankah seseorang pernah mengatakan padaku, baik atau buruk ya nikmati saja. Jadi aku menikmatinya. Tapi hari ini aku mulai takut. Bagaimana jika suatu hari nanti aku mati rasa. Hemm rasanya seperti luka sayatan yang belum sembuh, tapi sudah tersayat kembali di tempat yang sama. Kemudian hal itu terjadi berulang-ulang setiap harinya. Dari yang awalnya aku berharap untuk sembuh, hingga akhirnya aku hanya punya satu harapan, yaitu mati.
Senin, 24 Oktober 2016
Mengajar adalah Belajar
Terjun ke dunia baru bukanlah hal yang mudah bagi orang yang sulit untuk keluar dari zona nyaman seperti saya. Jangankan tentang dunia, tentang makanan pun saya sangat mudah setia pada suatu makanan dan enggan berpaling. Saya cenderung setia dan tidak mudah berpaling. Mungkin ini kabar baik untuk suami saya kelak (ciat). Bicara tentang kesetiaan, sebenarnya saya tidak sesetia itu. Saya hanya menyukai hal yang membuat saya nyaman. Jika nyaman, saya akan setia. Jika tidak, saya tinggalkan.
Perasaan seperti itu tenyata terbawa hingga saat saya memilih suatu pekerjaan. Jujur saja, masuk ke dunia ngajar mengajar bukanlah suatu kesengajaan bagi saya. Itu merupakan hal yang tidak disengaja. Berawal dari keinginan membantu seorang kakaknya teman, saya mulai belajar untuk mengajar di suatu tempat bimbel miliknya. Bukan bimbel kelas atas, tapi untuk permulaan tempat ini sangat menyenangkan. Lagipula dulu saya masih kuliah dan tujuan mengajar bagi saya bukanlah mencari uang, melainkan untuk mencari pengalaman dan mengisi waktu luang. Terlebih saya juga menyukai berinteraksi langsung dengan anak-anak. Jadi itu sangat menyenangkan. Singkat cerita, tanpa terasa sudah setahun saya mengajar di sana. Ternyata sungguh lumayan untuk menambah uang jajan. Terlebih sejak mengajar, saya jadi tidak pernah minta uang jajan lagi pada orang tua. Yha, the best feeling ever. Kemudian entah dari mana ada seseorang menghubungi saya dan meminta saya untuk mengajar di tempat bimbelnya. Kali ini tempat bimbel yang cukup terkenal sejak tahun 1982 (hayo tebak apa wkwk). Saya ingat tahunnya karena ada embel-embel tahun lahir tempat bimbel itu di password wifi-nya #uuppss. Saya sempat ragu, bukan karena kredibilitas tempat bimbel atau semacamnya, melainkan karena cara mengajar yang berbeda di sana. Di tempat bimbel saya yang pertama, metode belajar semi-privat. Satu tentor mendampingi beberapa anak untuk belajar. Namun, di tempat bimbel yang baru ini tentu saja metode belajarnya seperti di sekolah. Saya menerangkan di depan kelas dengan siswa yang duduk di depan saya. Saya menggantungkan permintaan tersebut selama satu minggu dengan konsekuensi orang tersebut akan merasa lelah menunggu jawaban saya lalu mencari tentor yang lain. Tapi ternyata memang benar kalau sudah rejeki gak akan ke mana. Orang tersebut menelpon saya lagi setelah satu minggu, lalu dengan mantap saya katakan "Iya saya bisa". Jujur saja saya tidak bisa, tapi akan saya coba. Saya terbiasa presentasi di depan teman-teman saat kuliah, bahkan di depan dosen. Jadi saya pikir, apa susahnya berbicara di depan kelas berisi siswa-siswa yang sedang haus akan ilmu pengetahuan itu?
Akhirnya saya pun mengambil kesempatan itu dengan mantap. Setelah dijalani, ternyata saya bisa. Saya mampu. Dan yang paling penting, saya mendapatkan tujuan utama saya dalam mengajar yaitu berinteraksi langsung dengan anak-anak. Menjalin ikatan secara pribadi agar tidak hanya sekadar menjadi seorang tentor bagi mereka, tapi juga menjadi teman untuk bercerita dan bercanda. Dari mereka saya bisa tahu dunia seperti apa yang sedang berkembang di masa sekarang. Dari mereka saya belajar apa yang tidak saya ketahui tentang anak-anak di masa kedewasaan saya. Setengah tahun berjalan, ada sesuatu yang membuat saya ingin pergi. Bukan dari dunia mengajar, tapi dari tempat saya mengajar. Ada sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan, tapi cukup membuat saya kepikiran hampir sebulan. Efeknya, saya jadi merasa mengajar bukanlah passion saya. Saya sampai di tahap itu. Tahap di mana saya jenuh dan melupakan segala tujuan utama saya dalam mengajar. Yang saya tahu, saya lelah dan saya ingin berhenti. Seperti yang saya katakan di awal. Saya tidak sesetia itu. Jika nyaman, saya akan setia. Jika tidak nyaman, saya tinggalkan. Perasaan itu terus bergejolak hingga akhirnya saya memutuskan mengurangi jadwal dengan alasan sibuk skripsi (sebenarnya saya memang benar-benar sibuk skripsi dan merasa keteteran). Mengapa saya tidak berhenti saja? Alasannya satu. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dengan cuma-cuma Allah berikan. Saya hanya lelah. Saya butuh waktu untuk berpikir. Saya hanya butuh mengurangi aktivitas di dunia ini agar tidak terlalu jenuh. Dan saya melakukan itu. Dalam sebulan, saya hanya mengajar 4 sesi. Jumlah yang sangat sedikit, tapi perlahan itu membuat saya merasa nyaman kembali.
Skripsi selesai, gelar sudah didapat. Saya memutuskan untuk kembali aktif mengajar. Baik itu di tempat bimbel pertama maupun kedua. Saya merasa rindu. Rindu berinteraksi dengan anak-anak setiap hari. Rindu cerita-cerita alay mereka yang bisa membuat saya tertawa geli. Pernah suatu saat saya tertimpa masalah. Tidak nafsu makan atau melakukan apapun seharian. Tapi saya tidak bisa membatalkan jadwal mengajar dengan alasan demikian. Maka saya putuskan untuk tetap mengajar. Saat itu jadwal mengajar kelas 6 SD. Jagoan-jagoan cilik favorit saya selama di tempat bimbel. Ingin tahu apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Saya mengajar, mereka memahami. Biasa. Yang tidak biasa adalah saya menemukan kebahagiaan di sana. Mereka menyadarkan saya bahwa memang ada hal yang harus ditangisi, tapi tertawa itu lebih baik. Mereka tidak tahu seterlukanya saya hari itu, tapi sikap mereka seolah mengatakan "Ayolah kak, jangan dipikirin". Tingkahnya, canda tawanya, kepolosannya. Semuanya membuat saya bahagia kembali. Ajaib, hari itu mereka menjadi obat penawar kesedihan saya. Itulah yang saya rindukan. Itulah mengapa saya sering mengatakan bahwa mengajar adalah belajar.
Pekan lalu saya mengajar kelas 6 SD. Kelas yang selalu rusuh dan ramai, tapi masih bisa dikendalikan. Mereka lebih senang belajar dengan metode kuis dibandingkan saya mengoceh di depan kelas. Namun, dengan alasan etika mengajar yang sudah diatur dalam tempat bimbel itu, saya hanya bisa mengajak mereka bermain dalam kuis saat akhir pelajaran. Untung saja mereka mau mengerti. Hal itu sudah berjalan hampir satu semester, dan ada yang berbeda untuk kuis pekan lalu.
Saya meminta anak-anak untuk mengeluarkan selembar kertas lalu menuliskan nama mereka masing-masing. Kemudian saya meminta mereka untuk menuliskan motto hidup mereka di bawah namanya. Sebagian mengerti dengan perintah saya, sebagian lagi bingung.
"Kak, motto hidup itu apa?"
Saya tersenyum. Saya katakan saja bahwa motto hidup itu suatu kalimat positif yang membuat kalian semangat menjalani kehidupan. Memang terkadang agak sulit untuk menjelaskan hal-hal baru pada anak-anak. Tapi sepertinya mereka semua mengerti. Mereka mulai menyebut-nyebut motto hidupnya. Beberapa bergurau sambil menertawakan motto hidup teman di sebelahnya. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan bagi saya. Kelas menjadi tenang saat saya membacakan soal kuis pertama.
Singkat cerita, kuis selesai dan saya pun menilai hasil kerja mereka sambil membaca apa yang mereka tuliskan pada bagian motto hidup. Saya tersenyum, tertawa, dan bahagia. Entah ini perasaan yang seperti apa. Tapi saya merasa menemukan kebahagiaan hanya dengan membaca motto hidup mereka masing-masing. Jangan anggap kalimat itu seindah puisi Chairil Anwar atau selugas kalimat Mario Teguh. Kalmat-kalimat itu hanya untaian kata yang cenderung nyeleneh tapi membuat saya bangga pada mereka. Anak sekecil mereka, sepolos mereka, ternyata memiliki hal-hal yang simpel yang cenderung aneh untuk semangat menjalani kehidupan.
Hilmi : "Tiada hari tanpa antimainstream"
Baginya hidup tidak boleh biasa saja. Karena yang biasa-biasa saja sering tidak dilihat katanya. "Itulah kenapa saya suka bawa milkshake ke kelas, karena yang lain gak ngelakuin itu kak".
Awri: "Bahagia setiap hari"
Si ceria Awri yang mau diledekin kayak gimana pun dia tetap tertawa. Pantas saja, ternyata motto hidupnya seperti itu.
Safira: "Tiada hari tanpa sahabat".
Si pendiam yang ternyata sangat menghargai kehadiran sahabat-sahabat di dekatnya.
Daffa: "Tak ada kehidupan tanpa manusia".
Saya tertawa membaca kalimat ini. Tapi siapa sangka maknanya begitu dalam. "Iyalah kak, simpel aja. Selama masih ada manusia saya mah semangat aja hidupnya".
Galin: Don't forget to stay awesome.
Si asik Galin yang nyontek motto hidupnya dari status BBM hehe. Baginya hidup itu harus luar biasa
Dirgham: "Love yourself"
Siswa favorit saya sejak dia mulai menanyakan hal-hal aneh tapi menyenangkan saat belajar. Sikap kritis yang santai dan tetap menghormati tentor. Si kepo ini gak punya motto hidup katanya. Dia bingung, akhirnya dia tulis judul lagu Justin Bieber. Tapi dalam imajinasi saya pasti dia akan bilang, "Gapapalah. Kalo bukan kita yang sayang diri kita sendiri, siapa lagi? Abang odong-odong di depan Indom*ret??"
Ok ok Dirgham ._. He always act like that and I still like him anyway.
Nasywan: "Tiada hari tanpa main".
Terdengar main-main, tapi justru ini ciri khas kepolosan anak-anak. Mereka juga butuh waktu untuk main kan?
Daffanisa: "Can't live without Bangtan Boys and my parents"
Saya senang dia menambahkan "my parents" di akhir kalimatnya. Saya hanya gak bisa membayangkan apa jadinya kalau Bangtan Boys bubar. Wkwk
Inayah: A true friend is always there"
Satu lagi si pendiam di kelas. Entah mengapa saya merasakan makna medalam dari mottonya secara personal. She needs true friends. Hope you will find them :)
Zidane: "Tiada hari tanpa belajar, main, dan tidur".
Satu lagu motto yang mencirikan khas anak-anak. Baginya hidup itu harus seimbang antara belajar, main dan tidur.
Nabil: "Belajar senin--jumat".
Anak-anak yang lain tertawa membaca ini dan saya ikut tertawa. Tapi justru ini yang membuat dia spesial. Seorang anak yang tetap menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menghiraukan apa kata orang lain. Selama ia tidak salah, bukan berarti orang lain benar kan?
Wafana: "A true friend is the greatest of all blessing"
Satu lagi motto tentang persahabatan. Baginya selama ia punya sahabat baik, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.
Begitulah kepolosan anak-anak yang tertuang dalam motto hidup mereka masing-masing. Jauh di lubuk hati yang mendalam, mereka sangatlah polos. Tingkah kedewasaan akibat gadget atau media sosial? Itu lain cerita. Bagaimanapun juga mereka seperti selembar kertas putih yang siap dituliskan apa saja. Memang sudah sepatutnya peran orang tua menjaga mereka agar tidak ditulis dengan sembarang pena.
Jadi, mengapa saya masih memutuskan untuk mengajar sampai hari ini?
Karena bagi saya mengajar adalah belajar.
Salah satunya belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Satu lagi kabar baik untuk suami saya kelak #Eaaaa
Akhir kata, pekerjaan yang paling baik bukanlah pekerjaan bergengsi dengan gaji milyaran, melainkan pekerjaan yang dikerjakan dengan hati dan penuh keikhlasan. Sudahlah, the key of happiness is kunci kebahagiaan kan??
Sekian.
Perasaan seperti itu tenyata terbawa hingga saat saya memilih suatu pekerjaan. Jujur saja, masuk ke dunia ngajar mengajar bukanlah suatu kesengajaan bagi saya. Itu merupakan hal yang tidak disengaja. Berawal dari keinginan membantu seorang kakaknya teman, saya mulai belajar untuk mengajar di suatu tempat bimbel miliknya. Bukan bimbel kelas atas, tapi untuk permulaan tempat ini sangat menyenangkan. Lagipula dulu saya masih kuliah dan tujuan mengajar bagi saya bukanlah mencari uang, melainkan untuk mencari pengalaman dan mengisi waktu luang. Terlebih saya juga menyukai berinteraksi langsung dengan anak-anak. Jadi itu sangat menyenangkan. Singkat cerita, tanpa terasa sudah setahun saya mengajar di sana. Ternyata sungguh lumayan untuk menambah uang jajan. Terlebih sejak mengajar, saya jadi tidak pernah minta uang jajan lagi pada orang tua. Yha, the best feeling ever. Kemudian entah dari mana ada seseorang menghubungi saya dan meminta saya untuk mengajar di tempat bimbelnya. Kali ini tempat bimbel yang cukup terkenal sejak tahun 1982 (hayo tebak apa wkwk). Saya ingat tahunnya karena ada embel-embel tahun lahir tempat bimbel itu di password wifi-nya #uuppss. Saya sempat ragu, bukan karena kredibilitas tempat bimbel atau semacamnya, melainkan karena cara mengajar yang berbeda di sana. Di tempat bimbel saya yang pertama, metode belajar semi-privat. Satu tentor mendampingi beberapa anak untuk belajar. Namun, di tempat bimbel yang baru ini tentu saja metode belajarnya seperti di sekolah. Saya menerangkan di depan kelas dengan siswa yang duduk di depan saya. Saya menggantungkan permintaan tersebut selama satu minggu dengan konsekuensi orang tersebut akan merasa lelah menunggu jawaban saya lalu mencari tentor yang lain. Tapi ternyata memang benar kalau sudah rejeki gak akan ke mana. Orang tersebut menelpon saya lagi setelah satu minggu, lalu dengan mantap saya katakan "Iya saya bisa". Jujur saja saya tidak bisa, tapi akan saya coba. Saya terbiasa presentasi di depan teman-teman saat kuliah, bahkan di depan dosen. Jadi saya pikir, apa susahnya berbicara di depan kelas berisi siswa-siswa yang sedang haus akan ilmu pengetahuan itu?
Akhirnya saya pun mengambil kesempatan itu dengan mantap. Setelah dijalani, ternyata saya bisa. Saya mampu. Dan yang paling penting, saya mendapatkan tujuan utama saya dalam mengajar yaitu berinteraksi langsung dengan anak-anak. Menjalin ikatan secara pribadi agar tidak hanya sekadar menjadi seorang tentor bagi mereka, tapi juga menjadi teman untuk bercerita dan bercanda. Dari mereka saya bisa tahu dunia seperti apa yang sedang berkembang di masa sekarang. Dari mereka saya belajar apa yang tidak saya ketahui tentang anak-anak di masa kedewasaan saya. Setengah tahun berjalan, ada sesuatu yang membuat saya ingin pergi. Bukan dari dunia mengajar, tapi dari tempat saya mengajar. Ada sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan, tapi cukup membuat saya kepikiran hampir sebulan. Efeknya, saya jadi merasa mengajar bukanlah passion saya. Saya sampai di tahap itu. Tahap di mana saya jenuh dan melupakan segala tujuan utama saya dalam mengajar. Yang saya tahu, saya lelah dan saya ingin berhenti. Seperti yang saya katakan di awal. Saya tidak sesetia itu. Jika nyaman, saya akan setia. Jika tidak nyaman, saya tinggalkan. Perasaan itu terus bergejolak hingga akhirnya saya memutuskan mengurangi jadwal dengan alasan sibuk skripsi (sebenarnya saya memang benar-benar sibuk skripsi dan merasa keteteran). Mengapa saya tidak berhenti saja? Alasannya satu. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dengan cuma-cuma Allah berikan. Saya hanya lelah. Saya butuh waktu untuk berpikir. Saya hanya butuh mengurangi aktivitas di dunia ini agar tidak terlalu jenuh. Dan saya melakukan itu. Dalam sebulan, saya hanya mengajar 4 sesi. Jumlah yang sangat sedikit, tapi perlahan itu membuat saya merasa nyaman kembali.
Skripsi selesai, gelar sudah didapat. Saya memutuskan untuk kembali aktif mengajar. Baik itu di tempat bimbel pertama maupun kedua. Saya merasa rindu. Rindu berinteraksi dengan anak-anak setiap hari. Rindu cerita-cerita alay mereka yang bisa membuat saya tertawa geli. Pernah suatu saat saya tertimpa masalah. Tidak nafsu makan atau melakukan apapun seharian. Tapi saya tidak bisa membatalkan jadwal mengajar dengan alasan demikian. Maka saya putuskan untuk tetap mengajar. Saat itu jadwal mengajar kelas 6 SD. Jagoan-jagoan cilik favorit saya selama di tempat bimbel. Ingin tahu apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Saya mengajar, mereka memahami. Biasa. Yang tidak biasa adalah saya menemukan kebahagiaan di sana. Mereka menyadarkan saya bahwa memang ada hal yang harus ditangisi, tapi tertawa itu lebih baik. Mereka tidak tahu seterlukanya saya hari itu, tapi sikap mereka seolah mengatakan "Ayolah kak, jangan dipikirin". Tingkahnya, canda tawanya, kepolosannya. Semuanya membuat saya bahagia kembali. Ajaib, hari itu mereka menjadi obat penawar kesedihan saya. Itulah yang saya rindukan. Itulah mengapa saya sering mengatakan bahwa mengajar adalah belajar.
Pekan lalu saya mengajar kelas 6 SD. Kelas yang selalu rusuh dan ramai, tapi masih bisa dikendalikan. Mereka lebih senang belajar dengan metode kuis dibandingkan saya mengoceh di depan kelas. Namun, dengan alasan etika mengajar yang sudah diatur dalam tempat bimbel itu, saya hanya bisa mengajak mereka bermain dalam kuis saat akhir pelajaran. Untung saja mereka mau mengerti. Hal itu sudah berjalan hampir satu semester, dan ada yang berbeda untuk kuis pekan lalu.
Saya meminta anak-anak untuk mengeluarkan selembar kertas lalu menuliskan nama mereka masing-masing. Kemudian saya meminta mereka untuk menuliskan motto hidup mereka di bawah namanya. Sebagian mengerti dengan perintah saya, sebagian lagi bingung.
"Kak, motto hidup itu apa?"
Saya tersenyum. Saya katakan saja bahwa motto hidup itu suatu kalimat positif yang membuat kalian semangat menjalani kehidupan. Memang terkadang agak sulit untuk menjelaskan hal-hal baru pada anak-anak. Tapi sepertinya mereka semua mengerti. Mereka mulai menyebut-nyebut motto hidupnya. Beberapa bergurau sambil menertawakan motto hidup teman di sebelahnya. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan bagi saya. Kelas menjadi tenang saat saya membacakan soal kuis pertama.
Singkat cerita, kuis selesai dan saya pun menilai hasil kerja mereka sambil membaca apa yang mereka tuliskan pada bagian motto hidup. Saya tersenyum, tertawa, dan bahagia. Entah ini perasaan yang seperti apa. Tapi saya merasa menemukan kebahagiaan hanya dengan membaca motto hidup mereka masing-masing. Jangan anggap kalimat itu seindah puisi Chairil Anwar atau selugas kalimat Mario Teguh. Kalmat-kalimat itu hanya untaian kata yang cenderung nyeleneh tapi membuat saya bangga pada mereka. Anak sekecil mereka, sepolos mereka, ternyata memiliki hal-hal yang simpel yang cenderung aneh untuk semangat menjalani kehidupan.
Hilmi : "Tiada hari tanpa antimainstream"
Baginya hidup tidak boleh biasa saja. Karena yang biasa-biasa saja sering tidak dilihat katanya. "Itulah kenapa saya suka bawa milkshake ke kelas, karena yang lain gak ngelakuin itu kak".
Awri: "Bahagia setiap hari"
Si ceria Awri yang mau diledekin kayak gimana pun dia tetap tertawa. Pantas saja, ternyata motto hidupnya seperti itu.
Safira: "Tiada hari tanpa sahabat".
Si pendiam yang ternyata sangat menghargai kehadiran sahabat-sahabat di dekatnya.
Daffa: "Tak ada kehidupan tanpa manusia".
Saya tertawa membaca kalimat ini. Tapi siapa sangka maknanya begitu dalam. "Iyalah kak, simpel aja. Selama masih ada manusia saya mah semangat aja hidupnya".
Galin: Don't forget to stay awesome.
Si asik Galin yang nyontek motto hidupnya dari status BBM hehe. Baginya hidup itu harus luar biasa
Dirgham: "Love yourself"
Siswa favorit saya sejak dia mulai menanyakan hal-hal aneh tapi menyenangkan saat belajar. Sikap kritis yang santai dan tetap menghormati tentor. Si kepo ini gak punya motto hidup katanya. Dia bingung, akhirnya dia tulis judul lagu Justin Bieber. Tapi dalam imajinasi saya pasti dia akan bilang, "Gapapalah. Kalo bukan kita yang sayang diri kita sendiri, siapa lagi? Abang odong-odong di depan Indom*ret??"
Ok ok Dirgham ._. He always act like that and I still like him anyway.
Nasywan: "Tiada hari tanpa main".
Terdengar main-main, tapi justru ini ciri khas kepolosan anak-anak. Mereka juga butuh waktu untuk main kan?
Daffanisa: "Can't live without Bangtan Boys and my parents"
Saya senang dia menambahkan "my parents" di akhir kalimatnya. Saya hanya gak bisa membayangkan apa jadinya kalau Bangtan Boys bubar. Wkwk
Inayah: A true friend is always there"
Satu lagi si pendiam di kelas. Entah mengapa saya merasakan makna medalam dari mottonya secara personal. She needs true friends. Hope you will find them :)
Zidane: "Tiada hari tanpa belajar, main, dan tidur".
Satu lagu motto yang mencirikan khas anak-anak. Baginya hidup itu harus seimbang antara belajar, main dan tidur.
Nabil: "Belajar senin--jumat".
Anak-anak yang lain tertawa membaca ini dan saya ikut tertawa. Tapi justru ini yang membuat dia spesial. Seorang anak yang tetap menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menghiraukan apa kata orang lain. Selama ia tidak salah, bukan berarti orang lain benar kan?
Wafana: "A true friend is the greatest of all blessing"
Satu lagi motto tentang persahabatan. Baginya selama ia punya sahabat baik, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.
Begitulah kepolosan anak-anak yang tertuang dalam motto hidup mereka masing-masing. Jauh di lubuk hati yang mendalam, mereka sangatlah polos. Tingkah kedewasaan akibat gadget atau media sosial? Itu lain cerita. Bagaimanapun juga mereka seperti selembar kertas putih yang siap dituliskan apa saja. Memang sudah sepatutnya peran orang tua menjaga mereka agar tidak ditulis dengan sembarang pena.
Jadi, mengapa saya masih memutuskan untuk mengajar sampai hari ini?
Karena bagi saya mengajar adalah belajar.
Salah satunya belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Satu lagi kabar baik untuk suami saya kelak #Eaaaa
Akhir kata, pekerjaan yang paling baik bukanlah pekerjaan bergengsi dengan gaji milyaran, melainkan pekerjaan yang dikerjakan dengan hati dan penuh keikhlasan. Sudahlah, the key of happiness is kunci kebahagiaan kan??
Sekian.
Kamis, 04 Agustus 2016
Causeless: Karena cinta bukan tentang mengapa, jadi jangan tanya mengapa
Aku menyayanginya
Entah bagaimana penjelasannya
Aku menyayanginya
Jangan tanya mengapa
Cinta itu bukan skripsi
Entah bagaimana latar belakangnya
Entah serumit apa metodenya
Entah sepanjang apa pembahasannya
Kesimpulannya akan selalu sama
Aku menyayanginya
Itu saja
Jangan tanya mengapa
...
"Mengapa harus mengapa?"
Karena ditanya 'mengapa aku menyanyanginya' akan sama rasanya seperti ditanya 'siapa namaku' ketika aku amnesia. Sekeras apapun aku berpikir, aku tetap tidak akan tahu jawabannya
-AR-
Sabtu, 18 Juni 2016
Rumit
Perempuan itu rumit
Ia percaya walau sebenarnya ia curiga
dan ketika kecurigaannya benar,
Ia tetap percaya walau sebenarnya ia sakit
Perempuan itu rumit
Minta dimengerti tapi tidak bisa dimengerti
dan ketika tidak dimengerti,
Ia tidak dapat menjelaskan
Semacam,
"you can't understand and I can't explain"
Perempuan itu rumit
Ia marah tapi ia diam
Ia kecewa tapi ia tersenyum
Ketika perempuan marah dan hanya mengirimkan emot " :) " (smile) pada percakapannya, itu artinya ia sudah sangat kecewa dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Lalu mengapa ia tetap tersenyum?
Sudah kubilang perempuan itu rumit
Perempuan itu rumit
Makhluk manja yang bisa mandiri
Tapi lelah jika terus sendiri
Ia bisa lakukan sendiri
Tapi tetap butuh didampingi
Perempuan itu rumit
Tidak apa-apa baginya "aku kecewa"
Yasudah baginya "aku marah"
Baiklah baginya "terserah anda"
Bodoamat baginya "aku stress"
Perempuan itu rumit
Ia tahu jawabannya, tapi ia tetap bertanya
Ia mengerti maksudnya, tapi ia tetap memastikan
Rumit
Perempuan itu rumit
Makhluk yang haus akan kepastian
Tapi sulit untuk menjelaskan
apa yang ingin ia pastikan
"Maaf aku terlalu perempuan"
Jumat, 27 Mei 2016
Hadiah Terbaik Adalah Waktu
Iya, waktu
Hadiah terbaik adalah waktu
Seseorang memberimu hadiah karena kamu spesial baginya
Jadi jika ia tak memberikan waktunya untukmu
Maka kamu tidak spesial baginya
As simple as that
-redrose-
^Sayap-Sayap Patah di Ujung Jembatan^
Rabu, 23 Maret 2016
Hati Kertas
[Sumber foto: http://www.wikihow.com]
Untuk hati yang mudah basah
Jangan memaksa keluar jika hujan
Jangan berkata payung itu cukup melindungimu
Karena bagaimanapun kau akan tetap basah
Katamu tidak apa, asal dia bahagia
Padahal dirimu sudah penuh noda merah
Luka berdarah yang kau goresan sendiri
Semakin dalam, semakin sakit
Tapi tetap saja
Kau bilang kau sangat menikmatinya
Heran
Mengapa kau menikmati rasa sakit?
Cinta itu memang butuh perjuangan
Tapi hanya cinta terbalas
yang pantas untuk diperjuangkan
Jangan pernah berjuang sendirian
Jangan
Selasa, 23 Februari 2016
Doa Nyeleneh Anak Labil

[Sumber foto: aruhuriyya.wordpress.com]
Dimakan ibu mati
Tidak dimakan bapak mati
Bagai makan buah simalakama
Menyerah diriku mati
Tidak menyerah mereka mati
Kurang lebih seperti itu
Lebih kurang seperti ini
Hidup segan, mati tak mau
Didekatkan segan, dijauhkan tidak mau
Di awal doa mohon didekatkan jika berjodoh
Di akhir doa mohon dijauhkan jika tidak berjodoh
Setelah selesai berdoa, mohon dijodohkan saja jika bisa
Labil
Kurang lebih seperti itu
Lebih kurang seperti ini
Malu-malu kucing
Malu-malu tapi mau
Kepada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati
Maafkan atas segala doa "nyeleneh" yang kupanjatkan selama ini
Maafkan telah membuat-Mu cemburu dengan segala angan tentangnya
Maafkan, kumohon maafkan diriku
Hal yang paling menyakitkan adalah berharap pada manusia
Karena kemungkinannya hanya dua
Dipenuhi atau dikecewakan
Ketika berharap pada-Mu
Kemungkinannya tiga
Dipenuhi, ditunda, diganti
Karena Engkau Sang Pemilik waktu
Karena Engkau yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang makhluk-Mu tidak ketahui
Boleh jadi hal tersebut baik buatku, tapi sebaliknya bagi-Mu
Boleh jadi aku menyukai sesuatu, tapi sebaliknya dengan-Mu
Percaya pada manusia lebih sering berujung kecewa
Percaya pada-Mu tidak pernah berujung, melainkan sepanjang waktu
"Aku masih saja nyeleneh dan labil, tapi dengan niat sedikit demi sedikit mengurangi. Perlahan tapi pasti"
-Redrose-
Rabu, 17 Februari 2016
Peran
Pada akhirnya kita sadar, bahwa manusia memilik perannya masing-masing di dunia ini. Akupun begitu. Walau sebenarnya aku tak pernah bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga seperti apa atau dalam kondisi fisik yang bagaimana. Sebelum terlahir ke dunia, aku tidak mengikuti casting apapun untuk memilih peran yang kuminati. Tidak sama sekali. Yang aku tahu segala hal berubah, baik itu disadari maupun tidak. Dari sosok mungil yang hanya bisa menangis ketika lapar dan haus hingga sosok dewasa yang menangis bukan hanya karena lapar dan haus.
Hidup adalah sebuah perjalanan dan mati bukanlah akhir, karena tujuan hidup bukan untuk mati, melainkan untuk hidup kembali pada kehidupan yang kekal di akhirat nanti.
Lalu, bagaimana kita mengisi perjalanan kita yang selama ini kita sebut hidup? Sudahkah cukup perbekalan untuk kehidupan berikutnya setelah kematian?
Let's do something good untuk dunia dan akhirat kita.
Jangan mengeluh dengan peran yang kita dapat dalam hidup. Sebenarnya kita adalah peran utama dalam hidup kita masing-masing, sedangkan hanya figuran dalam hidup orang lain. Ini hidupmu, kaulah sutradaranya dan Allah-lah "Produsernya". Jangan sampai kita menjadi figuran dalam hidup kita sendiri. Jangan sampai kita disutradarai oleh orang lain dalam hidup yang kita miliki. Dan yang terpenting, jangan pernah kecewakan "Produsernya".
Hidup adalah sebuah perjalanan dan mati bukanlah akhir, karena tujuan hidup bukan untuk mati, melainkan untuk hidup kembali pada kehidupan yang kekal di akhirat nanti.
Lalu, bagaimana kita mengisi perjalanan kita yang selama ini kita sebut hidup? Sudahkah cukup perbekalan untuk kehidupan berikutnya setelah kematian?
Let's do something good untuk dunia dan akhirat kita.
Jangan mengeluh dengan peran yang kita dapat dalam hidup. Sebenarnya kita adalah peran utama dalam hidup kita masing-masing, sedangkan hanya figuran dalam hidup orang lain. Ini hidupmu, kaulah sutradaranya dan Allah-lah "Produsernya". Jangan sampai kita menjadi figuran dalam hidup kita sendiri. Jangan sampai kita disutradarai oleh orang lain dalam hidup yang kita miliki. Dan yang terpenting, jangan pernah kecewakan "Produsernya".
Hidup itu pilihan?
Tidak.
Sebenarnya kita tidak pernah memilih, melainkan kita yang terpilih
Tinggal bagaimana kita membuktikan bahwa kita pantas menjadi yang terpilih
"Jika hidup mulai terasa melelahkan, ingatlah pertanyaan ini: Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
-Redrose-
-Redrose-
Selasa, 16 Februari 2016
Apa itu Kita?
Tidak, semua ini salah
Mengapa kau tidak pergi saja?
Aku tahu kau tak sekuat itu
Akupun begitu
Tak sekuat yang kau bayangkan
Jangan percaya semua ucapanku
bahwa aku baik-baik saja
Karena aku dan kamu
Takkan pernah menjadi kita
***
Aku dan kamu itu tidak mengapa
Tapi jika kita,
akan banyak hati yang terluka
Aku dan kamu itu tidak mengapa
Jika bukan kita,
aku saja yang akan terluka
mereka tidak
Semoga kamu pun tidak
Senin, 15 Februari 2016
Kepada Sang Waktu
Selamat siang waktu
Sosok gaib yang sering diandalkan
Untuk melupakan
Untuk merelakan
Untuk menyembuhkan
Hari ini, aku membencimu
Karena perlahan aku menyadari sesuatu
Akhirnya aku mengerti
Bahwa kau tak pernah berpihak padaku
Benarkan?
Kau tak pernah membuatku melupakan
Kau membuatku rela, tapi lama
Kau menyembuhkanku, tapi membekas
Bahkan kau berkonspirasi dengan semesta
Aku tahu semua yang terjadi adalah salahku
Tapi tahukah kau bahwa kau yang telah memaksaku?
Memaksa untuk tetap bertahan
Memaksa untuk tetap berjalan
Memaksa untuk menunggu jawaban
Jawaban darimu, sang waktu
sosok gaib yang pada akhirnya tak menjawab
Menunggu jawabanmu adalah kesalahan terbesar
Karena dalam penantian itu,
Rasa sayangku justru semakin besar padanya
Aku semakin tidak ingin kehilangan dirinya
Aku harus apa sekarang?
Menuggu jawabanmu lagi?
Sampai kapan?
Aku lelah tertawa dalam ketidakpastian
Aku lelah menunggu
Tanpa tahu apa yang sedang kutunggu
Ah iya, aku menunggu jawaban dirimu sang waktu
Tapi kau adalah sosok gaib
Berwujud tapi tak tentu
Lalu sebenarnya apa yang aku tunggu?
Sosok gaib yang sering diandalkan
Untuk melupakan
Untuk merelakan
Untuk menyembuhkan
Hari ini, aku membencimu
Karena perlahan aku menyadari sesuatu
Akhirnya aku mengerti
Bahwa kau tak pernah berpihak padaku
Benarkan?
Kau tak pernah membuatku melupakan
Kau membuatku rela, tapi lama
Kau menyembuhkanku, tapi membekas
Bahkan kau berkonspirasi dengan semesta
Aku tahu semua yang terjadi adalah salahku
Tapi tahukah kau bahwa kau yang telah memaksaku?
Memaksa untuk tetap bertahan
Memaksa untuk tetap berjalan
Memaksa untuk menunggu jawaban
Jawaban darimu, sang waktu
sosok gaib yang pada akhirnya tak menjawab
Menunggu jawabanmu adalah kesalahan terbesar
Karena dalam penantian itu,
Rasa sayangku justru semakin besar padanya
Aku semakin tidak ingin kehilangan dirinya
Aku harus apa sekarang?
Menuggu jawabanmu lagi?
Sampai kapan?
Aku lelah tertawa dalam ketidakpastian
Aku lelah menunggu
Tanpa tahu apa yang sedang kutunggu
Ah iya, aku menunggu jawaban dirimu sang waktu
Tapi kau adalah sosok gaib
Berwujud tapi tak tentu
Lalu sebenarnya apa yang aku tunggu?
Kamis, 11 Februari 2016
Januari
Kota Bandung masih sama
seperti biasanya, ramai lancar dengan kesejukan yang bersahaja. Pagi ini adalah
pagi pertamaku disambut mentari dari ufuk timur Kota Pasundan ini.
Bandung.
Sebuah keputusan
terbesar yang pernah kuputuskan dalam hidup selama 24 tahun. Berhijrah. Lalu
mengapa Bandung? Entahlah. Mungkin karena aku terlalu mengagumi sosok Ridwan
Kamil yang sangat eksis di Media Sosial itu, atau mungkin karena pesona Bandung
yang terkenal dengan para mojang dan jajakanya yang menawan. Entah. Yang pasti
di sinilah aku hari ini. Di sebuah rumah kontrakan sederhana berbekal uang
gajiku saat bekerja di sebuah Lembaga Penelitian di Jakarta selama dua tahun
terakhir.
“Hallo, iya Mah aku
udah di Bandung. Baru tiba semalam”. Orang pertama yang menghubungiku di
Bandung adalah ibuku. Orang yang paling melarang kepergianku namun tidak bisa
berbuat apa-apa ketika anak bungsunya ini memohon dengar air mata berurai di
pipi.
“Kirimin alamat
kontrakan kamu ya, tiap minggu Papah dan Mamah akan berkujung ke sana”. Suaranya
terdengar biasa saja, tapi aku bisa merasakan aura khawatir yang sangat besar
di hatinya.
“Iya iya, kabari aja
setiap mamah mau ke sini ya”.
“Oiya, tadi ada Adrian
ke rumah”.
“Iyakah? Trus mamah
bilang apa?”. Seketika keringat dingin mengucur disekujur tubuhku.
“Mamah bilang kamu
pindah ke Bandung lah”.
***
Januari
2016
Warna langit kota Depok
sangat tidak bersahabat hari ini. Terlalu gelap untuk ukuran jam 1 siang.
Terlalu kelam untuk hati yang tengah temaram. Bagaimana tidak temaram, di semester
mendekati akhir ini aku justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Yak, aku tidak
lulus mata kuliah wajib di kampus. Matilah. Bebanku semakin bertambah saja di
tahun terakhir nanti.
“Udahlah Han, jangan
dipikirin terus. Semester depan bisa lu perbaiki lagi kan. Ayolah nikmatin
liburan dulu”. Stella datang membawakan
es teh ke mejaku. Kantin hari ini tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa
mahasiswa yang makan dan sekumpulan anak-anak fakultas sebelah yang bermain
gitar sambil menyanyi di pojokan kantin.
“Hmm entahlah gue bisa
menikmati liburan atau enggak nanti. Gak mood banget nih”.
“Jangan gitu, lebay ah.
Semangat dong. Dunia belum kiamat kali kalau lo gak lulus satu mata kuliah”.
“Bukan itu. Ah sok tau
as always nih Stella”. Aku meneguk es teh yang ternyata rasanya sudah tidak
dingin lagi. Kulirik hingga ke dasar gelas, tak ada satupun es batu yang tersisa
di sana Semuanya sudah mencair. Seketika aku menghela napas dan bergumam
sendirian. “Haft, bahkan es teh aja bikin bête”.
“Dih lo kenapa sih
sebenernya Hana?”. Stella dengan wajah kesalnya yang khas mulai kebingungan
karena tingkahku.
“Gak ada apa-apa.
Sudah, lupakan saja”.
“Alay lo. Bodo ah.
Sekarang dengerin gue. Kania ngajak kita liburan ke Malang, lo mau ikut gak?”.
Sosok wanita di hadapanku sekarang ini adalah pecinta traveling dan lihatlah
wajahnya sekarang. Dia sumringah sekali ketika membahas tentang liburan ke
Malang. Padahal semenit yang lalu wajahnya merengut kesal. Ah, andai dia tahu
betapa menyebalkannya ekspresi wajah kesalnya itu.
“Malang? Kapan? Bertiga
aja? Naik apa?”. Tanyaku dengan nada datar.
“Uceeet nanya mele.
Iya, minggu depan, berempat, naik mobil Adrian. Tuh jawaban atas semua
pertanyaan lo”. Stella tertawa puas di akhir kalimatnya
“Wait, berempat? Naik
mobil Adrian? Jangan bilang orang keempatnya itu Adrian??”. Tanyaku penasaran.
“Betul sekalih nyonya
es teh”.
“Hmm lo yang ngajak
Adrian?”.
“Enggaklah, gue mana
berani. Kania tuh yang ngajak doi. Jadi gimana? Lo ikut kan?”. Stella menatapku
dengan tatapan penuh harap.
“Hmm gue pikir-pikir
dulu”.
“Dih kok gitu? Tumben
banget. Biasanya diajak kemanapun hayo hayo aja lo”.
“Terserah gue lah.
Lagian biasanya kan kita pergi bertiga doang. Tapi ini berempat”.
“Emang kenapa kalo
berempat? Lo ada masalah sama Adrian? Kan dia temen deket kita juga”.
“Gak, gak ada apa-apa.
Cuma heran aja kok”.
“Yaelaaah gak usah
heran kali. Lo kan tau sendiri Adrian lagi PDKT sama Kania”.
Deg……….
Pernah merasakan bumi
berhenti berputar dan seolah kakimu tak menapak dengan tanah? Itu yang aku rasakan
sekarang. Mengambang. Lalu pikiranku melayang entah kemana. Ternyata
kecurigaanku akhir-akhir ini benar.
Stella, Kania, dan aku.
Kami bertiga adalah sahabat karib sejak awal masuk kuliah. Karakter kami
berbeda-beda, bahkan sangat berbeda. Aku cenderung pendiam walau sebenarnya aku
yang paling sering menjadi bahan bully-an mereka. Aku tidak pandai
mengungkapkan pendapat karena aku terlalu takut untuk bicara. Aku selalu merasa
tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi, bersama Stella dan Kania, aku bisa melakukan
banyak hal. Stella, wanita dengan nama yang sama dengan produk pengharum
ruangan ini lebih abstrak kepribadiannya. Bicaranya sering ngelantur alias
senang membuat lelucon. Cenderung cuek dengan segala pandangan orang lain
tentangnya yang mengatakan bahwa dia alay dan sering tidak jelas. Dia terlihat
sangat menikmati kepribadian anehnya itu. Tapi justru itulah yang menjadikan
Stella sosok yang menyenangkan buatku. Walau dialah yang paling sering mem-bully
aku dengan segala lelucon anehnya itu. Terakhir tapi tetap yang terbaik, Kania.
Orang pertama yang menyapaku saat aku tengah kebingungan di tengah hamparan
mahasiswa baru di Balairung UI. Orang pertama yang membuatku berani tersenyum
lebar pada sosok yang baru kukenal. Malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan
untuk membantuku melewati masa-masa orientasi kampus yang membuat dadaku sesak.
Ya, Kania adalah orangnya. Kepribadiannya mendekati sempurna jika dibandingkan
denganku. Akademis, organisasi, pergaulan? Jangan ditanya. Dia ahli dalam
segala bidang. Dibandingkan dengan aku dan Stella, Kania adalah mahasiswa yang
popular di Fakultas. Siapa yang tidak kenal Kania? Tidak ada. Hampir semua
mahasiswa di Fakultas kami mengenalnya. Terlebih setelah ia menjabat sebagai
wakil ketua BEM Fakultas. Haft, aku menjadi seperti butiran debu jika
dibandingkan dengannya. Tapi Kania tidak pernah sombong, ia tak pernah merasa
tinggi. Itulah yang aku suka darinya. Satu-satunya hal yang tidak kusuka
darinya hanyalah kesibukannya yang melebihi kesibukan Presiden Indonesia.
Hampir empat tahun
berlalu, persahabatan kami semakin erat. Tapi sebenarnya hatiku merasa
terjerat. Rasanya seperti mulai ada jarak antara kami, terutama dengan Kania.
APakah karena Kania terlalu sibuk? Kurasa tidak.
“Hubungan lu sama Sammy
gimana? Ada perkembangan?”. Tanyaku pada Kania yang tengah asyik di depan
laptopnya.
“Perkembangan apaan?
Udah putus mah putus aja, apalagi yang mau dikembangin? Mendingan kita nanem
kembang. Wangi. Yuk! Yuk!”. Jawab Kania asal.
“Dih seriusan gue
nanyanya. Abisnya keliatannya dia masih hubungin lu terus tuh”.
“Biarin aja. Ntar juga
dia capek sendiri. Udah putus 3 tahun loh ini. Tahun depan juga dia capek
palingan”.
“Emang lu udah gak
sayang lagi sama dia?”.
“Hemm gimana ya?
Entahlah”.
“Atau lu lagi sayang
sama orang lain?”.
“Hmm yang ini sulit
sekali pertanyaannya”. Kania menatapku dengan serius. Padahal sejak tadi ia
fokus pada layar laptopnya.
“Kenapa?”.
“Sepertinya memang
iya”. Jawab Kania mantap.
“Iya apa?”.
“Iya, gue lagi sayang
sama orang lain”. Lalu Kania menundukkan kepalanya.
“Siapa?”. Tanyaku
dengan nada yang semakin penasaran.
“Belum waktunya gue
ceritain”. Kania pun tertawa sejadi-jadinya. Ia tak menghiraukan ekspresi
wajahku yang mulai merasa memang ada sesuatu yang terjadi di antara Kania dan
Adrian. Hari itu aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku terlalu sedih
untuk membayangkan segala kemungkinan buruk yang terjadi.
Tuhan, ada apa denganku?
Mengapa rasanya sakit mengetahui bahwa orang yang kusayangi juga ada yang
menyayangi? Terlebih ia adalah sahabatku sendiri. Aku harus apa? Jika memang
aku dan Adrian tidak ditakdirkan untuk bersama, lalu apa maksud dari segala
kedekatanku dengan Adrian selama hampir 4 tahun ini? Atau, mengapa Kau
pertemukan aku dengannya 25 Januari 2012 lalu?
25
Januari 2012
Hujan di Bulan Januari
selalu mendapat gelar paling awet sepanjang tahun. Sejak subuh hujan enggan
mereda hingga jam 7 pagi seperti ini pun matahari enggan menampakkan sinarnya. Suara
hujan yang terdengar samar-samar ini membuatku enggan beranjak dari kasur. Tapi
suara Ibu yang melengking memaksaku untuk segera bangun dan bergegas memakai
seragam. Try Out Ujian Nasional pertama yang membuatku mulai merasa tengah
menjadi siswa kelas 12 semester akhir. Akhirnya dengan segala niat yang
berusaha kukumpulkan, akupun berangkat ke SMA 1 tempat diselenggarakannya Try
Out gabungan. Setibanya di sana, aku kebingungan. Sekolah ini lebih luas
dibandingkan dengan sekolah ku di SMA 3. Gedungnya lebih tinggi dan lebih
rumit. Keputusan yang sangat salah untuk berangkat sendirian tanpa berbarengan
dengan teman sekelasku. Ah. Aku menggerutu sendirian di tengah lapangan. Aku
harus ke mana?
“Hallo, siswi SMA 3
ya?”. Tetiba suara seorang pria terdengar dari belakangku.
“Ah hah? Kok tahu”.
Jawabku sedikit gelagapan.
“Hehe itu kana da
tulisannya di batik lo”. Kata pria itu menunjuk ke arah batik yang kukenakan.
“He he he iya bener
juga”. Aku baru sadar kalau seragam yang harus digunakan pada Try Out ini
adalah batik sekolah masing-masing.
“Hoo berarti lo anak
SMA 1 ya?”. Lanjutku kemudian sambil menunjuk ke arah batiknya. Pria yang
tingginya sekitar 170 cm itu tampak manis dengan kacamata dan rambut pendek
yang sedikit ikal. Kulitnya putih dan caranya menggunakan seragam rapi sekali.
“Iyalah haha”. Dia
menjawab diiringi tawa yang sumringah. Manis sekali. Ah bicara apa aku ini.
“Ah iya kebetulan gue
menemukan penghuni sekolah ini. Ruangan B23 itu di sebelah mana deh? Dari tadi
gue muter-muter gak ketemu”.
“Nah justru karena itu
gue nyamperin lo”.
“Hah? Maksudnya?”.
Tanyaku heran.
“Muka lo kaya orang
kebingungan dari tadi gue perhatiin. Bukannya nanya orang malah berdiri di
sini. Kan aneh”.
“Hehehe begitulah gue.
Pemalu”. Jawabku tertunduk.
“Oke oke. Sini gue
anter ke ruang B23. Kebetulan gue juga dapet ruangan di sana kok. Jadi, kalo
angka depannya 2, itu artinya ruangan itu ada di lantai 2”.
“Hoo gitu, pantesan gue
kan tadi Cuma muter-muter di lantai 1. Haft, sekolah lo terlalu luas sih”. Aku
menghela napas.
“Sekolah lo kali yang
terlalu sempit. #eh candaaa”.
“Ah sial”
“Udah yuk buruan ke
ruangannya. Udah mau mulai nih. Nanti kita telat”. Kami pun berjalan menuju ke
ruangan B23. Di tengah perjalanan aku tak berani memulai percakapan lagi. Pria
itu pun hanya fokus pada jalan yang ada di depannya. Sesekali wanita-wanita yang
satu sekolah dengannya tersenyum ke arahnya. Tak heran, pria itu sangat manis
dan nyaris sempurna.
“Nah, ini dia ruangan
kita. Silahkan cari tempat duduk lo”.
“Hmm oke. Makasih”.
“Ya ayo anak-anak
segera duduk di kursi masing-masing ya. Try out akan segera dimulai”. Terdengar
suara pengawas dari dalam kelas yang ternyata sudah datang terlebih dahulu.
Sebelum ke tempat duduk, aku menoleh ke arahnya.
“Nama lo siapa?”.
“Adrian Pratama.
Panggil aja Adrian. Lo?”.
“Gue Hana Nabila.
Hana”.
“Sip salam kenal, semangat
Try Out-nya!”.
Lalu kami pun berjalan
menuju tempat duduk kami masing-masing. Adrian duduk di deretan bangku paling
depan, sedangkan aku dideretan tengah. Dari tempat ini aku bisa melihat dengan
jelas ekspresi seriusnya saat mengerjakan soal. Seketika aku tidak fokus
mengerjakan soal Try Out ini. Ah sial.
Dua jam berlalu. Try
Out mata pelajaran pertama selesai. Itu artinya sekarang waktunya istirahat.
Kucoba menghubungi temanku yang satu SMA, tapi tidak ada yang berhasil.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap di kelas. Lagi pula Ibu membuatkanku bekal
makan siang. Jadi aku tidak akan kelaparan di sini. Ternyata ada orang lain
yang tidak keluar kelas. Kulihat ia merogoh tasnya dalam-dalam seperti mencari
sesuatu. Sedetik kemudian sudah ada kotak makan di tangannya. Tetiba ia menoleh
ke arahnku dan mendapatiku tengah memandangi tingkahnya. Dengan cepat aku
segera menunduk pura-pura sibuk membuka kotak bekalku.
“Wah bawa bekal juga.
Makan bareng deh yuk. Boleh duduk di sini?”. Adrian menghapiriku.
“Boleh boleh. Hmm
jarang loh gue liat cowok bawa bekal makan siang”.
“Gue mah beda. Pasti di
sekolah lo ga ada ya. Cowok ana SMA 1 mah beda, Han”. Katanya dilanjutkan
dengan tertawa puas.
“Mulai deh
banding-bandingin sekolah lagi”. Gerutuku kesal
“Sorry, bercanda. Gue
emang selalu bawa bekal. Nyokap rajin masak pagi soalnya. Ga enak kan kalo ga
dibawa. Lagian lebih sehat juga masakan rumahan. Ya gak?”.
“Hem gitu. Sepakat!”.
Jawabku singkat.
“Eh lo mau kuliah di
mana nanti?”. Deg! Pertanyaan yang paling aku hindari sejak aku dinyatakan naik
ke kelas 12.
“Entah”. Jawabku asal.
“Loh kok gitu? Payah
nih gak punya masa depan”. Ah siapa sih orang ini? Tadi pagi ramahnya minta
ampun, sekarang berani-beraninya mengatakan hal menyakitkan seperti itu.
“Loh kok lo malah gitu.
Suka-suka gue lah”.
“Hana, denger yah. Jadi
manusia itu harus punya planning”. Ucapnya tegas sambil menatap mataku.
“Bahkan, dari lo bangun tidur sampe nanti tidur lagi pun, itu semua harus udah
terencana di otak lo. Gak ada tuh istilah kebetulan”. Lanjutnya masih dengan
tatapan yang serius. Aku hanya bisa terdiam lalu tertunduk.
“Emang lo mau kuliah di
mana?”. Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Di Universitas
Indonesia. Universitas impian sejak SMP”.
“Hoo kalo gitu gue juga
mau masuk UI”. Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Dih kok ngikutin
gue?”.
“Siapa yang ngikutin
lo. Emangnya di dunia ini Cuma lo siswa yang universitas impiannya di UI?”.
“Eng…… ga juga sih.
Tapi kan tadi lo bilang ga tau mau kuliah di mana. Trus tiba-tiba mau masuk UI
pas gue bilang gue mau masuk sana. Emangnya UI itu universitas impian lo
juga?”.
“Kemarin bukan, hari
ini iya”.
“Wah. Gue speechless
nih”. Adrian tertawa lepas sambil menatapku yang tengah tertawa entah lepas
atau apa. “Yaudah, semangat ya kita”. Lanjutnya kemudian setelah tawanya
terhenti.
Kita? Ah apa maksudnya?
Please jangan terbawa perasaan. Itu hal yang wajar. Namun perasaan tetaplah
perasaan. Suatu hal gaib yang tidak pernah bisa dibohongi. Rasanya aku seperti
menemukan cahaya baru. Cahaya yang mulai mempelihatkan jalanku menuju suatu
tempat yang selama ini mereka bilang masa depan.
Detik berganti menjadi
menit kemudian bergeser terus menerus menembus batas hari. Pertemuan pertamaku
dengan Adrian hanya berakhir pada perbincangan makan siang. Pada Try Out hari
kedua aku tidak melihat keberadaan Adrian barang secuil pun. Bangku tempatnya
duduk kemarin pun kosong. Aku harus mencari tahu kemana? Tidak tahu. Aku hanya
berusaha mencuri dengar dari beberapa wanita yang satu sekolah dengannya. Tapi
tetap tidak kutemukan jawaban mengapa Adrian tidak hadir hari ini. Cahaya itu
tak menampakkan sinarnya hari ini, bahkan mungkin untuk selamanya. Tidak akan
pernah lagi.
6
Agustus 2012
Kaki mungilku melangkah
pelan dari Stasiun Pondok Cina. Kereta yang baru saja kunaiki membunyikan klakson
tanda bahwa akan segera berangkat kembali. Aku menoleh ke belakang. Dalam hati
kukatakan “Aku ingin pulang saja”. Tapi
kakiku tetap melangkah ke depan hingga akhirnya kini aku berdiri tepat di depan
Balairung UI. Aku menghela napas sejenak. Terlalu ramai dengan mahasiswa baru
di sini, aku salah satunya. Kucoba melihat ke sekeliling mencoba mencari wajah
yang kukenal, tapi tidak ada. Kupejamkan mata untuk menguatkan hati agar aku
tetap bertahan karena aku sudah sejauh ini, aku sudah berhasil tiba di sini.
Universitas yang seketika menjadi universitas impianku dalam waktu hitungan
detik. Seketika terngiang ucapan Adrian beberapa bulan lalu “Semangat ya kita”.
Aku tersenyum dan bergumam sendirian “Iya
gue semangat, dan hari ini gue ada di sini. Lo juga pasti di sini kan?”.
Masih dengan mata yang terpejam, kunikmati gumaman penuh kenangan itu. Hingga
tetiba ada sebuah benturan keras kurasakan menghantam bahu kananku.
“Aww!! Aku langsung
membuka mataku sambil memegangi bahu kananku yang sakit karena ditabrak
seseorang.
“Aduh sorry banget. Gak
sengaja. Gue lagi buru-buru”. Seorang pria dengan paras yang tak asing bagiku
itu menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf padaku. Sedangkan aku hanya
bisa terpaku. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Aku kenal wajah ini. Kulit
putihnya, rambut ikalnya, kacamatanya. Aku kenal semua. “Adrian”. Batinku
“Ad……”. Belum sempat
aku melanjutkan ucapanku, pria itu langsung pergi dengan tergesa-gesa menuju
kerumunan mahasiswa baru yang dresscode-nya sama denganku. Aku memandanginya
dari kejauhan sambil menerka-nerka apakah benar kami satu jurusan atau ia hanya
salah dresscode. Tapi, bukan itu yang mengganggu pikiranku sekarang. Aku hanya
tidak mengerti mengapa Adrian tidak mengenaliku?
Akhirnya waktu menjawab
segala pertanyaan yang menghantuiku selama ini. Pria itu memang benar Adrian.
Dan benar ia memang satu jurusan denganku. Lalu bagaimana ia bisa tidak
mengenaliku? Itu yang masih menjadi misteri. Satu jurusan dengan Adrian
membuatku memiliki kesempatan untuk mengenalinya lebih dekat. Walau Adrian
terlihat sangat lupa denganku, aku tidak berusaha membangkitkan kenangan yang
selama ini selalu aku simpan. Kami berkenalan layaknya orang yang baru saja
bertemu. Kami pun semakin dekat hingga semester akhir. Tapi kami tidak hanya berdua,
Adrian juga dekat dengan Stella dan Kania. Sahabatku sejak awal masuk kuliah.
Ya, mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku, tak terkecuali Adrian. Kami hanya
sahabat. Tidak lebih.
Sekarang….
“Lo udah sampe
Bandung?”. Suara Stella dari seberang sana membuatku tersenyum sumringah pada
pagi kedua di Bandung ini.
“Udeeeeh dari
kemariiin. Telat lu nanyanya”.
“Yaelaah maaf deh maaf.
Kemarin kan gue sibuk sama acara akikahan Rama. Ga sempet liat HP malah. Syukur
deh kalo udah sampe ya. Gimana Bandung? Nyaman di sana?”.
“Hoiya ya kemarin rama
diakikah. Lancar acaranya? Suami lo pulang dong kemarin?”.
“Dih malah nanyain yang
lain. Bandung aja dulu itu gimana? Betah gak lo?”.
“Betah kok. Kan dari
dulu gue emang mau tinggal di sini. Jadi, lancar ga acaranya? Suami lo pulang
kan?”.
“Alhamdulillah kalo
gitu. Kalo gak betah buruan balik ke Jakarta ya haha. Acara akikah Rama lancar
kok. Suami gue pulang, dia izin satu minggu. Dari Kalimantan langsung ke
Jakarta kemarin”.
“Wah bagus bagus. Awas
aja kalo dia ga pulang, gue cincang-cincang dia haha”.
“Lah ngapa jadi lo yang
sewot. Selow lah, untuk urusan keluarga insya Allah dia selalu utamakan. Oiya,
ngomong-ngomong soal suami gue itu, gue juga mau kabarin kalo mulai bulan depan
gue mau pindah ke Kalimantan. Dia akan dapet dinas tetap di sana. Gak
pindah-pindah kota lagi, jadi kami pikir lebih baik sekalian tinggal di sana
aja biar Rama ga ditinggalin terus”.
“Duuuh kenapa jadi pada
pindah-pindah gini sih?”.
“Dih lo yang mulai
duluan sih pindah ke Bandung, gue kan latahan jadi gak betah di Jakarta juga”.
“Sudahlah. Emang lebih
baik lo ikut pindah sama suami lo kan daripada LDR-an terus”.
“Yoih. Yaudah ya Rama
udah bangun nih. Rewel. Gue tutup dulu. Betah-betah ya di Bandung. Kalo lagi
gak sibuk ngobrol-ngobrol lagi nanti”.
“Oke. Salam buat Rama
dan suami lo ya. Bye”.
Stella memang sudah
menikah sejak satu tahun yang lalu dengan seorang senior dari fakultas sebelah.
Suaminya selalu mendapat dinas ke luar kota sehingga jarang di rumah. Jadi,
sebenarnya aku senang ketika mereka memutuskan untuk pindah agar selalu
serumah. Walaupun aku juga sedih karena itu artinya jarak aku dengan Stella
akan semakin jauh saja. Bandung-Kalimantan. Jauh sekali.
Kuletakan ponsel di
atas tempat tidur yang sejak kemarin belum sempat kurapikan. Aku segera
berganti pakaian untuk menuju kantorku yang baru. Kantor yang sama sekali tak
ada kaitannya dengan bidang kuliahku bahkan sangat jauh berbeda dengan kantorku
di Jakarta dulu. Kini aku bekerja di suatu perusahaan weding organizer sebagai
desainer baju dan desain interior. Memang tidak sesuai dengan bidangku, tapi
aku menyukainya.
Tak berapa lama
ponselku berdering kembali.
“Kania”. Batinku. Aku
terdiam sejenak. Aku bingung apakah ini panggilan yang harus aku jawab atau
tidak. Sempat kuabaikan hingga berdering berkali-kali hingga akhirnya kudengar
suara yang terdengar sangat marah dari seberang sana.
“Hallo!! Ini Hana kan?
Kok lo gak bilang ke gue kalo mau pindah ke Bandung? Kok cuma Stella yang
dikasih tau. Lo kenapa sih akhir-akhir ini sikapnya aneh sama gue dan tiba-tiba
pindah tanpa pamit”. Kania bertanya tanpa memberikanku kesempatan untuk
menjawab. Sedangkan aku di sini hanya mampu meneteskan air mata sambil berusaha
untuk tidak terisak.
“Hallo Kania. Apa
kabar?”. Tanyaku singkat tanpa ingin menjawab semua pertanyaan berantainya itu.
“Gue apa kabar? Lo yang
apa kabar? Kok aneh sih. Ah!”. Suara Kania terdengar marah sekali padaku. Tapi
aku bisa merasakan bahwa ia sebenarnya khawatir.
“Hehe tenang dulu dong.
Kan gue Cuma mau kasih kejutan. Eh ternyata lo udah tau duluan. Yaudah”.
“Kejutan apaan. Ini mah
kabur namanya”.
“Kabur dari mana? Gak
kok. Selow, Jakarta-Bandung kan deket. Main-mainlah ke sini ya nanti abis lo
nikahan”. Suaraku terdengar semakin melemah di akhir kalimatku.
“Tau ah pokoknya gue
bête sama lo dan Stella. Sok rahasia-rahasiaan dari gue. Heran”. Suara Kania
masih terdengar kesal
“Yaudah iya maaf maaf.
Btw gimana persiapan pernikahan lo? Maaf ya gue gak bisa bantu karena mulai
hari ini udah kerja di kantor yang baru. Bahkan weekend pun tetep ngantor”.
“Iiiiiih makin
ngeseliiin. Tapi pas hari-H lo harus dateng yaaa”.
“Ga janji ya”. Jawabku
lemah.
“Han, lo baik-baik aja
kan?”. Nada bicara Kania turut melemah
“Apa maksudnya? Gue ga
kenapa-napa kok”.
“Hmm bagus deh. Abisnya
lemes gitu dari tadi ngomongnya”.
“Hoo gue belum sarapan
hehe. Yaudah ya gue mau sarapan dulu trus berangkat kerja”.
“Oke take care yah di
Banduuuung. Byeee”.
“Bye Kaniaa”.
Kuletakan kembali
ponsel di atas tempat tidur, kali ini kulempar dengan cukup keras. Tak lama
kemudian ponsel itu berdering kembali tanda ada pesan singkat yang masuk.
Segera kuraih dan kubaca.
“Oiya
gue jadi lupa bilang. Adrian hari ini ke Bandung. Dia di sana untuk 2 minggu
karena dapet tugas penyelidikan kasus di sana. Mungkin kalo lo butuh temen di
Bandung bisa hubungi dia”. –Kania-
“Loh
bukannya minggu depan kalian nikah?”. –Hana-
“Ditunda
sampai bulan depan”. –Kania-
Aku tak sanggup
membalas pesan singkat Kania lagi. Konspirasi macam apalagi ini? Aku sudah
berlari sejauh ini, tapi Adrian malah tetap mendekat. Ah. “Aku tidak boleh bertemu dengan Adrian”. Batinku.
***
Aku adalah manusia
dengan gelar Sarjana S1 yang tentu saja tahu bahwa bumi itu sangatlah luas.
Tapi ilmu yang kudapat selama 4 tahun kuliah ini tetap saja tidak bisa menjawab
mengapa di dunia yang seluas ini aku masih harus bertemu dengan Adrian.
Mengapa??
Jujur saja kepindahanku
ke Bandung memang sudah aku rencanakan sejak lama. Tapi aku baru berencana
pindah tahun depan. Hanya saja kabar pernikahan Kania dan Adrian membuatku
merasa ingin pergi secepatnya. Aku terlalu sakit untuk selalu berada di dekat
mereka. Sudah cukup kurasakan sakit selama 4 tahun ini, aku ingin segera pergi.
Aku lelah pura-pura tersenyum saat sedang bersama mereka. Aku lelah menangis
dalam tawa yang riang. Aku lelah berbohong demi kebahagiaan orang lain. Jika
harus berkorban, pergi saja. Itu keputusan yang paling tepat bagiku sekarang.
Lebih baik pergi dan merasakan sakit yang sesungguhnya daripada tetap tinggal
dan merasakan sakit yang terbalut seyuman manis.
“Hana….”.
“Adrian?? Sedang apa
kau di sini?”.
“Bekerja. Kau?”
“Bukan. Maksudku sedang
apa kau di sini lebih mementingkan pekerjaanmu dan malah menunda pernikahanmu
dengan Kania?”.
“Oh itu… Sebenarnya aku
ke sini bukan untuk bekerja”.
“Lalu untuk apa?”.
“Untuk mencarimu”.
*Bersambung...........*
Minggu, 13 Desember 2015
#MariBersama
Aku senang menghabiskan waktu sendiri
Jalan sendiri
Makan sendiri
Me time! Aku bangga dengan hal itu
Tapi terkadang aku juga ingin ditemani
Aku juga ingin berjalan sambil saling melempar senyum
Aku juga ingin makan sambil saling berbagi tawa
Aku juga ingin merasakan "Our Quality Time"
Terima Kasih
Terima kasih kau masih di sini meskipun kau tahu menjauh adalah jalan terbaik
Terima kasih.......
Terima kasih.......
Senin, 09 November 2015
Penyusup Hati
Penyusup Hati
Diam-diam ia mengamatimu
Mengawasi setiap gerak-gerikmu
Menatap ke mana matamu tertuju
Perlahan ia mengerti
Memahami apa yang kau suka
Mengetahui apa yang tidak kau suka
Mendalami setiap masalah yang kau hadapi
Mencoba untuk menemukan solusi
Diam-diam ia masuk ke hatimu
namun tanpa kau sadari sedikitpun
Menyusuri setiap celah di hatimu
Melewati pintu-pintu yang terbuka bukan untuknya
Kini, penyusup itu menemui jalan buntu
Tak bisa melanjutkan gerilyanya
Namun tak bisa juga keluar
Ia tersesat di hatimu
yang terpampang lapang bukan untuknya
Penyusup itu menangis ketakutan
Hari-harinya dihiasi cinta yang berkeliaran
namun bukan untuk dirinya
Setap detiknya dipenuhi kasih sayang
yang sama sekali tak tertuju untuknya
Penyusup itu hanya punya dua harapan
Berharap dapat menemukan jalan keluar dari hatimu
atau
Berharap dirimu menyadari ada dirinya di sana
Lalu ia memutuskan untuk berharap dirimu menyadari ada dirinya di hatimu
Dan kini ia pun mendekam di sana
dalam suasana haus dan lapar serta sesak napas
ditemani secercah harapan yang masih ia pegang teguh
Baginya,
ia bisa bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan
ia bisa bertahan hidup tanpa minum selama 4 hari
ia bisa bertahan hidup tanpa napas selama 4 menit
Tapi ia tidak bisa hidup tanpa harapan, walau hanya selama 4 detik
Maka, ia terus berharap dan berharap
Namun, penyusup itu semakin kehilangan arah
Kian hari hatimu semakin rumit
Seperti labirin yang jalurnya berubah-ubah setiap detik
Jangankan jalan keluar, ruang untuknya menunggu pun semakin sempit
Ia semakin terjepit oleh cinta orang lain yang mengapit
Hatimu dipenuh cinta dari orang lain
Ya, orang lain. Bukan dirinya.
Lalu ia pun menyerah tanpa mencari jalan keluar
Melainkan memilih mati di hatimu
dengan cara berhenti berharap
Tak sampai 4 detik,
hanya dalam 2 detik, ia pun mati
Dan kau?
Tak pernah menyadari ada pemakaman cinta yang tulus di hatimu
Semerbak wangi pemakamannya tetap tidak menyadarkanmu
Diam-diam ia mengamatimu
Mengawasi setiap gerak-gerikmu
Menatap ke mana matamu tertuju
Perlahan ia mengerti
Memahami apa yang kau suka
Mengetahui apa yang tidak kau suka
Mendalami setiap masalah yang kau hadapi
Mencoba untuk menemukan solusi
Diam-diam ia masuk ke hatimu
namun tanpa kau sadari sedikitpun
Menyusuri setiap celah di hatimu
Melewati pintu-pintu yang terbuka bukan untuknya
Kini, penyusup itu menemui jalan buntu
Tak bisa melanjutkan gerilyanya
Namun tak bisa juga keluar
Ia tersesat di hatimu
yang terpampang lapang bukan untuknya
Penyusup itu menangis ketakutan
Hari-harinya dihiasi cinta yang berkeliaran
namun bukan untuk dirinya
Setap detiknya dipenuhi kasih sayang
yang sama sekali tak tertuju untuknya
Penyusup itu hanya punya dua harapan
Berharap dapat menemukan jalan keluar dari hatimu
atau
Berharap dirimu menyadari ada dirinya di sana
Lalu ia memutuskan untuk berharap dirimu menyadari ada dirinya di hatimu
Dan kini ia pun mendekam di sana
dalam suasana haus dan lapar serta sesak napas
ditemani secercah harapan yang masih ia pegang teguh
Baginya,
ia bisa bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan
ia bisa bertahan hidup tanpa minum selama 4 hari
ia bisa bertahan hidup tanpa napas selama 4 menit
Tapi ia tidak bisa hidup tanpa harapan, walau hanya selama 4 detik
Maka, ia terus berharap dan berharap
Namun, penyusup itu semakin kehilangan arah
Kian hari hatimu semakin rumit
Seperti labirin yang jalurnya berubah-ubah setiap detik
Jangankan jalan keluar, ruang untuknya menunggu pun semakin sempit
Ia semakin terjepit oleh cinta orang lain yang mengapit
Hatimu dipenuh cinta dari orang lain
Ya, orang lain. Bukan dirinya.
Lalu ia pun menyerah tanpa mencari jalan keluar
Melainkan memilih mati di hatimu
dengan cara berhenti berharap
Tak sampai 4 detik,
hanya dalam 2 detik, ia pun mati
Dan kau?
Tak pernah menyadari ada pemakaman cinta yang tulus di hatimu
Semerbak wangi pemakamannya tetap tidak menyadarkanmu
"Terkadang orang yang lebih mengerti hatimu adalah orang yang menghabiskan setengah dari harinya untuk menyusuri labirin di hatimu. Lalu, bagaimana bisa kau tak melihatnya? Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan cinta yang lain. Sibuk menyusuri labirin di hati orang lain. Mungkin".
-Redrose-
Minggu, 01 November 2015
Pemilik Raga
Siang tadi di tengah terik matahari
Kau bilang akan segera turun hujan
Mana mungkin?
Tidakkah kau rasakan kulitku meraung-raung kepanasan sejak tadi?
Tapi sore ini hujan benar-benar turun
Hmm kau memang begitu
Suka menerka dan menebak hal tak mungkin
Tapi kemudian hal itu benar-benar terjadi
Kau bilang kau adalah pembaca pikiran yang handal
Tak usah kuceritakan apa yang kupikirkan
Kau sudah bisa mengetahuinya
Apakah..............
Ah tidak, kurasa kau tidak membaca seluruhnya
Hari ini sejenak tatapan kita bertemu
Kau tanya "ada apa?"
Kujawab sekenanya hanya dengan gelengan kepala
Karena kuduga kau akan membaca sendiri apa yang sedang aku pikirkan
Tapi kurasa dugaanku salah
Karena kau lebih tertarik pada layar ponselmu
Layar yang menampilkan percakapan-percakapan hangat
Dan bukan namaku yang tertera di sana
Detik berlalu, ku hanya asik mencuri pandang ke layar ponselmu
Berharap bisa tahu apa yang tengah kalian bicarakan
Tapi aku gagal
Aku hanya bisa menggumam sendirian
Menggigit bibirku menahan suatu kalimat
"Aku di sini. Di sampingmu. Mengapa kau lebih asik dengannya yang nun jauh di sana?".
Setidaknya aku menyadari satu hal
Mungkin aku bisa selalu bersamamu
Aku bisa memanggimu kapanpun aku mau
Aku bisa berada di dekatmu sepanjang hari
Aku bisa memiliki setengah dari waktumu dalam sehari
Tapi aku tidak pernah bisa memiliki hatimu
Karena aku hanyalah seorang pemilik raga
Kau bilang akan segera turun hujan
Mana mungkin?
Tidakkah kau rasakan kulitku meraung-raung kepanasan sejak tadi?
Tapi sore ini hujan benar-benar turun
Hmm kau memang begitu
Suka menerka dan menebak hal tak mungkin
Tapi kemudian hal itu benar-benar terjadi
Kau bilang kau adalah pembaca pikiran yang handal
Tak usah kuceritakan apa yang kupikirkan
Kau sudah bisa mengetahuinya
Apakah..............
Ah tidak, kurasa kau tidak membaca seluruhnya
Hari ini sejenak tatapan kita bertemu
Kau tanya "ada apa?"
Kujawab sekenanya hanya dengan gelengan kepala
Karena kuduga kau akan membaca sendiri apa yang sedang aku pikirkan
Tapi kurasa dugaanku salah
Karena kau lebih tertarik pada layar ponselmu
Layar yang menampilkan percakapan-percakapan hangat
Dan bukan namaku yang tertera di sana
Detik berlalu, ku hanya asik mencuri pandang ke layar ponselmu
Berharap bisa tahu apa yang tengah kalian bicarakan
Tapi aku gagal
Aku hanya bisa menggumam sendirian
Menggigit bibirku menahan suatu kalimat
"Aku di sini. Di sampingmu. Mengapa kau lebih asik dengannya yang nun jauh di sana?".
Setidaknya aku menyadari satu hal
Mungkin aku bisa selalu bersamamu
Aku bisa memanggimu kapanpun aku mau
Aku bisa berada di dekatmu sepanjang hari
Aku bisa memiliki setengah dari waktumu dalam sehari
Tapi aku tidak pernah bisa memiliki hatimu
Karena aku hanyalah seorang pemilik raga
"Ketika satu-satunya cara agar tetap bersamamu adalah dengan tidak menyukaimu,.............".
-Redrose-
Kamis, 22 Oktober 2015
Kepada Sebuah Nama
Kepada sebuah nama yang tak pernah berani kusebut di depan orang lain
Kepada sebuah nama yang tak selalu hadir, tapi selalu kunantikan
Kepada sebuah nama yang tak pernah bosan mengingatkanku tentang sebuah kesepakatan
Kepada sebuah nama yang hari ini terhapus dari barisan percakapan di layar ponsel
Kepada sebuah nama,
Aku menyerah............
Cause now I can't control this feeling anymore.
Kepada sebuah nama yang tak selalu hadir, tapi selalu kunantikan
Kepada sebuah nama yang tak pernah bosan mengingatkanku tentang sebuah kesepakatan
Kepada sebuah nama yang hari ini terhapus dari barisan percakapan di layar ponsel
Kepada sebuah nama,
Aku menyerah............
Cause now I can't control this feeling anymore.
[Sumber gambar: http://www.atozwishes.com/2015/09/love-quotes.html]
Jumat, 25 September 2015
Sorry, I Love You
Rasanya seperti sudah lama tidak berjumpa, padahal baru kemarin kita bertukar senyum dan sesekali melempar tawa. Rasanya seperti tidak pernah melihatmu, padahal baru tadi pagi kuamati punggungmu menjauh di tengah hamparan motor yang tengah berbaris di lahan parkir. Rasanya seperti tidak pernah berbicara padamu, padahal baru semenit yang lalu kukirimkan emoticon sinis pada chatting Whatsapp kita.
Ya, jika objeknya kamu rasanya segala sesuatu menjadi seperti tidak pernah. Bukan karena aku tidak mengingatnya, tapi karena aku selalu ingin mengulanginya.
Bertukar senyum, melempar tawa, melihatmu, berbicara denganmu. Aku ingin mengulang semuanya setiap saat.
Sorry, I love You
Karena semakin ku mencintaimu, semakin ku harus melepasmu dalam hidupku.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Salam Merdeka dari Langit Nangerang, Lebak, Banten
"Satu minggu lagi foto-fotonya akan ada di blog Kak Astri!".
Kalimat nyeleneh yang membuat tersenyum haru sekaligus malu-malu.
Maaf telat dari deadline, terlalu banyak kisah yang harus dituliskan sampai bingung harus mulai dari mana :')
Kalimat sederhana yang membuat saya merasa "terundang" kembali. Kalimat sederhana yang seketika membuat saya mengetikan jari-jemari untuk mengabari Nangerang Fighters bahwa kita ditunggu!
Satu lagi kalimat yang membuat saya semakin semangat, "Anak-anak mendengar kabar ini sangatlah senang....".
Anak-anak. Ya, anak-anak. Sebuah kekuatan dari Nangerang. Magnet terkuat yang seolah menarik untuk kembali. Saya harus kembali. Tidak, kami harus kembali!
Mungkin pesan tersebut yang membuat saya berkata : "Bye Malang, I have to go to Nangerang!". Dilema pribadi di minggu-minggu terakhir menuju hari keberangkatan. Ketika dihadapkan pada dua pilihan dengan kondisi butuh pengertian. Dua pilihan yang meributkan antara pemenuhan tanggung jawab dan............keluarga. Namun, akhirnya dua pilihan itu melebur jadi satu dan tentunya dengan tujuan yang satu. Bukan hanya karena ini sebuah tanggung jawab, tapi juga sebuah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa saya beli di toko manapun. Bukan berarti pilihan satunya tidak membahagiakan, hanya saja kondisinya masih bisa dikendalikan. But still, I'm sorry, Mah, Pah. :')
Persiapan
Kamis, 13 Agustus 2015
Awalnya kami merencanakan keberangkatan pada tanggal 13 Agustus 2015. Namun karena satu dan lain hal, kami menunda keberangkatan hingga tanggal 14 Agustus 2015. Hari ini kami gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang memang harus dipersiapkan. Entah karena acara kami tahun ini tidak terlalu rumit atau bagaimana, saya merasa segalanya bisa dipersiapkan dengan santai dan lancar. Alhamdulillah.
Namun ada kesedihan yang terasa ketika salah satu teman kami (Ica) tidak bisa ikut dengan kami dikarenakan kakeknya Ica sedang dirawat di rumah sakit. Kami bisa apa? Sangat disayangkan, tapi kami hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga kakek Ica lekas sembuh. Aamiin. Walau dapat dipastikan tahun ini akan sepi dari canda gurau Ica, tapi kami yakin Ica selalu mendoakan kami dari Karawang tercinta :)
Selain itu, Zee pun tidak bisa beragkat bersama-sama karena harus menyelesaikan KP-nya dahulu di LIPI. Syukurlah Zee masih bisa menyempatkan datang pada hari kedua dengan mengorbankan Tes Toefl-nya. I can't say anything about this. But, I hope we'll make it worth! :)
Jumat, 14 Agustus 2015
Teng-----Teng-----Teng-----Teng!!
Inilah harinya! Kami (Septy, Zee, Anggari, Aji, Rachmat) berjanji untuk bertemu di Stasiun Kampungbandan pukul 8 pagi. Oh my bad, ternyata saya salah info mengenai kereta yang akan berangkat ke Rangkas. Untunglah suasana masih dapat terkendali dan kami masih punya waktu untuk beralih ke Stasiun Duri, tempat kereta ke Rangkas yang akan membawa kami ke Nangerang. Alhamdulillah sejauh ini perjalanan kami lancar. Kereta yang kami tumpangi terasa sangat nyaman.
Hingga akhirnya kami tiba di stasiun Rangkas tepat waktu (sebelum masuk waktu sholat Jumat). Maklum lah ya kami membawa dua orang calon imam masa depan yang harus sholat jumat saat itu. Setelah sampai Rangkas kami segera mencari sebuah masjid terdekat. Sebelum itu kami narsis dahulu di Stasiun Rangkas karena pemandangannya terlihat epic. wkwk
Kalimat nyeleneh yang membuat tersenyum haru sekaligus malu-malu.
Maaf telat dari deadline, terlalu banyak kisah yang harus dituliskan sampai bingung harus mulai dari mana :')
Satu minggu lebih beberapa hari setelah kepulangan kami (Nangerang Fighters) dari sebuah tempat yang saya sebut "Semeru". Sebuah tempat yang tiga tahun terakhir selalu meninggalkan kenangan ketika semua kebahagiaan di sana harus berakhir hanya dengan satu kata ajaib, yaitu 'pulang'. Satu minggu berlalu, setiap kenangan yang sempat tercipta itu sesekali muncul dalam ingatan. Mengapa begitu membekas??
Tahun ini semua persiapan menuju ke Nangerang tidak serumit tahun lalu. Walau sempat timbul banyak gagasan tentang hal apa yang akan kami lakukan di Nangerang, semuanya bisa mengerucut pada satu suara yang disepakati. Diskusi manja yang terjadwal mulai terlaksana. Persiapan terutama dalam hal dana pun mulai diperhitungkan. Sedikit demi sedikit persiapan rampung walau hanya berupa anggaran dana dan konsep acara yang masih mengawang. Kami terlena sejenak dengan suasana lebaran dan liburan panjang. Waktu kami tersita sedikit dengan kesibukan yang perlu diatasi di sana sini. Terpecah. Hilang arah (lebay tri haha).
Hingga pada suatu hari ada sebuah komentar di blog saya dan seketika memercikan api semangat yang selama ini sempat meredup akibat kesibukan tak tentu.
HAMAMI GUNAWAN26 Juni 2015 01.01
Alhamdulillah Bantuan yg diberikan oleh Ka astri dkk, sangat berguna dan bermanfaat sekali bagi kami di Mi nangerang
Jika ada waktu dan kesempatan main lah ke sini, ke kampung yang jauh dari keramaiyan kota......
Jika ada waktu dan kesempatan main lah ke sini, ke kampung yang jauh dari keramaiyan kota......
Kalimat sederhana yang membuat saya merasa "terundang" kembali. Kalimat sederhana yang seketika membuat saya mengetikan jari-jemari untuk mengabari Nangerang Fighters bahwa kita ditunggu!
Satu lagi kalimat yang membuat saya semakin semangat, "Anak-anak mendengar kabar ini sangatlah senang....".
Anak-anak. Ya, anak-anak. Sebuah kekuatan dari Nangerang. Magnet terkuat yang seolah menarik untuk kembali. Saya harus kembali. Tidak, kami harus kembali!
Mungkin pesan tersebut yang membuat saya berkata : "Bye Malang, I have to go to Nangerang!". Dilema pribadi di minggu-minggu terakhir menuju hari keberangkatan. Ketika dihadapkan pada dua pilihan dengan kondisi butuh pengertian. Dua pilihan yang meributkan antara pemenuhan tanggung jawab dan............keluarga. Namun, akhirnya dua pilihan itu melebur jadi satu dan tentunya dengan tujuan yang satu. Bukan hanya karena ini sebuah tanggung jawab, tapi juga sebuah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa saya beli di toko manapun. Bukan berarti pilihan satunya tidak membahagiakan, hanya saja kondisinya masih bisa dikendalikan. But still, I'm sorry, Mah, Pah. :')
***
Persiapan
Kamis, 13 Agustus 2015
Awalnya kami merencanakan keberangkatan pada tanggal 13 Agustus 2015. Namun karena satu dan lain hal, kami menunda keberangkatan hingga tanggal 14 Agustus 2015. Hari ini kami gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang memang harus dipersiapkan. Entah karena acara kami tahun ini tidak terlalu rumit atau bagaimana, saya merasa segalanya bisa dipersiapkan dengan santai dan lancar. Alhamdulillah.
Namun ada kesedihan yang terasa ketika salah satu teman kami (Ica) tidak bisa ikut dengan kami dikarenakan kakeknya Ica sedang dirawat di rumah sakit. Kami bisa apa? Sangat disayangkan, tapi kami hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga kakek Ica lekas sembuh. Aamiin. Walau dapat dipastikan tahun ini akan sepi dari canda gurau Ica, tapi kami yakin Ica selalu mendoakan kami dari Karawang tercinta :)
Selain itu, Zee pun tidak bisa beragkat bersama-sama karena harus menyelesaikan KP-nya dahulu di LIPI. Syukurlah Zee masih bisa menyempatkan datang pada hari kedua dengan mengorbankan Tes Toefl-nya. I can't say anything about this. But, I hope we'll make it worth! :)
Jumat, 14 Agustus 2015
Teng-----Teng-----Teng-----Teng!!
Inilah harinya! Kami (Septy, Zee, Anggari, Aji, Rachmat) berjanji untuk bertemu di Stasiun Kampungbandan pukul 8 pagi. Oh my bad, ternyata saya salah info mengenai kereta yang akan berangkat ke Rangkas. Untunglah suasana masih dapat terkendali dan kami masih punya waktu untuk beralih ke Stasiun Duri, tempat kereta ke Rangkas yang akan membawa kami ke Nangerang. Alhamdulillah sejauh ini perjalanan kami lancar. Kereta yang kami tumpangi terasa sangat nyaman.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami tiba di sebuah masjid yang ternyata tahun lalu kami (kecuali saya dan Anggari) pernah ke sana juga. Berbekal ingatan dan diantar seorang anak kecil berbaju pramuka, akhinya kami pun dapat menemukan tempat istirahat sementara untuk makan siang dan menunggu duo warlok (Aji dan Rachmat) sholat Jumat. Makan siang hari itu disponsori oleh abang tukang bakso yang kebetulan mangkal tak jauh dari masjid. Sebagai makanan tambahan, kami membeli makanan penuh Msg yang gurih-gurih gitu rasanya. Ya begitulah ya. Setelah selesai sholat dan istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Aweh untuk dapat naik PS (elf) ke Nangerang. Beruntung kami datang di saat yang tepat. Sudah ada PS yang akan segera berangkat di sana, jadi kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alhamdulillah perjalanan kami ke Nangerang hari itu terbilang lancar.
Dua jam lebih perjalanan menggunakan PS, akhirnya kami menginjakkan kaki di Nangerang!
Seperti biasa kami menyusuri jalan di Nangerang dengan berjalan kaki. Beberapa hal di sekitar masih terlihat sama, namun ada juga yang sedikit berubah. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan warga-warga yang bersahaja. Mereka ternsenyum dan kemudian bertanya "Bade kamana?". Jawaban kami pun tetap sama "Ka Gejrog". "Rumah Kang Wawan". Mungkin ada satu kata aneh lain pada satu jawaban, "Ka gebrok". Ya maklumlah tahun ini kami mengajak personil baru yang belum pernah ke Gejrog. Wkwk
Beberapa orang kami kenal, beberapa lagi tidak. Namun mereka semua sama, tersenyum dengan sikap ramah yang sama. Pedesaan. Ini yang kami suka dari suasana pedesaan.
Perjalanan panjang menuju langit biru masih panjang. Lelah mulai terasa namun kami tetap tidak lelah untuk mengisi perjalanan dengan canda tawa. (Kadang saya bersyukur karena kalian itu rada-rada hehe). Ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan background foto ala-ala kami, ya begitulah kami.
Perjalanan berakhir di Gejrog, tempat yang akan menjadi persinggahan kami selama 4 hari kedepan. Begitu tiba di sana, suasananya belum banyak berubah. Masih asri dan sejuk. Ada sebuah rumah yang satu tahun lalu jadi tempat kami menginap dan juga sebuah surau yang rajin kami sambangi untuk sholat berjamah. Hanya saja kali ini banyak bunga di sana. Bahkan tempat kami menginap ada semacam gerbang bunga di depan rumah tersebut. Cantik.
Sambil bernostalgia dan bersenda gurau, kami menunggu sang empunya rumah alias Kang Wawan tiba. Katanya ia sedang memancing ikan di sungai. Jadi kami putuskan untuk bersitirahat. Tapi ya namanya juga anak kota yang tidak bisa diam, kami beralih ke belakang rumah. Di sana ada kandang kambing. Kami ikut memberi makan bersama Ibunya Kang Wawan dan juga ditemani oleh si kecil Rendi. Kambing di sana jumlahnya 5 ekor. Sempat iseng menamai mereka Aci, Aji, Septy, Rachmat, Gari karena jumlahnya pas dengan kami hehe maapkeun. Selain itu, kami juga "membantu" omnya Rendi memetik buah kelapa yang ada di sana. Semacam ada pertunjukkan menarik, satu tandan kelapa jatuh terhempas ke tanah lalu buyar semua. wuussshhh!!!
Magrib menjelang, akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang. Setelah bersalam-salam sapa, kami mengobrol mengenai maksud kedatangan kami ke Nangerang kepada Kang Wawan. Ya, tahun ini kami ingin mengajak anak-anak MI Mathlalul Anwar Nangerang untuk memperingati Hari Pramuka dan Hari Kemerdekaan. Untuk hari Pramuka kami hanya ingin mengajarkan anak-anak tentang sandi Smapore. Sedangkan untuk Hari Kemerdekaan, kami ingin mengajak anak-anak ikut beberapa perlombaan. Perlombaan yang akan kami adakan adalah :
1. Lomba Balap Kelereng
2. Lomba Makan Kerupuk
3. Lomba Memasukkan Paku ke Dalam Botol
4. Lomba Estafet Bendera
5. Lomba Tebak Gambar
Selain untuk anak-anak, kami juga mengadakan lomba untuk para remaja dan bapak-bapak Nangerang, yaitu kejuaraan futsal. Kami menyebutnya Nangerang Champion #Eaaaa
Setelah diskusi selesai kami segera beristirahat ke rumah masing-masing. Untuk wanita tidurnya tidak di "basecamp", melainkan di rumah Orang tua Kang Wawan yang terletak di samping "basecamp". Entah karena sudah sangat lelah karena perjalanan seharian atau apa, saya pribadi langsung terlelap ketika kepala menyentuh bantal. Hehehe
******
Sabtu, 15 Agustus 2015
Bulan berganti dengan matahari yang masih malu untuk menampakkan cahayanya di kala subuh. Suara alarm handphone berganti dengan suara Septy yang setengah parau "Gar, subuh gar". "Ci subuh Ci". Untuk beberapa detik setelah membuka mata, saya masih berharap terbangun dengan pemandangan utama sebuah poster bertuliskan "Jaga Hati Gapai Ridho Ilahi" di dinding kamar seperti biasanya. Tapi sedetik kemudian saya sadar ini bukan kamar saya. Bahkan kali ini dsertai dengan udara dingin yang cukup menusuk ke tulang. Setelah mengumpulkan kesadaran, kami segera bergantian untuk mengambil wudhu dan menuju surau untuk sholat berjamaah bersama dengan yang pria juga. Satu tahun lalu, saya sangat merindukan suasana subuh di tempat ini. Dan hari ini, suasana itu kembali.
Matahari semakin meninggi, sinarnya sudah menerangi desa ini dengan segala kehangatannya. Badan masih terasa pegal dan sakit, tapi beranjak dengan cepat ketika dikabari untuk segera sarapan. Hehehe. Suasana sarapan yang lebih banyak ketawanya daripada makannya. Eh makannya juga banyak deng :p Walau makanan yang terhidang sederhana, tapi rasanya mewah. Kami semua selalu memakannya hingga habis, bahkan beberapa di antara kami sering ada yang nambah (siapa tuh?? hehehe).
Kegiatan kami hari ini tidak terlalu padat, karena hanya akan mengajak anak-anak MI untuk belajar sandi Smapore. Pukul 8 pagi kami berangkat ke MI dengan berjalan kaki (ya karena kami hanya bisa jalan kaki setiap harinya). Untunglah perjalanan melelahkan menuju MI tidak terlalu melelahkan karena ditemani orang-orang yang kotak tertawanya tidak pernah rusak. :p
Dan sebelum berangkat, kami berfoto dulu di depan rumah yang terlihat seperti pelaminan itu wkwk. Ya anggap saja ini foto ootd yaaa... Atau lebih tepatnya kami mah tidak pernah bosan untuk berfoto di manapun dan kapanpun.
Kegiatan kami hari ini tidak terlalu padat, karena hanya akan mengajak anak-anak MI untuk belajar sandi Smapore. Pukul 8 pagi kami berangkat ke MI dengan berjalan kaki (ya karena kami hanya bisa jalan kaki setiap harinya). Untunglah perjalanan melelahkan menuju MI tidak terlalu melelahkan karena ditemani orang-orang yang kotak tertawanya tidak pernah rusak. :p
Dan sebelum berangkat, kami berfoto dulu di depan rumah yang terlihat seperti pelaminan itu wkwk. Ya anggap saja ini foto ootd yaaa... Atau lebih tepatnya kami mah tidak pernah bosan untuk berfoto di manapun dan kapanpun.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami akhirnya tiba di MI Mathlaul Anwar, Nangerang. Oiya kami mengambil jalan pintas berupa bukit menanjak. Hmm suasananya seperti mendaki semeru, ke atas sedikit ada pepohonan menyerupai hutan mati di Papandayan. Hahah coba tebak ada di mana kami? Sayangnya tempat itu tidak ada di foto, hanya ada di video. Ya bayangkan saja jalur pendakian semeru dan hutan mati papandayan :p
Saat kami tiba di sana, kegiatan belajar -mengajar masih berlangsung. Jadi kami duduk dulu di sebuah warung di dekat MI. Kami memesan kopi dan beberapa jajanan. Beberapa menit kemudian kami pun dipersilahkan masuk ke kelas. Anak-anak begitu antusias melihat kedatangan kami walaupun kami masuk dengan masih malu-malu. Tanpa basa basi terlalu lama, kami segera mulai mengajak anak-anak belajar Sandi Smapore dipimpin oleh Septy. Mereka terlihat antusias ketika melihat bendera smapore warna merah kuning yang kami tunjukkan. Saat belajar sandi smapore pun mereka senang dan mengikuti arahan Septy dengan cukup baik. Selain sandi smapore, kami pun mengajak anak-anak latihan bernyanyi lagu wajib nasional. Suara mereka masih sama seperti tahun lalu, tidak karuan. Tapi justru itulah yang membuat terharu. Bukan pentingnya suara bagus yang menjadikan sebuah lagu nasional terasa dijiwa, melainkan siapa subjek yang menyanyikannya. Ya, karena mereka yang menyanyikannya, lagu ini terdengar memiliki jiwa dari anak-anak yang tinggal jauh dari pusat ibukota, tapi masih berusaha untuk mengingat lagu wajib nasional Bangsa Indonesia. Akhirnya, acara hari ini pun berakhir setelah anak-anak puas membuat bendera smapore mereka sendiri.
Hari masih siang, kami beristirahat sejenak di MI setelah puas bermain sambil belajar serta membersihkan MI. Lalu kami segera kembali ke "basecamp" di gejrog. Sebelum kembali, kami mampir terlebih dulu ke rumah Teh Mimin. Tahun 2013 silam, saya beserta teman Desa Inspiratif MIPA yang lain menginap di rumah Teh Mimin. Dulu kami sangat nyaman di sana. Rasanya bukan seperti dengan orang lain, tapi seperti dengan keluarga sendiri. Keluarga Teh Mimin selalu menyambut kami dengan baik di sana. Hari itu kami masuk lagi ke rumah yang kondisinya tidak banyak berubah. Satu sisi yang membuat tersenyum terharu. Foto-foto kami ketika Desa Inspiratif MIPA 2013 terpajang rapi di dinding rumah Teh Mimin. Ya Allah tak terasa foto itu sudah dua tahun terpajang di sana. Wajah-wajah unyu berhiaskan jaket kuning yang terpasang pas di badan. Bangga, terharu bercampur menjadi satu. Alhamdulillah kehadiran kami membawa kenangan sedalam itu untuk keluarga Teh Mimin. Terima kasih :)
Seperti biasa selama di perjalanan kami selalu bersenda gurau. Walau terlihat lelah, sebenarnya baterai kami tidak pernah habis. Buktinya setelah sampai di "basecamp", kami tidak langsung istirahat, melainkan malah bermain kelereng. Padahal di perjalanan kami sudah merencanakan siang ini adalah gabut day. Tapi ya mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Kelereng sudah menggelinding di tanah. Aji dan Rachmat sudah seru saling sentil. wkwk. Jadilah kami main dengan bermodal ingatan zaman kecil. Sebut saja Aji yang sering kalah dengan alasan udah gak seluwes dulu. Atau Rachmat yang selalu menang karena dulunya jagoan kelereng. Ya kami mah apa atuh para wanita cantik yang kalah mulu dari dulu sampe sekarang. heheheu. Sayangnya momen ini tidak sempat diabadikan oleh kamera. Ya jika ada fotonya saya juga males upload kali ya karena saya tidak pernah menang :p
Sedang asyik bermain kelereng, tiba-tiba Kang Wawan dan Kang Rusdi datang. Mereka mengajak kami untuk pergi ke Rahong katanya. Hmm sebut saja itu sebuah sungai. Satu dua tiga, kami pun tidak menolak. Kami segera merapikan kelereng-kelereng unyu itu. JJS alias Jalan-Jalan Sore pun dimulai, masih dengan senda gurau di sepanjang perjalanan. Dalam perjalanan ke Rahong, kami melewati pemukiman Baduy Luar. And you know what siapa orang yang paling bahagia ketika tiba di tempat ini?? Yap Septy Maudy Ayunda. hehehe Akhirnya setelah sekin lama, cita-citamu terwujud juga nak. Mama bangga :')
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang diselingi dengan makan buah jagoan neon, akhirnya kami tiba di Rahong. Hmm bak anak kucing keluar dari kandang, kami segera "berhamburan" menuju sungai. Lepas sepatu, naik-naik batu, foto-foto. Ya begitulah. Norak-norak unyu gitu.
Sudah empat kali ke Nangerang, baru kali ini saya bisa menyempatkan diri untuk ke Rahong. Senang sekali rasanya bisa menemukan sungai. Puas bermain dan berfoto, akhirnya kami pulang karena kami juga teringat dengan Zee yang sedang dalam perjalanan menuju Nangerang dari Depok menyusul kami. Niat awalnya ingin menjemput Zee, tapi Allah berkata lain. Zee sudah sampai di depan pintu "basecamp" ketika kami sedang membicarakan bagaimana cara menjemputnya. Alhamdulillah. Saya pernah menonton sebuah film, di sana dikatakan "Orang baik selalu datang saat kita sedang membicarakan atau mengkhawatirkan keadaannya". (Btw itu di film Elif :p). Alhamdulillah Zee memang orang baik. Insya Allah. Buktinya hujan pun menunggumu untuk masuk ke rumah sebelum ia turun dengan derasnya, Zee :')
Saat Zee sampai, rasanya Zee seperti masuk dunia yang asing. Karena kami berlima sudah membuat dua kubu yang saling "bersiteru". Sebut saja kubu Aji dan kubu Anggari. Jangan tanya siapa saja anggota kubu Aji, karena kami semua kompak lebih sering menggoda (baca: bully) Aji daripada membela Aji. Tapi perlahan Zee mulai mengerti kegilaan apa yang sedang terjadi di sini, akhirnya Zee memilih kubu Anggari heheheheu. Maafkan kami Aji. :p Tapi percayalah. Justru kegilaan itu yang kini membuat saya semakin merindukan kalian. Merindukan segala suasana bercanda yang tercipta di sana. Saya dan kalian membuat setiap kata penuh makna dan menciptakan senyum.
Usai makan malam, kami segera membereskan segala keperluan untuk acara perlombaan hari kemerdekaan besok. Kado-kado yang sejak pagi menunggu untuk dibungkus, akhirnya dibungkus juga. Omong-omong, ada cerita lucu dibalik bungkus kado ini. Jadi, kurang lebih ceritanya begini. Maaf kalau redaksinya ada yang salah. Lupa percakapan persisnya bagaimana.
Suatu pagi yang cerah seorang pria masuk ke "basecamp". Dengan santainya ia bertanya, "Bungkus kado kapan?". Sontak seisi ruangan hening (seperti biasa). Tapi seorang wanita marah "Ih kan ntar malem bungkusnya. Gimana si? Kan semalem udah dirapatin? Ga dengerin ya?". Hahaha sudahlah. Momen itu tidak cocok untuk ditulis. Ada sih videonya? Tapi yakin mau di share? Saya sih ga mau wkwkwk Duh senyum-senyum sendiri deh kalau ingat bagian yang itu. Baiklah saya share kondisi bungkus kado aja yah.
Dear Septy, saya percaya kok itu piala. Jangan sedih lagi yah :)
Minggu, 16 Agustus 2015
Akhirnya! Acara utama pun datang! Lomba dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia! Yeay!
Kami berangkat pukul 8 pagi dan kali ini diawali dengan doa bersama agar acara kami lancar dan bisa membuat anak-anak senang. Bawaan kami hari ini cukup banyak sehingga kami memutuskan untuk membawanya dengan carrier. Ya you know lah siapa yang menjadi korban untuk membawa tas super berat berisi Re*l good itu :p
Ketika kami tiba di sana, kami langsung disambut oleh anak-anak yang sudah tidak sabar mengikuti lomba. Daaaaaan tanpa perlu berpanjang lebar, lomba pun dimulai.
Suasana briefing lomba oleh Septy
Suasana pendaftaran lomba
Wajah-wajah unyu kita :p
Narsis dulu yuk kakaaak
Ayo makan kerupuknya dek.... Kalo ga, nanti diculik sama kakak baju ijo putih itu :p
Eaa eaaa eaaaaaa
Dan yang di bawah ini, wajah-wajah jagoan Nangerang yang sempat tertangkap kamera. Hmm sungguh wajah yang kami rindukan.
Dan yang ini nih yang seru. Pemuda Nangerang yang bersemangat mengikuti kejuaraan futsal Nangerang Champion. Saking semangatnya, udah berapa bola yang dirusakin Kang? Heheheu
Bukan lomba namanya jika tidak ada yang menang dan kalah. Buat yang menang, selamat yah. Buat yang kalah, semangat terus. Dan terima kasih sudah turut berpartisipasi. Acara kami bukan apa-apa tanpa kalian :)
Selamat Vilar FC sebagai pemenang Nangerang Champion. Yeay!!! Buat akang-akang yang belum menang, tetep semangat yaah. Makasih udah ikut meramaikan. Seru seru seruuu :)
Acara berakhir larut siang sekali. Lelah, bahagia, kucel, puas, semua rasa itu campur aduk menjadi satu. Saya senang acara ini bisa berjalan lancar walau dengan segala kekurangan di sana-sini, tapi semuanya alhamdulillah bisa diatasi. Terima kasih kepada semua peserta, semoga apa yang kami berikan walaupun tidak seberapa, bisa membuat hati senang dan gembira. Aamiin
Hari ini belum berakhir kawan! Malam harinya kami diajak ikut upacara Api Unggun oleh Kang Wawan. Jadi, ternyata setiap tahunnya anak-anak MI Mathlaul Anwar selalu melakukan upacara Api Unggun setiap malam hari kemerdekaan. Seru yah :) Upacara malam ini berlangsung cukup lancar walau sempat disambut gerimis sebentar. Dari awal hingga akhir, anak-anak begitu bersemangat. Setelah upacara selesai, mereka bergegas tidur di MI. Ya, malam ini anak-anak menginap di MI untuk kemudian besok pagi akan melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 70.
*********
Senin, 17 Agustus 2015
Sebenarnya sedikit sedih ketika menulis bagian ini. Karena itu artinya ini adalah hari terakhir kami di Nangerang. Ingin rasanya menambah satu hari lagi, tapi kami tidak boleh lupa dengan segala urusan yang telah menanti kami di Depok. Segala urusan yang selama ini sempat terlupakan. Dan hanya sedikit baper ketika mendapat asupan signal dan ratusan chat Whatsapp seketika masuk meramaikan kasana perhapean (loh?). Entahlah, dilema itu mudah sekali muncul di saat-saat seperti ini. Di satu sisi belum mau pulang, tapi di sisi lain harus segera pulang karena banyak hal menanti di Depok. Huft baiklah. Mengapa jadi melow drama begini?
Baiklah, kembali ke hari yang paling menyenangkan sepanjang sejarah. Yak Upacara Bendera! Lalalala sudah tiga tahun saya tidak pernah upacara bendera lagi. Saat sekolah selalu mengeluh jika hari senin harus upacara, tapi ketika kuliah rasa rindu itu menerjang bak ombak di lautan. Dan hari ini, kerinduan itu terbayar sudah. Upacara Bendera Merah Putih di Langit Nangerang!!! :)
Pagi ini kami merapikan "basecamp" agar kembali rapi dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Tak apalah jika kenangan yang tertinggal, tapi jika barang kami yang tertinggal akan sangat merepotkan. :p
Sebelum berangkat ke MI, kami berpamitan dengan ayah dan ibunya Kang Wawan yang selama 4 hari ini sudah sangat ramah menyambut kehadiran kami. Ibunya Kang Wawan selalu siap dengan makanannya di saat pagi, siang, dan malam. Makanan yang sederhana tapi mewah lezatnya. Membuat jiwa yang lapar menjadi kenyang hehehe. Terima kasih ibu :)
Dan inilah momen yang paling membanggakan. Berdiri di tengah barisan menyaksikan Bendera Merah Putih berkibar di Langit Nangerang :)
Dear Indonesia,
Usiamu semakin tua, yakni menginjak kepala 7. Harusnya dirimu lebih dewasa dari usia sebelumnya. Dirimu memang tumbuh menjadi bangsa yang kuat dengan segala aspek pembangunan yang semakin ditingkatkan. Aku berbangga. Tapi ketidakmerataan ini membuatku sedih.
Anak-anak di pelosok negeri ini masih gigih menyebutkan namamu. Mereka masih mau mengingat lagu kebangsaanmu.
"Kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia"
"Kita tetap setia, tetap sedia membela negara kita"
Mungkin nyanyian mereka itu takkan terdengar sampai ke pusat kota sana karena mereka berada berkilo-kilometer jauhnya dari hingar bingar perkotaan. Tapi percayalah, kesetiaan mereka bukan untuk diabaikan.
Indonesia, dirimu mendapat salam dari Langit Nangerang, Lebak, Banten!
**********
Ending.......
Pernah ada suatu permainan dalam sebuah acara keagamaan di kampus. Dalam permainan itu, setiap orang harus membayangkan bahwa dirinya akan meninggal esok hari, lalu pikirkan apa saja yang akan kita katakan jika hal itu benar-benar terjadi. Mau main sebentar? Mulai dari saya ya. Salah satu kalimat yang akan terselip di kata-kata terakhir saya, mungkin ini:
"Jika saya meninggal esok hari, tolong sampaikan kepada semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini bahwa saya bahagia pernah menjadi bagian dari kisah mereka"
Masih berharap tahun depan bisa kembali lagi di sini dengan cerita baru yang lebih menyenangkan.
Masih berharap kebahagiaan ini bisa terulang dengan format yang berbeda.
Masih berharap bisa kembali ke sini untuk mengambil segala kenangan yang tertinggal.
Pada akhirnya,
Terima kasih kepada Allah SWT. yang telah melancarkan segala kegiatan kami selama di Nangerang.
Terima kasih Nangerang Fighters yang telah berjuang menuju satu tujuan yang sama-sama kita rindukan. Jangan pernah bosan untuk berbagi. Semoga kita bisa menjadi suatu keluarga yang dipersatukan oleh Allah untuk selalu berbagi terhadap sesama.
Terima kasih kepada warga Nangerang yang telah membantu lancarnya kegiatan ini. Kang Wawan dan rekan-rekan, terima kasih sudah bersedia kami repotkan. Ibunya kang wawan terima kasih atas makanannya. Ibu Sekdes yang memberikan kami pencerahan untuk tumpangan pulang, terima kasih banyak. Dan seluruhnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu namun insya Allah tidak mengurani rasa terima kasih saya.
Saya selaku ketua pelaksana (#eaaaa) memohon maaf jika ada salah-salah kata dan tindakan.
Maafkan aku~~~~~~~~~
"Terima kasih untuk kenangannya"
-Redrose-
Watching on Youtube!
Langganan:
Postingan (Atom)


















































